Guru di Era AI: Kembali ke Ajaran Ki Hajar Dewantara

Peran Guru di Era AI
Ilustrasi Guru di Era AI (Sumber: Penulis)

Ruang-ruang guru di Indonesia belakangan ini diliputi kegelisahan baru. Bukan lagi semata soal kurikulum yang berganti, melainkan kehadiran “pesaing” cerdas yang mampu mengerjakan esai siswa hanya dalam hitungan detik: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Batas antara hasil pemikiran siswa dan jawaban mesin kini makin kabur. Sekolah pun terasa seperti pabrik tua yang tiba-tiba harus bersaing dengan mesin supercepat.

Kegelisahan itu wajar. AI berkembang pesat dan mulai masuk ke ruang kelas, baik disadari maupun tidak. Tak sedikit guru mulai bertanya-tanya: jika mesin bisa menjawab soal dengan cepat dan rapi, masih relevankah peran guru? Apakah profesi ini suatu saat akan tergeser layar dan algoritma?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Komunikasi dalam Dunia Pendidikan sebagai Faktor Utama Efektivitas Sosial di Lingkungan Kampus dan di Era Digital

Namun, ketakutan berlebihan apalagi sampai melarang teknologi bukanlah jalan keluar. Justru di tengah gempuran teknologi inilah, kita perlu kembali menengok kompas pendidikan nasional yang telah lama kita miliki. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memanusiakan manusia menjadi semakin relevan di era digital.

Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan harus menuntun anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. AI dan dunia digital adalah bagian tak terpisahkan dari kodrat zaman abad ke-21. Menutup mata atau menolak kehadirannya sama saja dengan memaksa anak hidup di masa lalu. Sikap yang bijak bukanlah anti-teknologi, melainkan adaptasi yang kritis dan beretika.

Lalu, mengapa AI terasa begitu mengancam profesi guru? Jawabannya menyentak: karena selama ini pendidikan kita terlalu lama memuja aspek kognitif semata. Sekolah sering kali berubah menjadi “pabrik hafalan”, tempat siswa dinilai dari seberapa cepat mereka mengingat dan menjawab soal. Jika kecerdasan hanya dimaknai sebagai kemampuan mengolah informasi, maka kita harus jujur mengakui: mesin memang lebih unggul.

Kecemasan yang muncul hari ini sejatinya menjadi alarm bahwa pendidikan kita telah kehilangan ruhnya. Ia tereduksi menjadi sekadar transfer data, pekerjaan yang kini bisa dilakukan mesin dengan jauh lebih cepat.

Di sinilah ajaran Tri-Nga Ki Hajar Dewantara: Cipta, Rasa, dan Karsa menemukan momentumnya kembali. Di ranah cipta (daya pikir), AI mungkin melampaui manusia. Namun pendidikan tidak pernah berhenti di sana. Masih ada rasa dan karsa, wilayah kemanusiaan yang tak bisa ditiru algoritma.

AI dapat menulis puisi tentang kesedihan, tetapi ia tak pernah menangis. Ia bisa menyusun skenario etika, tetapi tidak memiliki nurani. Empati, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan keberanian moral adalah benteng terakhir pendidikan. Di sinilah peran guru menjadi tak tergantikan.

Maka, pendidikan masa depan perlu bergeser: dari sekadar “mengisi kepala” menjadi menumbuhkan karakter. Kelas tidak lagi hanya ruang transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan nilai dan kepribadian. Siswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Sejalan dengan itu, definisi guru pun perlu diperbarui. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, melainkan pamong, penuntun dan pendamping belajar. Semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menemukan makna barunya di era AI. Guru memberi teladan, membangkitkan kemauan, dan menguatkan dari belakang.

Alih-alih melarang penggunaan AI karena takut plagiarisme, guru justru perlu mengajak siswa berdialog secara kritis dengan teknologi. Siswa diajarkan kejujuran akademik, cara memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, dan yang terpenting: bagaimana mengajukan pertanyaan yang bermakna. Di era kelimpahan jawaban, kemampuan bertanya jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal.

Kehadiran kecerdasan buatan sejatinya bukan lonceng kematian bagi profesi guru, melainkan alarm pengingat untuk kembali ke hakikat pendidikan. Kita tidak perlu berlomba menjadi lebih pintar dari mesin, itu pertarungan yang mustahil dimenangkan. Tugas kita adalah menjadi lebih manusiawi.

Di tangan guru yang berperan sebagai pamong sejati, AI dapat menjadi sayap yang menerbangkan potensi siswa. Namun tanpa karakter dan etika, teknologi justru berisiko melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kehilangan arah. Pendidikan bukan tentang mengalahkan mesin, melainkan tentang menjaga kemanusiaan.

 


Penulis: Siti Nurhayati
Mahasiswa Doktor Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses