Kesenjangan Keterampilan Lulusan Baru

Lulusan Baru
Ilustrasi Wisudawan (Sumber: MMI)

Dalam perkembangan teknologi yang pesat, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kesenjangan keterampilan antara tenaga kerja dan kebutuhan industri. Situasi ini menghambat daya saing nasional dan mengurangi peluang kerja yang produktif.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, jumlah pengangguran mencapai 7,46 juta orang, mengalami peningkatan sebesar 18 ribu orang dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Laporan BPS mengenai keadaan angkatan kerja di Indonesia 2025 menunjukkan bahwa pengangguran di kalangan lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 terus meningkat. Pada Agustus 2025, jumlah pengangguran dari kalangan sarjana telah mencapai 402.094 orang.

Teori Human Capital yang dikemukakan oleh Becker menggarisbawahi bahwa kesenjangan keterampilan muncul akibat ketidaksesuaian antara kualifikasi pekerja dan jenis pekerjaan yang diberikan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan inefisiensi di pasar tenaga kerja.

Dosen Ilmu Ekonomi FEB UGM Gumilang Aryo Sahadewo mengatakan tenaga kerja di Indonesia mengalami ketidakcocokan dengan pasar kerja. Penyebabnya yaitu kurangnya relevansi pendidikan di perguruan tinggi dengan kebutuhan di dunia industri.

Desain kurikulum yang tidak ada responsif dengan kebutuhan industri. Sebagai penyedia tenaga kerja kurang bisa menyediakan tenaga kerja yang relevan dan skill yang dibutuhkan industri sehingga produktivitasnya rendah,” ujarnya.

Survei yang dilakukan oleh Intelligent pada 2024 menunjukkan bahwa banyak karyawan baru menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, dengan 39% di antaranya mengindikasikan keterampilan komunikasi yang buruk, 38% mengalami kesulitan dalam menerima kritik, dan 34% menunjukkan lemahnya kemampuan pemecahan masalah.

Mahasiswa cenderung lebih fokus pada komunikasi daring, yang menyebabkan mereka kurang mendapatkan pengalaman dalam komunikasi secara langsung. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh dalam situasi komunikasi tatap muka.

Mahasiswa yang disibukkan dengan tugas dan ujian mungkin kurang memberikan perhatian pada aspek non-akademis, termasuk pengembangan keterampilan interpersonal. Situasi ini dapat menghalangi mereka untuk berkomunikasi secara efektif di luar konteks akademis.

Baca juga: Era Baru Dunia Arsitek: Mengintip Nasib Lulusan Arsitektur di Masa Depan

Dampak dari kesenjangan keterampilan tersebut adalah para pekerja menghadapi tantangan baru yang tidak sejalan dengan kualifikasi pendidikan yang mereka miliki, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam menjalankan tugas pekerjaan. Selain itu, pekerjaa yang menemukan ketidaksesuaian antara pekerjaan dan latar belakang pendidikannya dapat menganggap situasi tersebut sebagai sebuah beban.

Sebaiknya mahasiswa mengikuti organisasi kemahasiswaan seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpuan Mahasiswa (HIMA), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Fungsi organisasi mahasiswa yaitu mewadahi kegiatan mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakat.

Lalu, mengembangkan kreativitas, kepekaan, dan kepemimpinan. Kemudian, memenuhi kepentingan dan kesejahteraan mahasiswa. Setelah itu, mengembangkan tanggung jawab sosial melalui pengabdian masyarakat.

 

 


Penulis: Rakha Aryasatya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Telkom University


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses