Tradisi lokal pada umumnya dipandang sebagai bentuk dari ekspresi simbolik tanpa adanya dampak nyata. Praktik-praktik adat yang berkembang di tengah masyarakat Desa Kemiren justru menjalankan fungsi yang jauh lebih substantif, yakni sebagai wahana transmisi nilai-nilai kehidupan yang konkret dan terus hidup dari generasi ke generasi. Di antara sekian banyak praktik yang ada, tradisi mepeh kasur (aktivitas menjemur kasur secara kolektif) menempati posisi yang sangat sentral dalam rangkaian upacara adat Tumpeng Sewu dan Ider Bumi.
Berdasarkan data wawancara yang diperoleh di lapangan, pelaksanaan mepeh kasur dimulai pada pagi hari sebagai penanda pembuka rangkaian Tumpeng Sewu. Kasur-kasur berwarna merah dan hitam yang khas dijemur secara bersamaan di depan rumah masing-masing warga, kemudian dimasukkan kembali menjelang pukul tiga sore sebagai bagian dari persiapan prosesi berikutnya. Secara kasat mata, kegiatan ini memang tampak sederhana, tidak lebih dari sekadar menjemur perlengkapan rumah tangga biasa. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya tersebut, tersimpan sistem nilai yang sarat muatan filosofis.
Kasur yang digunakan dalam tradisi ini bukanlah kasur sembarangan. Melainkan kasur dengan warna hitam dan merah dengan jahitan kotak kotak yang khas, Kedua warnanya masing-masing memikul beban simbolik yang berat, warna hitam merepresentasikan keabadian dan kelanggengan, terutama dalam dimensi kehidupan berumah tangga, sementara merah mencerminkan semangat kerja keras dan keberanian. Perpaduan dua warna ini tidak berhenti pada tataran estetika visual, melainkan mencerminkan sistem nilai yang telah terinternalisasi secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Using di Kemiren.
Dari sudut pandang sosial, tradisi ini menyampaikan pesan yang cukup tegas: kelanggengan sebuah rumah tangga tidak semata-mata ditopang oleh kedekatan emosional, tetapi membutuhkan keberanian dan kerja keras sebagai penopang material kehidupan bersama. Harmoni dalam kehidupan domestik, dengan demikian, dipahami sebagai hasil dari keseimbangan antara cinta, rasa tanggung jawab, dan etos kerja yang kuat. Sebagaimana diungkapkan dalam wawancara, tanpa kerja keras, kekokohan sebuah hubungan dapat perlahan terkikis. Nilai-nilai semacam ini pada akhirnya membentuk semacam “kurikulum kultural” yang diwariskan secara turun-temurun melalui medium simbolik kasur tersebut.
Tradisi kepemilikan kasur merah-hitam ini juga menyimpan dimensi sosial yang tidak bisa diabaikan. Orang tua yang menikahkan anak mereka akan merasa ada yang belum lengkap apabila belum menyerahkan kasur tersebut sebagai bagian dari bekal berumah tangga. Hal ini menegaskan bahwa kasur tidak semata-mata berfungsi sebagai objek material, melainkan juga sebagai penanda legitimasi sosial atas kesiapan seseorang memasuki kehidupan rumah tangga. Tradisi ini turut memperkuat struktur nilai keluarga sekaligus menjaga kesinambungan identitas budaya lokal.
Dalam makna yang lebih luas, mepeh kasur dapat dibaca sebagai bentuk resistensi kultural terhadap arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai lokal. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, masyarakat Kemiren justru memilih untuk mempertahankan, bahkan secara aktif merawat dan mereproduksi, tradisi ini sebagai penanda identitas kolektif mereka melalui ritual tahunan seperti Tumpeng Sewu dan Ider Bumi.
Mepeh kasur jauh melampaui maknanya sebagai aktivitas menjemur kasur belaka. Ia adalah praktik simbolik yang sarat dengan muatan moral, sosial, dan filosofis sekaligus. Tradisi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga, menempatkan kerja keras sebagai fondasi keberlangsungan hubungan, serta memperlihatkan bagaimana kearifan lokal mampu menjadi sumber rujukan dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah. Masyarakat Kemiren tidak sekadar menjemur kasur secara harfiah; mereka sedang “menjemur” nilai-nilai kehidupan itu sendiri, agar tetap hangat, tetap hidup, dan tetap relevan bagi mereka yang akan mewarisinya kelak.
Penulis: Muhammad Indra Yudi Latif
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Andhika Yudha Pratama, S.Pd., M.Sc.
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













