Diburu dan Dianggap Hama: Nasib Malang Gajah di Indonesia

habitat gajah di indonesia
Diburu dan Dianggap Hama: Nasib Malang Gajah di Indonesia. Sumber: MMI.

Terdapat dua jenis gajah yang masih hidup di Indonesia hingga saat ini, mereka adalah gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) dan gajah borneo (Elephas maximus borneensis).

Sebagai hewan endemik Indonesia, gajah dikenal dengan kecerdasan dan jangkauan jelajah yang luas. Sayangnya, populasi mereka terus menurun dan kini berada dalam ancaman yang serius.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Diketahui dari data IUCN, dua sub-spesies gajah ini mengalami penurunan populasi, khususnya gajah sumatra yang saat ini berstatus critically endangered dan diperkirakan telah mengalami penurunan populasi hingga 50% antara tahun 1985-2007.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti konflik manusia-gajah: alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pertambangan, dan permukiman.

Penurunan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan tanda bahwa kita sedang gagal menjaga salah satu kekayaan hayati di negeri ini.

Gajah adalah hewan teritorial yang hidup berkelompok, tak hanya itu, gajah juga memiliki ingatan yang kuat. Habitat yang terus berkurang akan mengancam keberlanjutan hidup dan lingkungannya, termasuk keamanan manusia di sekitar tempat tinggal gajah.

Baca Juga: Hutan Hilang, Banjir Bandang Datang: Luka Manusia dan Gajah di Sumatra

Dewasa ini sudah banyak lahan tinggal gajah yang beralih fungsi menjadi perkebunan dan permukiman warga. Sedangkan cara hidup gajah tidak berubah, tetap berpegang pada insting alamiahnya untuk mencari makan dan bertahan hidup. Ketika hutan berubah menjadi kebun sawit atau ladang, gajah kehilangan ruang hidupnya.

Akibatnya, konflik antara manusia dan gajah pun tidak terhindarkan. Gajah yang memasuki lahan warga perlahan dianggap sebagai hama dan ancaman. Menyebut mereka hama adalah bentuk penyederhanaan masalah dengan menutup mata terhadap akar persoalan yang sesungguhnya.

Padahal, gajah hanya berusaha bertahan hidup di wilayah yang dulunya adalah rumah mereka. Dalam banyak kasus, konflik ini berujung pada kematian para gajah liar karena diracun, dijerat, maupun dibunuh secara ilegal.

Selain kehilangan habitat, perburuan gading juga menjadi ancaman nyata. Meskipun hukum telah melarang perburuan satwa dilindungi, praktik ilegal masih terjadi.

Nilai ekonomi gading di pasar gelap membuat gajah terus menjadi target. Ironisnya, kerakusan manusia sering kali lebih kuat daripada rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam.

Di tengah perdebatan antara nilai ekonomis tinggi dengan kelestarian alam, sebagian orang mungkin bertanya, mengapa kita harus peduli pada gajah?

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Hutan Lindung di Sumatra Menjadi Kebun Sawit

Jawabannya sederhana: gajah adalah keystone species. Mereka tidak hanya membantu menyebarkan biji-bijian, melainkan juga membuka jalur hutan yang bisa dimanfaatkan satwa lain, serta menjaga struktur vegetasi tetap seimbang.

Mengabaikan peran mereka berarti kita dengan sadar meruntuhkan keseimbangan yang menopang kehidupan kita sendiri. Tanpa gajah, ekosistem hutan akan terganggu, dan pada akhirnya manusia juga yang merasakan dampaknya.

Di samping itu, gajah adalah bagian dari identitas alam Indonesia. Jika kita membiarkan mereka punah, kita bukan hanya kehilangan satu spesies, tetapi juga kehilangan warisan alam untuk generasi mendatang.

Upaya konservasi memang sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Namun, upaya ini tidak akan cukup tanpa dukungan masyarakat luas. Melindungi gajah berarti melindungi hutan.

Melindungi hutan berarti melindungi masa depan kita sendiri. Kepedulian terhadap gajah bukan lagi pilihan moral yang bisa ditunda, melainkan tanggung jawab yang harus segera diwujudkan.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah ancaman itu nyata, melainkan: apakah kita bersedia mengambil peran untuk mempertahankan mereka?


Penulis: Fatihah Nur Aini
Mahasiswa Akuntansi Terapan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Dosen Pengampu: Cucu Sutrisno


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses