Akhir-akhir ini, Indonesia tengah diwarnai oleh berbagai isu dan konflik.
Banyak gelombang protes yang terjadi di berbagai tempat, diiringi kerusuhan dan jatuhnya korban yang menyisakan luka mendalam.
Akan tetapi, masalah terus saja bermunculan di tengah semua itu.
Masyarakat tentunya tidak bisa terus menerus turun ke jalan dan berhadapan dengan kekerasan karena yang masyarakat inginkan bukanlah kerusuhan.
Namun di sisi lain, mereka mengharapkan agar suaranya selalu didengar.
Lalu, muncullah pendekatan baru dengan cara yang lebih aman dan damai agar bisa menyuarakan pendapat tanpa perlu berteriak di jalan sepanjang hari, berminggu-minggu.
Baca Juga: Dari Panggung ke Layar: Seni Tari, Komunikasi, dan Viralnya Budaya di Era Digital
Ekspresi simbolik merupakan sebuah bentuk yang menunjukan “diam” bisa menjadi bahasa perlawanan.
Ekspresi simbolik ini sering kita temui di media sosial dengan berbagai bentuk mulai dari warna spesifik, tagar bermakna tertentu hingga unggahan gambar.
Contohnya, seperti brave pink and hero green, Indonesia gelap, #kaburajadulu dan terakhir yang viral hingga mendunia adalah terbentangnya bendera One Piece menjelang hari kemerdekaan Indonesia pada tahun ini yang menyuarakan keresahan publik terhadap kondisi dan isu yang ada.
Hal ini menjadi salah satu pilihan juga selain menggunakan cara formal, seperti melakukan demonstrasi di jalanan atau dialog politik, karena efektivitasnya simbol ini bisa menjangkau banyak orang melalui sosial media dan akan terus dilihat massa.
Selain itu, makna simbol ini pun menjadi bahasa yang baru untuk menyuarakan pendapat dengan lebih damai dan halus.
Perlu kita ketahui tidak semua orang mempunyai kesempatan atau keberanian untuk ikut turun ke jalan dan berorasi.
Berbagai faktor, seperti pekerjaan, jarak atau rasa takut akan kekerasan yang mungkin terjadi pada saat turun ke jalan bisa menjadi penghambat.
Baca Juga: Menaikkan Tunjangan DPR Mempersulit Ekonomi Masyarakat
Oleh karena itulah gerakan simbolik ini merupakan cara alternatif untuk tetap bersuara dimanapun dan kapan pun.
Mengganti foto profil dengan warna tertentu atau menyebarkan hastag menjadikan bentuk protes lebih aman dan damai namun tak kalah bermakna.
Dengan begitu suara publik yang ingin didengar tidak lagi hanya dibatasi dengan melakukan dialog politik atau demonstrasi turun ke jalan, namun dapat menyebarluaskan melalui dunia digital dan media sosial sehari-hari.
Tersebarnya foto profil warna campuran pink dan hijau yang secara tidak langsung menjadi pembangkit kesadaran masyarakat umum.
Selalu munculnya warna tersebut di media sosial maka masyarakat akan secara otomatis tersadarkan oleh isu sosial yang sedang terjadi.
Tanpa perlu adanya seruan atau teriakan bentuk simbolik yang beredar di mana-mana tidak akan bisa diabaikan begitu saja.
Baca Juga: Kalah Tipis dari Irak, tapi Semangat Suporter Indonesia Tak Pernah Luntur
Selain itu juga, gerakan simbolik ini akan mengundang rasa kepo atau keingintahuan masyarakat untuk mencari tahu karena viralnya simbol tersebut dan banyak yang membicarakan sehingga akan semakin banyak masyarakat yang paham isu-isu yang terjadi.
Hal yang menarik adalah bentuk protes ini juga menjangkau individu-individu yang tidak menyukai demonstrasi yang dilakukan di jalan.
Adanya pendekatan damai ini segala individu akan berpikir dengan lebih terbuka karena bisa diterima oleh semua khalayak.
Selain itu, gerakan simbolik merupakan bukti bahwa dimana suatu perubahan bisa kita dapatkan juga dari tindakan kecil yang konsisten.
Tindakan kecil itulah yang bisa menjadi senjata bagi orang-orang yang tidak punya kuasa sebagai usaha terakhir untuk selalu didengar dan tetap menciptakan kedamaian bagi semua orang.
Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “In a gentle way, you can shake the world.” Demikian, gerakan yang paling lembut pun tetap bisa bergema.
Penulis: Naurah Rizky Fath Azizah
Mahasiswa Prodi Hukum, Universitas Brawijaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












