Dolar Naik dan Kepanikan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

kenaikan dolar
Teori Kredibilitas membantu kita memahami mengapa sebuah narasi bisa lebih tepercaya dibanding narasi lainnya. Dalam isu ekonomi yang sensitif seperti fluktuasi nilai tukar, kredibilitas komunikator adalah kunci utama dalam mengarahkan opini publik. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada isu menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Kenaikan dolar tersebut sering menjadi perbincangan hangat di berbagai lini masa media sosial, grup WhatsApp keluarga, hingga pemberitaan media massa utama.

Kondisi ini membuat tidak sedikit masyarakat merasa khawatir. Mereka menganggap bahwa kenaikan dolar akan berdampak langsung pada lonjakan harga kebutuhan pokok, membengkaknya biaya pendidikan, hingga penurunan kondisi ekonomi nasional secara makro.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menariknya, di tengah derasnya arus informasi yang beredar, masyarakat sering kali menerima dan memercayai suatu kabar bukan sekadar karena isi pesannya, melainkan karena siapa sosok yang menyampaikan informasi tersebut. Di sinilah komunikasi interpersonal memainkan peran yang sangat krusial.

Dalam kehidupan sehari-hari, individu secara kontinu bertukar informasi, gagasan, dan pandangan yang kemudian memengaruhi cara mereka memahami suatu peristiwa. Proses komunikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai penyampai data mentah, tetapi juga aktif membentuk sikap, persepsi, dan perilaku seseorang terhadap situasi ekonomi.

Fenomena kenaikan dolar menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan data statistik ekonomi, melainkan juga memerlukan sumber informasi yang dapat dipercaya. Ketika narasi yang beredar di publik saling bertentangan, masyarakat cenderung mencari tokoh atau pihak yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi untuk dijadikan acuan dalam mengambil keputusan.

Dalam Teori Komunikasi Interpersonal, salah satu pendekatan yang sangat relevan untuk menjelaskan fenomena psikologi massa ini adalah Teori Kredibilitas. Teori ini menegaskan bahwa keberhasilan sebuah proses komunikasi sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan audiens terhadap komunikatornya.

Baca Juga: Rahasia Hubungan Interpersonal: Fondasi Kesejahteraan Mental dan Kehidupan Sosial di Era Modern

Aristoteles menyebutkan bahwa kredibilitas dapat dibangun melalui tiga pilar utama: etos, patos, dan logos. Etos berkaitan dengan karakter dan integritas komunikator, patos berkaitan dengan kemampuan menyentuh emosi audiens, sedangkan logos menitikberatkan pada kekuatan logika serta argumentasi yang disampaikan.

Dalam konteks kenaikan nilai tukar dolar, masyarakat menerima paparan informasi dari berbagai sumber, mulai dari rilis resmi pemerintah, analisis ekonom, laporan media massa, hingga ulasan influencer keuangan dan konten kreator di media sosial. Meskipun membahas topik yang sama, respons masyarakat terhadap pesan-pesan tersebut bisa sangat bertolak belakang.

Sebagian kelompok masyarakat lebih memercayai penjelasan ilmiah dari ekonom profesional. Sementara itu, sebagian lainnya justru lebih mudah diyakinkan oleh para influencer yang mereka ikuti setiap hari di media sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas komunikator sering kali menjadi faktor determinan utama yang menentukan apakah suatu pesan akan diterima atau ditolak oleh audiens.

Ketika seorang ekonom menjelaskan bahwa kenaikan dolar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang masih dapat dikendalikan, masyarakat yang memercayai kompetensi dan pengalaman sang ekonom cenderung merasa lebih tenang.

Sebaliknya, jika seseorang yang dianggap tidak memiliki kapasitas memadai di bidang ekonomi menyampaikan informasi serupa, pesan tersebut kemungkinan besar tidak akan mendapatkan perhatian atau justru dinilai meragukan.

Belakangan ini, media sosial juga dipenuhi berbagai unggahan yang mengaitkan kenaikan dolar dengan prediksi krisis ekonomi global yang ekstrem. Beberapa konten bahkan sengaja menggunakan judul yang sensasional dan bombastis demi memicu klik dari publik.

Akibatnya, banyak masyarakat yang langsung merasa panik tanpa terlebih dahulu memeriksa validitas dan kebenaran informasi tersebut. Fenomena ini memperlihatkan betapa besarnya daya komunikasi dalam memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Menurut James C. McCroskey, kredibilitas komunikator dipengaruhi oleh beberapa komponen dasar, seperti kompetensi, sikap, tujuan, dan kepribadian. Kompetensi menunjukkan kapasitas seseorang dalam memahami topik yang sedang dibahas.

Sikap berkaitan dengan karakter yang ditampilkan, sedangkan faktor tujuan mengindikasikan apakah komunikator memiliki niat murni untuk mengedukasi atau justru ingin memperoleh keuntungan oportunistis dari isu yang digulirkan.

Dalam kasus fluktuasi dolar ini, masyarakat sering kali kesulitan membedakan antara informasi yang disebarkan demi tujuan edukasi publik dengan konten yang dibuat semata-mata untuk mendulang keterikatan (engagement). Tidak sedikit akun media sosial yang memanfaatkan kepanikan isu ekonomi untuk meningkatkan jumlah penonton, komentar, atau pengikut.

Dampaknya, informasi yang sebenarnya membutuhkan analisis mendalam dan objektif justru disajikan secara berlebihan (hiperbolis) sehingga memicu kecemasan kolektif.

Teori Kredibilitas juga membagi dimensi kepercayaan ini menjadi tiga bentuk: initial credibility, derived credibility, dan terminal credibility.

Initial credibility merupakan modal kepercayaan yang sudah dimiliki oleh komunikator sebelum proses komunikasi berlangsung. Sebagai contoh, seorang ekonom senior atau pejabat bank sentral biasanya telah memiliki tingkat kepercayaan tertentu di mata publik berkat rekam jejak profesinya.

Selanjutnya terdapat derived credibility, yaitu kredibilitas yang bertumbuh dan berkembang selama proses komunikasi sedang berlangsung. Ketika seorang narasumber mampu mengurai fenomena kenaikan dolar dengan bahasa yang membumi, menyajikan data yang valid, serta menjawab pertanyaan publik secara transparan, maka tingkat kepercayaan masyarakat akan meningkat secara bertahap.

Kemudian, bentuk yang terakhir adalah terminal credibility, yakni kredibilitas akhir yang terbentuk setelah audiens selesai menerima keseluruhan pesan. Jika penjelasan yang diberikan terbukti akurat dan selaras dengan realitas di lapangan, masyarakat akan menaruh kepercayaan yang jauh lebih besar kepada komunikator tersebut pada kesempatan-kesempatan berikutnya.

Studi kasus yang menarik dapat kita amati dari polarisasi perdebatan di media sosial setiap kali nilai tukar rupiah melemah. Sebagian warganet langsung menyimpulkan kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa fundamental ekonomi nasional sedang dalam kondisi kritis.

Di seberang pilihan opini, sejumlah ekonom meluruskan bahwa pergerakan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh multifaktor global, seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), eskalasi geopolitik dunia, dan dinamika arus investasi internasional.

Perbedaan respons tersebut mengonfirmasi bahwa masyarakat sering kali lebih terpengaruh oleh strategi penyampaian pesan ketimbang substansi isi pesannya sendiri. Informasi yang dikemas dengan bahasa sederhana, lugas, dan menyentuh sisi emosional biasanya jauh lebih mudah viral dibandingkan analisis ilmiah yang panjang dan padat istilah teknis. Akibatnya, narasi yang paling banyak dibagikan belum tentu merupakan informasi yang paling akurat secara teoretis.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti ini, komunikasi interpersonal memegang kendali yang sangat sentral. Diskusi di meja makan keluarga, percakapan santai dengan rekan kerja, hingga pertukaran opini di grup digital dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap stabilitas ekonomi negara. Oleh sebab itu, kualitas komunikasi menjadi penentu utama apakah masyarakat akan tercerahkan atau justru terjebak dalam pusaran hoaks yang menyesatkan.

Fenomena kenaikan dolar ini memberikan pelajaran berharga bahwa literasi informasi dan kecakapan dalam memilah sumber yang kredibel kini menjadi kebutuhan mutlak di era digital. Masyarakat tidak boleh lagi pasif dalam menerima informasi; mereka perlu mengevaluasi siapa komunikatornya, apa motif di balik pesan tersebut, serta apakah argumentasinya didukung oleh data empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, Teori Kredibilitas membantu kita memahami mengapa sebuah narasi bisa lebih tepercaya dibanding narasi lainnya. Dalam isu ekonomi yang sensitif seperti fluktuasi nilai tukar, kredibilitas komunikator adalah kunci utama dalam mengarahkan opini publik.

Ketika publik memperoleh asupan informasi dari sumber yang kompeten, berintegritas, dan bertujuan edukatif, komunikasi akan melahirkan pemahaman yang rasional dan solutif. Sebaliknya, ketika panggung informasi dikuasai oleh sumber yang tidak kredibel, masyarakat hanya akan dihadapkan pada kepanikan massal yang tidak perlu.

Oleh karena itu, seluruh elemen mulai dari media massa, pemerintah, akademisi, hingga masyarakat umum memiliki tanggung jawab kolektif untuk membangun ekosistem komunikasi yang sehat. Di tengah derasnya arus informasi mengenai dinamika dolar dan ekonomi global, kepercayaan dan kredibilitas harus tetap dijaga sebagai fondasi utama agar komunikasi mampu memberikan kemaslahatan nyata bagi masyarakat luas.


Penulis: Erika Kinara
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Surti Wardani, S.Pd.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses