Fomo sebagai Gaya Hidup Gen Z

Gaya Hidup Gen Z
Foto: Dok. MMI

Generasi Z sering dijuluki sebagai digital native, sebuah label yang melekat karena kemampuan adaptasi teknologi yang luar biasa sejak usia dini.

Namun, mahir mengoperasikan teknologi bukan jaminan kita kebal terhadap tekanan psikologis di ruang siber. Di tengah arus informasi yang serba cepat, nalar sering kali kalah cepat oleh gerakan jempol.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah Fear of Missing Out (FOMO), sebuah kecemasan akan tertinggal dari tren yang kini telah bergeser dari sekadar perasaan sesaat menjadi gaya hidup sistematis bagi banyak anak muda.

Masalah utama yang menghantui Gen Z adalah bagaimana gaya hidup dikemas secara estetik di platform seperti TikTok, Instagram, dan X.

Meskipun kita lincah menggunakan fitur-fitur canggih, banyak individu masih terjebak pada narasi emosional yang manipulatif.

FOMO bukan sekadar masalah psikologis pribadi, melainkan bagian dari banjir informasi palsu yang menyebar lebih cepat daripada fakta karena algoritma memprioritaskan konten yang memicu reaksi instan, bukan kebenaran yang mendalam.

Kondisi ini menciptakan sebuah tekanan sosial yang tidak terlihat namun sangat membebani. Mengapa evaluasi terhadap gaya hidup FOMO ini sangat mendesak?

Baca Juga: Jalan Legenda Orang Muda: Gen Z di Persimpangan Zaman

Karena jika kita kehilangan kemampuan untuk menyaring mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang sekadar keinginan semu, maka perspektif hidup hingga pengambilan keputusan penting kita akan terus dipengaruhi oleh orang lain.

Tanpa nalar yang kuat, kita hanya akan menjadi konsumen pasif yang mengejar validasi tanpa henti di dunia maya yang tidak berujung.

Kita berisiko kehilangan kohesi sosial jika standar hidup kita hanya didasarkan pada perbandingan digital yang sering kali semu.

Dalam kacamata Logic and Critical Thinking, peran Gen Z dimulai dengan mengasah nalar untuk mendeteksi kesesatan berpikir (logical fallacy) dalam konten yang dikonsumsi sehari-hari.

FOMO sering kali bekerja melalui bandwagon effect, sebuah sesat pikir di mana seseorang merasa perlu mengikuti sesuatu atau membeli barang tertentu hanya karena “semua orang sedang melakukannya.”

Ini adalah titik di mana logika sering kali dikesampingkan demi rasa aman secara sosial.

Selain itu, FOMO sering kali memicu false dilemma, di mana seorang remaja merasa hanya punya dua pilihan: ikut tren dan dianggap keren, atau tidak ikut dan menjadi pecundang.

Baca Juga: Peran Influencer dalam Meningkatkan Awareness Produk Syariah pada Gen Z

Padahal, nalar kritis mengajarkan kita bahwa ada opsi ketiga, yaitu menjadi verifikator mandiri atas kebutuhan kita sendiri.

Menggunakan logika berarti berani mempertanyakan kredibilitas sebuah tren, membedakan kebutuhan riil dari sekadar opini subjektif, dan tidak mudah tergiur oleh judul yang bombastis atau clickbait yang memicu kecemasan.

Langkah praktisnya adalah membangun “skeptisisme yang sehat”. Setiap menemukan tren baru yang memicu perasaan tertinggal, langkah verifikasi terhadap nilai manfaatnya harus menjadi insting utama agar kita tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang irasional.

Kita harus mampu melakukan verifikasi silang terhadap informasi gaya hidup yang kita terima, memastikan bahwa keputusan yang kita ambil adalah hasil navigasi nalar, bukan sekadar respons terhadap algoritma.

Mari kita lihat realitas di sekitar kita. Berapa banyak dari kita yang rela mengantri berjam-jam atau bahkan menggunakan layanan pinjaman online demi tiket konser artis internasional atau gawai terbaru yang sebenarnya tidak terlalu mendesak?

Inilah bukti otentik bahwa FOMO telah mengaburkan kemampuan kita dalam menyusun skala prioritas. Secara finansial, dorongan untuk selalu “tampil” sesuai tren menyebabkan banyak Gen Z terjebak dalam perilaku ekonomi yang berisiko.

Baca Juga: Apa itu FOMO dan Contohnya? Mengenal Fenomena Takut Ketinggalan di Era Digital

Secara mental, ketidakmampuan untuk merasa “cukup” mengakibatkan kelelahan emosional kronis karena standar kebahagiaan kita selalu berpindah-pindah mengikuti apa yang sedang viral di lini masa.

Di era disinformasi ini, FOMO bukan lagi sekadar salah informasi yang tidak disengaja, melainkan ancaman sistematis yang bisa mempengaruhi perspektif hidup hingga pengambilan keputusan penting.

Optimalisasi nalar dalam mengantisipasi FOMO adalah tentang bagaimana manusia tetap menjadi nahkoda atas alat yang digunakannya. Kita tidak boleh membiarkan teknologi dan algoritma yang menentukan standar kebahagiaan kita.

Sebagai pilar utama pembentuk opini publik di masa depan, Gen Z harus memiliki benteng nalar yang tangguh agar tidak mudah terpolarisasi oleh gaya hidup yang kompetitif dan tidak sehat.

Menjadikan Gen Z tangguh melawan disinformasi gaya hidup adalah investasi besar bagi masa depan bangsa.

Dengan nalar kritis yang tajam, teknologi di tangan kita akan menjadi alat pencerah peradaban, bukan penghancur akal sehat.

Kita harus mampu mengoptimalkan potensi ini agar ruang digital kita menjadi tempat yang lebih cerdas, sehat, dan bermartabat.

Baca Juga: Eksplorasi Peran FOMO dalam Mendorong Variety Seeking Behavior pada Pembelian Online: Studi Fenomenologi Konsumen Generasi Z

Mari kita mulai berani untuk merasa “cukup”. Keberanian untuk tidak selalu mengikuti setiap arus tren adalah bukti nyata bahwa kita telah menggunakan logika secara fungsional.

Pada akhirnya, nalar yang jernih adalah navigasi terbaik di lautan data dan tren yang tak terbatas ini. Kita adalah penentu masa depan, dan masa depan itu bermula dari setiap keputusan kecil yang kita ambil berdasarkan akal sehat, bukan sekadar takut ketinggalan.


Penulis: Nashwa Eka Zahfarinna
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Sumber

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Jakarta: APJII. 

Herman, D. (2000). Introducing short-term brands: A new branding tool for a new consumer reality. Journal of Brand Management, 7(5), 330-340. 

McGinnis, P. J. (2020). Fear of Missing Out: Practical Decision-Making in a World of Overwhelming Choice. Naperville: Sourcebooks. 

Mulla, B. N. P. (2025). Bukan Sekadar Scrolling: Bagaimana Gen-Z Bisa Menjadi Benteng Terakhir Melawan Disinformasi? Naskah Tugas Logic and Critical Thinking. Surabaya: Universitas 17 Agustus 1945. 

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841-1848. 

Widiyatmo Ekoputro. (2025). Modul Perkuliahan: Logic and Critical Thinking. Surabaya: Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses