Hortikultura merupakan komponen utama pada pola pangan harapan, sehingga komoditi hortikultura memiliki peluang yang tinggi untuk dibudidayakan. Komoditi hortikultura umumnya mencakup empat kelompok besar, yaitu sesayuran, bebuahan, biofarmaka, dan tanaman hias.
Bebuahan merupakan sektor hortikultura yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena merupakan komoditi yang sering dikonsumsi (Fatmawati 2018).
Jambu biji merupakan komoditas hortikultura yang populer dan diminati oleh masyarakat Indonesia, karena jambu biji merupakan buah yang tumbuh sepanjang tahun, mudah dibudidayakan, kaya nutrisi, serta memiliki harga relatif lebih murah dibandingkan buah impor, seperti apel dan pir.
Jambu biji kristal (Psidium guajava L. Var. Kristal) merupakan salah satu kultivar jambu biji yang memiliki peminat paling tinggi diantara jenis jambu biji yang lain.
Hal ini karena jambu kristal memiliki persentase daging buah yang lebih banyak, jumlah biji yang lebih sedikit, tekstur yang renyah, memiliki kandungan vitamin C yang 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok citrus, sumber antioksidan, dan kaya akan vitamin dan mineral. Hal ini membuat jambu kristal memiliki peluang besar untuk menggantikan buah impor (Sharma dan Borah 2021).
Jambu biji kristal termasuk buah klimakterik, dimana buah masih mengalami reaksi metabolisme dan akan mencapai puncak respirasi setelah pemetikan (Ardiana et al. 2023). Respirasi yang tinggi menyebabkan buah cepat matang dan cepat rusak.
Hal ini menyebabkan umur simpannya menjadi lebih pendek, hanya sekitar 1 minggu jika disimpan pada suhu ruang atau sekitar 2 minggu jika disimpan pada suhu 6-8ºC dalam kondisi atmosfer yang terkontrol (Kalia et al. 2021; Chen et al. 2024).
Jambu kristal rentan terhadap penyimpanan suhu dingin (chilling injury) selama penyimpanan dalam periode tertentu, sehingga optimasi suhu penyimpanan perlu dilakukan untuk menjaga kualitas buah selama penyimpanan dan meningkatkan umur simpannya (Chen et al. 2024).
Perubahan fisiologi pascapanen tersebut menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pelaku bisnis, terkhusus pelaku bisnis ekspor. Penanganan pascapanen yang tepat akan memberikan mutu jambu kristal yang baik dan dapat mengurangi risiko kerugian tersebut.
Tinjauan ilmiah ini bertujuan untuk mengkaji fisiologi paspapanen yang terjadi pada jambu kristal segar dan menemukan teknik yang paling efektif untuk dapat menjaga kualitas dan meningkatkan umur simpan jambu kristal.
Baca Juga: Transformasi Warna Daging: Peran Pigmen dalam Kualitas dan Kesegaran
Parameter Kritis yang Mempengaruhi Fisiologi Jambu Kristal
Parameter kritis yang mempengaruhi perubahan fisiologi jambu kristal pascapanen diantaranya;
1. Peningkatan laju respirasi
Respirasi melibatkan pemecahan zat-zat organik kompleks (karbohidrat, protein, lemak) menjadi molekul yang lebih kecil, yaitu CO2 dan H2O serta menghasilkan energi panas.
Laju respirasi pada jambu kristal dapat berbeda-beda tergantung dengan suhu, tingkat kematangan buah, dan kondisi atmosfer selama penyimpanan. Fase respirasi jambu kristal dan buah klimakterik lainnya dimulai dengan penurunan laju respirasi (pre-climacteric decline) sesaat setelah pemetikan.
Laju respirasi buah akan meningkat secara tiba-tiba dan mencapai pundak (climacteric peak). Fase ini terjadi ketika buah mencapai kematangan optimal. Laju respirasi akan menurun secara bertahap setelah mencapai climacteric peak (Mangaraj et al. 2014). Hal ini menandakan buah memasuki tahap penuaan.
2. Pelepasan hormon etilen
Sama halnya dengan respirasi, etilen merupakan parameter kritis mutu jambu kristal. Peningkatan produksi etilen dapat mempercepat degradasi atau perombakan dinding sel buah jambu, akibatnya air dan CO2 yang terkandung dalam matriks pangan akan keluar dari matriks.
Hilangnya air dan akumulasi CO2 ini yang akan mempercepat proses penuaan dan pembusukan jambu. Jambu yang disimpan pada suhu 210.3ºC dan RH 776% menunjukkan puncak produksi etilen pada hari ke-6 penyimpanan, yaitu sebesar 12,9 µL/kg.jam.
