Hubungan Fenomena El Nino dengan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue, Upaya Pencegahan, dan Peran Lintas Sektor

Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue - Nyamuk Aedes Aegypti salah satu nyamuk kosmopolitan yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue

Secara umum, fenomena el nino dapat meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue dikarenakan suhu panas dapat mempercepat siklus hidup dan masa inkubasi bagi nyamuk Aedes Aegypti. Suhu panas juga dapat menyebabkan nyamuk dapat bereproduksi dengan cepat dan lingkungan panas dapat mempersingkat waktu virus untuk berkembang biak di dalam tubuh nyamuk.

Salah satu penelitian internasional yang dipublikasi pada September 2025 di jurnal Nature yang berjudul “Rising Dengue Risk with Increasing El Nino – Southern Oscillation Amplitude and Teleconnections” yang melakukan analisis pada 57 negara termasuk Indonesia dan disimpulkan ada lima hal yang perlu kita pahami bersama. Pertama terdapat hubungan variabilitas antara cuaca panas dengan kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue namun hal tersebut masih terus diteliti oleh para ahli.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Obat Nyamuk Alami: Solusi Anti Serangga Tanpa Bahan Kimia

Kedua berdasarkan data WHO antara tahun 2010 – 2019 menyatakan angka prevalensi Demam Berdarah Dengue mengalami peningkatan dari 0,5 juta menjadi 5,2 juta kasus, bahkan tahun 2024 merupakan rekor kasus dengue secara global. Ketiga, dengan mengontrol aspek heterogenitas pada beberapa negara penelitian tersebut menyimpulkan setidaknya 63 persen dari variasi kasus memiliki hubungan dengan kejadian El Nino.

Keempat, kejadian El Nino pada tahun 2023 – 2024 diperkirakan memiliki hubungan erat dengan kasus dengue sebesar 9.6 juta kasus.Kelima, diprediksikan bahwa dalam kurun waktu 2020 – 2029 fenomena El Nino dapat berhubungan dengan peningkatan kasus dengue sebesar 39 – 81,7 persen di dunia. Dapat disimpulkan bahwa kejadian wabah virus dengue berbanding lurus dengan fenomena el nino yang melanda negara-negara di dunia khususnya negara tropis salah satunya Indonesia.

Berbagai hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran DBD (Demam Berdarah Dengue), pengendalian DBD sangat tergantung dengan pengendalian vektornya, yaitu nyamuk aedes aegypti, pengendalian DBD bisa dilakukan dengan pengendalian lingkungan antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah yang teratur, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk, dan perbaikan desain rumah, misalnya mengatur tempat untuk mencuci baju dan menghindari tempat-tempat yang menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Baca juga: Manfaat Tanaman Zodia: Keindahan Alam yang Mengusir Nyamuk dan Menyehatkan Lingkungan

Pengendalian biologis dapat dilakukan dengan menggunakan agen biologis contohnya ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan pengasapan/fogging di wilayah yang terdapat kasus aktif DBD, penggunaan malathion dan fenthion untuk mengurangi kemungkinan tertular melalui kulit, dan memberikan bubuk-bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air dan vas bunga.

Cara lain yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang biasa dikenal dengan slogan 3M (Menutup, menguras, dan menimbun), selain itu dapat dilakukan juga pemeliharaan ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada saat tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, dan memeriksa jentik secara berkala contohnya dengan melakukan pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh ibu-ibu jumantik.

Pengendalian di atas tidaklah berjalan dengan baik tanpa adanya sinergitas dari pihak pemangku kebijakan seperti Dinas Kesehatan untuk melakukan surveilans, deteksi dini, dan respons cepat. Salah satu yang bisa dilakukan adalah melakukan analisis data terhadap kasus DBD yang teridentifikasi dan melakukan evaluasi untuk mencegah penularan lebih lanjut. Deteksi dini juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan rutin oleh kader-kader kesehatan seperti di Puskesmas dan di institusi kesehatan lainnya untuk melakukan pemeriksaan rutin kepada masyarakat yang wilayahnya masuk ke dalam wilayah endemik.

Baca juga: Manfaat Tumbuhan Lavender (Lavandula angustifolia) sebagai Anti Nyamuk

Respons cepat yang bisa dilakukan adalah dengan melaksanakan tata laksana yang sesuai yaitu dengan rehidrasi cairan bagi penderita DBD dan mengadakan vaksinasi secara masif di berbagai wilayah terutama di wilayah endemik untuk mencegah penularan virus dengue.

Pengendalian kasus DBD tidaklah cukup melibatkan institusi kesehatan saja melainkan lebih luas daripada itu pengendalian DBD harus dilakukan melalui prinsip one health di mana prinsip tersebut memandang bahwa kesehatan tidak terpusat kepada manusia saja melainkan harus mempertimbangkan aspek penting seperti siklus hidup, penyebaran, dan reproduksi serangga, juga yang penting kesadaran untuk menjaga lingkungan dan pengendalian sumpah untuk mencegah pencemaran iklim menjadi tanggung jawab besar bagi kita.Perlu adanya sinergi dan upaya kerja sama lintas sektor dalam upaya mencegah penyebaran virus Dengue, memastikan bahwa institusi kesehatan tidak berjalan sendiri, dan melakukan surveilans, deteksi dini, dan respon cepat dalam menangani kasus dengue yang menjadi tantangan dalam kesehatan terutama pengendalian penyakit menular di negara-negara tropis dan di Indonesia.

Penulis: Fabian Safiq Kurniawan (1102025060)
Mahasiswa Kedokteran Universitas Yarsi

Dosen Pengampu: Aulia Rahmi, S.Pd., M.Pd.

Editor: Rahmat Al Kafi

Referensi

  • Aditama T. 2026. Dengue dan El Nino Godzilla. Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi. Kompas.
  • Agni F et al. 2024. Demam Berdarah Dengue : Laporan Kasus Dengue Hemorrhagic Fever : Case Report. Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Jurnal Medical Profession (MedPro). Halaman 239 – Halaman 240.

 

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses