Pada zaman sekarang, kita hidup dalam arus informasi yang sangat cepat tersebar dan mudah diakses, terutama melalui media sosial yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai pemahaman beredar luas di media sosial, termasuk dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap kesuksesan, masa depan, serta bagaimana mengambil keputusan dalam hidupnya. Mayoritas individu terdorong oleh banyaknya narasi motivasi yang menekankan pencapaian kesuksesan.
Banyak orang termotivasi untuk bermimpi besar—menjadi sukses, kaya, dan mencapai pencapaian tinggi—yang pada dasarnya dapat memicu semangat dan dorongan untuk berkembang. Namun, di balik itu, tidak sedikit yang menginginkan hasil instan dalam waktu singkat. Padahal, merancang masa depan tidak cukup hanya dengan mimpi, tetapi juga memerlukan usaha yang konsisten serta cara berpikir yang rasional dan terukur.
Dalam kajian ilmiah, logika dan rasionalitas menjadi fondasi penting dalam proses berpikir yang benar. Logika membantu seseorang menyusun pemikiran secara sistematis serta menghindari kesalahan dalam menarik kesimpulan (Nurhadi et al., 2023).
Selain itu, kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan agar individu mampu mengambil keputusan secara tepat, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang tidak pasti (Puling, 2024). Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam bias berpikir, seperti optimisme berlebihan dan overconfidence, sehingga cenderung mengabaikan risiko yang sebenarnya ada (Schmidt, 2019).
Kondisi ini berkaitan dengan cara individu memandang masa depan. Tidak sedikit orang memiliki harapan tinggi, tetapi tidak diiringi dengan kesiapan menghadapi kemungkinan kegagalan. Akibatnya, rencana yang disusun sering kali terlihat meyakinkan di awal, tetapi menjadi rapuh seiring berjalannya waktu ketika dihadapkan pada realitas yang sebenarnya. Ketidaksiapan ini membuat individu kesulitan beradaptasi terhadap hambatan yang muncul, sehingga tujuan yang telah dirancang tidak dapat dicapai secara optimal.
Dalam kondisi tersebut, kegagalan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya usaha, tetapi juga karena lemahnya perencanaan yang tidak mempertimbangkan berbagai kemungkinan risiko sejak awal. Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi keputusan dan menghadapi tantangan secara realistis (Mutmainnah, 2025).
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak individu lebih terpacu pada hasil akhir dibandingkan proses yang harus dilalui. Narasi seperti “berani bermimpi besar” atau “sukses di usia muda” terus disebarluaskan, namun jarang diiringi dengan pembahasan mengenai pengelolaan risiko, kegagalan, serta strategi yang realistis.
Hal ini mengakibatkan munculnya ekspektasi tinggi tanpa perencanaan yang matang. Dalam kondisi tersebut, ambisi sering kali berjalan tanpa arah yang jelas karena tidak didasarkan pada analisis rasional dan perhitungan risiko yang memadai. Akibatnya, keputusan yang diambil cenderung bersifat impulsif, tidak terstruktur, dan berpotensi menimbulkan kegagalan.
Secara ilmiah, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui kecenderungan bias kognitif dalam pengambilan keputusan. Manusia pada dasarnya tidak selalu rasional, melainkan sering dipengaruhi oleh persepsi subjektif, seperti optimisme berlebihan dan overconfidence. Bias ini dapat membuat seseorang meremehkan risiko dan melebihkan peluang keberhasilan, sehingga keputusan yang diambil menjadi kurang akurat (Schmidt, 2019; Sinander, 2025).
Selain itu, lemahnya penerapan logika dalam berpikir juga berkontribusi terhadap munculnya perencanaan yang tidak realistis. Logika ilmiah seharusnya mendorong seseorang untuk berpikir secara sistematis, mempertimbangkan sebab-akibat, serta mengevaluasi berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan (Nurhadi et al., 2023; Andaryanto, 2024). Namun, dalam praktiknya, banyak individu lebih mengandalkan motivasi sesaat dibandingkan analisis yang mendalam. Kondisi ini menunjukkan bahwa semangat tanpa arah yang jelas dapat menjerumuskan seseorang pada keputusan yang kurang tepat dan tidak berkelanjutan.
Fenomena ini juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosial, terutama media digital yang lebih sering menampilkan hasil akhir dibandingkan proses, sehingga terlihat instan. Hal ini membentuk persepsi yang kurang realistis terhadap kesuksesan, sehingga individu cenderung mengambil keputusan berdasarkan dorongan emosional.
Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, individu sering mengalami kekecewaan dan kehilangan arah. Bahkan, paparan konten yang terus-menerus menonjolkan keberhasilan tanpa memperlihatkan proses dapat memperkuat pola pikir instan dan mengurangi kemampuan individu dalam menghadapi tantangan secara rasional.
Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan antara ambisi dan rasionalitas. Mimpi tetap penting sebagai arah, tetapi harus diiringi dengan kemampuan berpikir kritis, analisis risiko, serta perencanaan yang matang. Dengan demikian, masa depan tidak hanya dibangun di atas harapan, tetapi juga berdasarkan pertimbangan yang logis dan realistis. Individu perlu membiasakan diri untuk mengevaluasi setiap langkah yang diambil, termasuk memahami keterbatasan diri dan kondisi yang akan dihadapi, agar keputusan yang diambil menjadi lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, rencana rasional bukan untuk membatasi mimpi, melainkan memastikan bahwa mimpi tersebut memiliki pijakan yang kuat. Masa depan yang benar-benar dapat diwujudkan adalah masa depan yang dirancang tidak hanya dengan semangat, tetapi juga dengan logika.
Dengan mengintegrasikan ambisi dan rasionalitas, individu tidak hanya mampu bermimpi lebih besar, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mewujudkannya secara nyata dan berkelanjutan. Tanpa perhitungan yang matang, mimpi hanya akan menjadi angan-angan; namun dengan logika yang kuat, mimpi dapat berubah menjadi rencana yang dapat diwujudkan. Oleh karena itu, masa depan bukan milik mereka yang sekadar bermimpi besar, melainkan milik mereka yang mampu menyeimbangkan antara harapan dan perhitungan secara bijak.
Penulis: Basya Putra Pasosong (255120307111037)
Mahasiswa Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
Daftar Pustaka
Nurhadi, A., Amartha, A., & Wardoyo, S. (2023). Logika dan rasionalitas dalam ilmu. Jurnal Ilmu Teknologi Informasi dan Manajemen, 3(2), 45–53. https://ejournal.sembilanpemuda.id/index.php/jitim/article/download/970/865
Puling, H. (2024). Logika dan berpikir kritis dalam pengambilan keputusan. Jurnal Sinar Kasih, 2(1), 10–18. https://jurnal.sttarastamarngabang.ac.id/index.php/sinarkasih/article/download/319/299
Andaryanto, A. (2024). Prinsip dan peran logika sebagai dasar penalaran ilmiah. Jurnal Dewantara, 4(1), 22–30. https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Dewantara/article/download/3524/3166
Mesah, W. (2024). Memahami logika berpikir sebagai landasan argumentasi. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama, 5(1), 33–41. https://ejurnal.stpkat.ac.id/index.php/jutipa/article/download/330/371
Mutmainnah, N. (2025). Kajian kemampuan berpikir kritis. Jurnal Filsafat Indonesia, 8(1), 1–9. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JFI/article/download/42092/22276
Schmidt, A. T. (2019). Behavioral biases and rationality. Journal of Political Economy. https://doi.org/10.1086/702970
Sinander, L. (2025). Optimism, overconfidence, and decision making. Journal of Political Economy. https://doi.org/10.1086/733782
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