Hal serupa dalam studi lain menunjukkan bahwa jambu yang disimpan pada suhu 221ºC dan RH 781% hanya memproduksi etilen sebesar 0.1 µL/kg.jam selama 4 hari pertama, lalu mengalami peningkatan hingga sebesar 5 µL/kg.jam pada penyimpanan hari ke-8 (Yadav et al. 2022).
Hal ini menunjukkan bahwa produksi etilen jambu kristal akan meningkat dengan sendirinya seiring dengan lama penyimpanan. Semakin lama buah disimpan, semakin tinggi produksi etilen. Hal ini penting untuk dikendalikan dalam penanganan pascapanen jambu kristal agar dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitasnya.
3. Peningkatan laju transpirasi
Transpirasi merupakan proses penguapan air, sehingga proses ini menyebabkan penurunan kandungan air dan nutrisi dari matriks buah. Kehilangan air ini dapat menyebabkan penurunan tekanan turgor, penutupan stomata, dan mengganggu reaksi metabolisme.
Sehingga pada akhirnya akan menyebabkan degradasi jaringan, daging buah layu, daging buah mengkerut, dan pelunakan daging buah jambu.
Penurunan kualitas ini dapat berdampak pada penurunan nilai jual, sehingga penting untuk mengendalikan parameter kritis yang mempengaruhi mutu jambu kristal selama penyimpanan dan transportasi (Lufu et al. 2020).
Baca Juga: Dehydrofreezing pada Buah dan Sayuran
Teknik Pengemasan dan Penyimpanan Jambu Kristal Pascapanen
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), volume produksi jambu kristal Indonesia pada tahun 2021-2023 secara berturut-turut sebesar 422.491, 472.686, dan 404.654 ton. Produksi yang tinggi ini menjadi potensi bagi Indonesia untuk melakukan ekspor jambu kristal ke pasar internasional.
Negara tujuan ekspor buah Indonesia secara umum menurut BPS, diantaranya adalah Malaysia, Vietnam, Republik Rakyat China, Thailand, India, Jepang, Arab, Hongkong, Singapura, dan Nigeria. Setiap negara tujuan ekspor memiliki standar dan regulasinya masing-masing, namun secara umum negara tujuan ekspor mensyaratkan agar produk wajib bebas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Untuk mempercepat proses pemeriksaan fisik dan bebas OPT, eksportir dapat mempersiapkan dokumen Phytosanitary Certificate (PC) (Chisoro et al. 2019). PC merupakan dokumen yang menyatakan produk ekspor bebas dari OPT.
Dengan adanya PC, produk tidak perlu pemeriksaan fisik di negara tujuan, sehingga mengurangi kerusakan dan kerugian.
Syarat-syarat penerbitan PC untuk ekspor jambu kristal, yaitu: (1) jambu kristal terbebas hama dan penyakit, (2) ukuran dan tingkat kematangan sesuai dengan standar untuk ekspor, (3) buha harus bebas dari tangkai dan daun, (4) setiap buah harus dibungkus dengan foamnet, (5) pengemasan harus menggunakan kardus yang diberi nomor identitas, (6) kebun tempat produksi jambu kristal harus dipantau dan dikendalikan terhadap OPT, (7) produk harus bebas OPT yang menjadi target negara tujuan.
Rancangan pengemasan dan teknik penyimpanan yang tepat sepanjang rantai transportasi dari produsen ke konsumen harus dilakukan dengan tepat agar produk memiliki mutu yang tinggi, umur simpan yang optimal, dan diterima dalam kondisi baik oleh konsumen.
Jambu kristal memiliki kulit yang tipis sehingga rentan terhadap kerusakan fisik akibat benturan. Untuk meminimalisir kerusakan fisik, maka jambu kristal harus dilapisi dengan edible coating (EC) dan dikombinasikan dengan dibungkus dengan foamnet, lalu dikemas dalam kardus yang disertai sekat.
Hal ini bertujuan untuk melindungi jambu kristal dari benturan yang akan terjadi selama transportasi. Jambu kristal merupakan tipe buah klimakterik yang masih aktif mengalami reaksi metabolisme, seperti respirasi, transpirasi, produksi etilen setelah pemetikan, sehingga untuk memperlambat pematangan jambu kristal perlu dilapisi dengan EC.
Baca Juga: Matching Fund 2022: Pelatihan GMP dan HACCP untuk Mahasiswa dan Perusahaan
Pemanfaatan Controlled Atmosphere Storage (CAS). CAS merupakan teknik penyimpanan yang umum digunakan untuk memperpanjang umur simpan buah. Prinsip dari teknik CAS adalah mengontrol komposisi gas pada sistem penyimpanan (misalnya, kontainer) selama transportasi buah dan gudang selama penyimpanan buah.
Jika konsentrasi komposisi gas optimal berubah, akan disuplai/dimonitor dengan yang baru ke dalam sistem penyimpanan.
Kondisi penyimpanan jambu dengan CO2 sebesar 40% dan O2 sebesar <1% selama 12 jam dapat mengurangi pertumbuhan serangga buah, menjaga kualitas, dan memperpanjang umur simpan (Singh et al. 2007 dalam Chen et al. 2024).
Penulis: Brigitta Andien
Mahasiswa Ilmu Pangan IPB University
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Daftar Pustaka
BPS. 2024. Produksi Tanaman Buah-buahan, 2021-2023. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjIjMg==/produksi-tanaman-buah-buahan.html
Chen N, Wei W, Yang Y, Chen L, Shan W, Chen J, Lu W, Kuang J, Wu C. 2024. Postharvest Physiology and Handling of Guava Fruit. Foods. 13(5). doi:10.3390/foods13050805.
Chisoro S, Das Nair R, Landani N, Chisoro-Dube S. 2019. Technological Developments for Increased Market Access and Participation in Fresh Fruit Value Chains. Proj Reg Value Chain. June:1–37. https://www.researchgate.net/publication/333984709.
I Putu Gita Ardiana, I Nyoman Rai, I Wayan Wiraatmaja. 2023. Physicochemical study of crystal guava fruit (Psidium guajava l. var. crystal) on differences in maturity and storage temperature. Open Access Res J Biol Pharm. 7(1):043–049. doi:10.53022/oarjbp.2023.7.1.0013.
Kalia A, Kaur M, Shami A, Jawandha SK, Alghuthaymi MA, Thakur A, Abd-Elsalam KA. 2021. Nettle-leaf extract derived zno/cuo nanoparticle-biopolymer-based antioxidant and antimicrobial nanocomposite packaging films and their impact on extending the post-harvest shelf life of guava fruit. Biomolecules. 11(2):1–24. doi:10.3390/biom11020224.
Lufu R, Ambaw A, Opara UL. 2020. Water loss of fresh fruit: Influencing pre-harvest, harvest and postharvest factors. Sci Hortic (Amsterdam). 272 January. doi:10.1016/j.scienta.2020.109519.
Sharma S, Borah DA. 2021. Bioactive compounds present in different parts of Guava and their significance: A review. Pharma Innov. 10(5):163–171. doi:10.22271/tpi.2021.v10.i5c.6193.
Yadav A, Kumar N, Upadhyay A, Fawole OA, Mahawar MK, Jalgaonkar K, Chandran D, Rajalingam S, Zengin G, Kumar M, et al. 2022. Recent Advances in Novel Packaging Technologies for Shelf-Life Extension of Guava Fruits for Retaining Health Benefits for Longer Duration. Plants. 11(4). doi:10.3390/plants11040547.
Chen N, Wei W, Yang Y, Chen L, Shan W, Chen J, Lu W, Kuang J, Wu C. 2024. Postharvest Physiology and Handling of Guava Fruit. Foods. 13(5). doi:10.3390/foods13050805.
Chisoro S, Das Nair R, Landani N, Chisoro-Dube S. 2019. Technological Developments for Increased Market Access and Participation in Fresh Fruit Value Chains. Proj Reg Value Chain. June:1–37. https://www.researchgate.net/publication/333984709.
I Putu Gita Ardiana, I Nyoman Rai, I Wayan Wiraatmaja. 2023. Physicochemical study of crystal guava fruit (Psidium guajava l. var. crystal) on differences in maturity and storage temperature. Open Access Res J Biol Pharm. 7(1):043–049. doi:10.53022/oarjbp.2023.7.1.0013.
Kalia A, Kaur M, Shami A, Jawandha SK, Alghuthaymi MA, Thakur A, Abd-Elsalam KA. 2021. Nettle-leaf extract derived zno/cuo nanoparticle-biopolymer-based antioxidant and antimicrobial nanocomposite packaging films and their impact on extending the post-harvest shelf life of guava fruit. Biomolecules. 11(2):1–24. doi:10.3390/biom11020224.
Lufu R, Ambaw A, Opara UL. 2020. Water loss of fresh fruit: Influencing pre-harvest, harvest and postharvest factors. Sci Hortic (Amsterdam). 272 January. doi:10.1016/j.scienta.2020.109519.
Sharma S, Borah DA. 2021. Bioactive compounds present in different parts of Guava and their significance: A review. Pharma Innov. 10(5):163–171. doi:10.22271/tpi.2021.v10.i5c.6193.
Yadav A, Kumar N, Upadhyay A, Fawole OA, Mahawar MK, Jalgaonkar K, Chandran D, Rajalingam S, Zengin G, Kumar M, et al. 2022. Recent Advances in Novel Packaging Technologies for Shelf-Life Extension of Guava Fruits for Retaining Health Benefits for Longer Duration. Plants. 11(4). doi:10.3390/plants11040547.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












