Jalan Legenda Orang Muda: Gen Z di Persimpangan Zaman

Masa Depan Indonesia
Ilustrasi Gen Z dan Teknologi (Sumber: MMI)

Arus laju informasi hari ini menyerupai jalanan Ibu Kota Jakarta pada jam sibuk; berdesakan, bising, penuh amarah, dan nyaris tanpa etika berlalu lintas. Semua ingin mendahului, semua ingin terlihat paling cepat, paling keras, dan paling benar. Klakson saling sahut, asap mengepul, dan arah tujuan sering kali tak lagi jelas. Begitulah wajah ruang digital kita.

Media sosial berubah menjadi arena kejar-kejaran atensi. Validasi diukur dari jumlah view, like, dan share, bukan dari kebenaran atau kedalaman makna. Hoaks berseliweran, gosip diproduksi massal, dan sensasi menjadi komoditas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sepuluh tahun lalu, situasi ini belum sepadat sekarang. Konten masih punya jarak dengan kebisingan. Hari ini, lini masa dipenuhi serpihan-serpihan informasi dangkal seperti isu perselingkuhan selebritas, ruang privat individu, hingga aktivisme instan yang lebih rajin membuat meme melecehkan Bahlil dan Jokowi ketimbang membangun etos kerja dan keberpihakan nyata pada rakyat.

Ironinya, sebagian anak muda mengatasnamakan “revolusi”, tetapi bangun siang, memaki negara sambil tetap bergantung pada kiriman orang tua di kampung, dan menjadikan kritik sebagai gaya hidup, bukan tanggung jawab moral. Amarah menjadi identitas, sementara disiplin dan kerja sunyi dianggap kuno.

Baca juga: Generasi Muda: Korban Sistem atau Penggerak Revolusi Ekonomi?

Goenawan Muhammad pernah mengingatkan bahwa budaya hipokrit bukanlah barang baru di negeri ini. Dalam berbagai esainya, pendiri Tempo itu menyebut bangsa Indonesia kerap piawai mengutuk, tetapi gagap memikul tanggung jawab. Kebiasaan ini berulang, diwariskan, lalu mengendap menjadi budaya—bukan sekadar kesalahan individu, melainkan penyakit kolektif yang menahun.

Lalu, di tengah lanskap yang semrawut ini, di manakah posisi Generasi Z? Gen Z adalah generasi paling fenomenal abad ini. Secara demografis, mereka dominan. Secara historis, mereka lahir di persimpangan besar; transisi analog ke digital, stabilitas semu ke krisis berlapis, optimisme global ke kecemasan kolektif. Mereka tidak hanya hidup di zaman perubahan, tetapi hidup sebagai perubahan itu sendiri.

Di titik inilah Gen Z menjadi jalan legenda orang muda. Legenda tidak selalu tentang kemenangan gemilang. Ia sering justru lahir dari jalan terjal, sunyi, dan penuh risiko. Dalam pengertian ini, Gen Z bukan legenda karena viral, tetapi karena pilihan. Apakah mereka akan larut menjadi kebisingan, atau justru menjadi penunjuk arah di tengah kekacauan.

Pemikir Spanyol, José Ortega y Gasset, dalam The Revolt of the Masses, mengingatkan bahaya ketika manusia muda merasa berhak atas segalanya tanpa kesediaan untuk memikul tanggung jawab sejarah. Sebaliknya, ia menekankan bahwa setiap generasi memiliki “misi historis”-nya sendiri. Gen Z hari ini sedang diuji: apakah ia hanya menjadi generasi komentar, atau generasi keputusan.

Sementara itu, Paulo Freire menegaskan bahwa kesadaran kritis (conscientização) bukanlah hasil kemarahan semata, melainkan refleksi yang diikuti tindakan etis. Kritik tanpa kerja hanya melahirkan sinisme. Kerja tanpa kesadaran melahirkan kepatuhan buta. Jalan legenda selalu berada di antara keduanya.

Gen Z memiliki modal yang tak dimiliki generasi sebelumnya. Akses pengetahuan, jejaring global, dan kecepatan belajar. Namun modal itu akan sia-sia jika tidak dibarengi disiplin, empati, dan keberanian untuk berbeda dari arus.

Legenda tidak lahir dari ikut-ikutan, tetapi dari keteguhan berdiri ketika yang lain memilih jalan pintas. Jika generasi sebelumnya dikenal sebagai generasi ideologi atau generasi stabilitas, maka Gen Z berpeluang menjadi generasi integritas—yang menyatukan nalar kritis, kerja nyata, dan keberpihakan pada nilai.

Di tengah jalan digital yang macet dan penuh polusi moral, Gen Z bisa menjadi pengendara yang taat arah, menjaga jarak, dan tahu kapan harus melaju, kapan harus berhenti.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Gen Z akan dikenang. Setiap generasi pasti dikenang. Pertanyaannya: sebagai apa Gen Z akan dikenang?

 


Penulis: Akbar Jihad
Mahasiswa Hukum, Universitas Pamulang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses