Implementasi Model Moving Class antara Indoor dan Outdoor Learning untuk Mengurangi Kejenuhan Belajar pada Siswa

model moving class
Foto: Dok. MMI

Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang berperan penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks pendidikan formal, proses belajar mengajar menjadi aktivitas utama yang menentukan keberhasilan peserta didik.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun dalam pelaksanaannya, sebagian siswa menghadapi fenomena learning burnout atau kejenuhan belajar akibat kelelahan secara mental maupun emosional.

Keadaan ini dapat berdampak pada rendahnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta menurunnya hasil belajar yang dicapai.

Munculnya learning burnout sering kali dipengaruhi oleh suasana belajar yang kurang bervariasi, metode pembelajaran yang monoton, serta penggunaan ruang belajar yang sama secara terus-menerus.

Sebagai salah satu solusi, penerapan sistem moving class dapat memberikan pengalaman pembelajaran di dalam kelas (indoor learning) dan di luar kelas (outdoor learning), siswa memperoleh lingkungan belajar yang lebih dinamis sehingga dapat meningkatkan minat, semangat, dan konsentrasi belajar serta mengurangi resiko terjadinya kejenuhan belajar.

Konsep Moving Class sebagai Model Pengelolaan Kelas

Moving class adalah sistem pembelajaran di mana siswa yang datang kepada guru, bukan guru yang mendatangi siswa.

Istilah ini berasal dari kata moving (bergerak) dan class (kelas) (Echols & Shadily, 1996).

Setiap kali ada pergantian mata pelajaran, siswa akan berpindah ke ruang kelas yang berbeda sesuai dengan jadwal bidang studi mereka.

Oleh karena itu, kelas-kelas tersebut diberi nama sesuai dengan mata pelajaran, seperti kelas Biologi, kelas Fisika, kelas Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. 

Sebagai cara untuk mengelola kelas, moving class menjadikan guru sebagai pengelola ruang belajar yang tetap.

Setiap ruang, dibuat khusus sesuai dengan karakteristik pelajaran.

Ruang-ruang ini dilengkapi dengan media, alat peraga, dan fasilitas yang sesuai, sehingga guru tidak perlu membawa perlengkapan dari satu kelas ke kelas lainnya.

Hal ini juga membantu mengurangi risiko kerusakan pada alat.

Sistem ini juga membutuhkan kerja sama antarguru, yang membantu mereka dalam mengembangkan materi, penilaian, perbaikan, dan pengayaan secara bersama-sama. 

Moving class adalah sistem yang penuh dengan aktivitas, di mana partisipasi siswa menjadi hal yang paling penting.

Mereka perlu aktif untuk mencari kelas yang dituju setiap kali jam pelajaran berganti, sementara guru menunggu di ruangannya.

Aktivitas ini mendorong keterlibatan pikir dan perasaan siswa dengan cara yang nyata.

Intinya, kelas berpindah bertujuan untuk meningkatkan semangat belajar agar siswa tidak merasa bosan tinggal di satu ruangan sepanjang hari (Widiasworo, 2018).

Salah satu contoh paling jelas dari penerapan moving class adalah kombinasi antara pembelajaran di dalam ruangan (indoor) dan di luar ruangan (outdoor).

Pembelajaran di dalam ruangan dilakukan di kelas yang dirancang khusus sesuai dengan topik yang dipelajari, sehingga menciptakan hubungan yang kuat antara lingkungan fisik dan materi yang diajarkan.

Sementara itu, pembelajaran di luar ruangan memperluas tempat belajar ke lingkungan luar yang bisa menjadi sumber belajar yang nyata dan relevan, yang mendekatkan siswa dengan kenyataan yang sebenarnya, melatih mereka untuk berpikir kritis, dan meningkatkan motivasi dari dalam diri mereka sendiri (Vera, 2012).

Pembelajaran di luar ruangan bukan hanya sekadar berpindah tempat, tetapi juga merupakan pendekatan pengajaran yang direncanakan dengan baik dan terintegrasi dengan kurikulum (Husamah, 2013).

Integrasi antara lingkungan fisik sekolah (indoor) dan lingkungan alam atau sosial (outdoor) dalam satu sistem manajemen kelas yang terencana akan menghasilkan pembelajaran yang holistik, menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik secara bersamaan.” (Suyadi, 2013)

Dengan demikian, konsep moving class sebagai cara mengelola kelas bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi merupakan sebuah sistem yang lengkap.

Setiap ruang belajar, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, dikelola dengan baik sebagai ekosistem belajar yang aktif dan fokus pada perkembangan siswa.

Learning Burnout pada Siswa: Konsep, Indikator, dan Penyebabnya

Istilah burnout pada mulanya banyak digunakan dalam kajian psikologi kerja untuk menggambarkan kondisi kelelahan yang dialami pekerja akibat tuntutan pekerjaan yang berkepanjangan.

Dalam perkembangannya, konsep ini juga diterapkan dalam dunia pendidikan untuk menjelaskan kelelahan mental dan emosional yang dialami siswa selama proses belajar.

Menurut Muhibbin Syah (2012) dalam psikologi belajar, kejenuhan belajar (learning burnout) merupakan kondisi ketika siswa mengalami keletihan, kebosanan, dan menurunnya semangat belajar sehingga usaha yang dilakukan tidak memberikan hasil yang optimal (Syah, 2012).

Dengan demikian, learning burnout tidak dapat disamakan dengan kemalasan, melainkan merupakan dampak dari akumulasi tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat.

Dalam buku Academic Burnout Siswa dan Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah menjelaskan bahwa learning burnout dapat dikenal melalui beberapa indikator utama (Setiyowati et al., 2021), sebagai berikut:

  1. Kelelahan Emosional, merupakan inti dari kondisi burnout dan sering menjadi hal pertama yang muncul ketika seseorang menghadapi stres berkepanjangan saat proses belajar. 
  2. Kelelahan Mental (Sinisme), ditunjukkan dengan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti munculnya sikap tidak peduli, acuh tak acuh, atau bahkan tidak tertarik terhadap tugas dan aktivitas akademik.
  3. Menurunnya Rasa Pencapaian Diri, hal ini ditandai dengan keengganan seseorang untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, kehilangan minat belajar, serta tidak berupaya untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
  4. Kelelahan Fisik, yang ditunjukkan melalui gangguan konsentrasi yang menyebabkan siswa kesulitan memusatkan perhatian dan memahami materi pembelajaran secara efektif.

Learning burnout tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

Faktor yang menjadi pemicu munculnya learning burnout pada siswa ada yang berasal dari diri sendiri (faktor internal) dan ada yang dari lingkungan sekitarnya (faktor eksternal).

Turunnya rasa percaya diri merupakan salah satu faktor internal dari diri sendiri.

Ketidak percayaan diri pada kemampuan yang dimiliki rentan terhadap stres dan kejenuhan belajar sebab ketidakmampuannya untuk memecahkan persoalan yang dihadapi dengan baik.

Dalam buku Psikologi Belajar, Afi Parnawi mengemukakan bahwa lingkungan belajar yang kurang mendukung, tingginya tuntutan akademik, serta metode pembelajaran yang monoton menjadi beberapa faktor utama penyebab kejenuhan belajar (Parnawi, 2019).

Selain itu, kondisi ruang belajar yang tidak memberikan variasi stimulus juga dapat mempercepat timbulnya burnout.

Siswa yang setiap hari belajar dalam suasana yang sama, dengan posisi duduk, tata ruang, dan pemandangan yang tidak berubah, cenderung mengalami penurunan motivasi dan antusiasme dalam mengikuti pembelajaran.

Perlu dipahami pula bahwa learning burnout bukan sekedar masalah individual, melainkan juga berkaitan dengan kondisi sistemik pendidikan.

Tuntutan akademik yang terlalu tinggi, perlakuan yang dianggap tidak adil, serta ketidaksesuaian antara ekspektasi sekolah dan kemampuan yang dimiliki siswa dapat menjadi pemicu munculnya burnout.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kejenuhan belajar sering kali lahir dari interaksi antara karakteristik individu dan lingkungan pendidikan yang kurang mendukung.

Oleh sebab itu, upaya mengatasi learning burnout tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan kemampuan siswa dalam mengelola stres, tetapi juga memerlukan perbaikan sistem pendidikan, termasuk kebijakan sekolah, pola evaluasi, dan suasana pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.

Implementasi Model Moving Class Indoor-Outdoor sebagai Strategi Mengurangi Learning Burnout 

Kondisi belajar terlalu lama bisa membuat tubuh, perasaan, dan pikiran terasa lelah. Hal ini terjadi karena tekanan belajar yang terus-menerus.

Salah satu alasan utamanya adalah karena lingkungan belajar yang kurang beragam, sehingga siswa kehilangan semangat dan keinginan untuk terus belajar.

Model moving class antara indoor dan outdoor dapat menjadi solusi untuk mengatasi situasi tersebut, karena memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam dengan memindahkan lokasi belajar dari dalam kelas ke lingkungan di luar kelas.

Menurut Broda (2011), memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan mendorong siswa memperoleh pengalaman belajar yang berbeda dari metode pengajaran biasa.

Variasi lingkungan belajar tersebut bisa membuat peserta didik lebih fokus, tertarik dan termotivasi belajar.

Selain menciptakan suasana yang berbeda, sistem moving class juga mendorong siswa untuk lebih banyak bergerak aktif.

Aktifitas fisik yang tidak terlalu berat yang dilakukan saat berpindah tempat belajar membantu menjaga Kesehatan tubuh dan pikiran siswa.

Pembelajaran outdoor dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan emosional, kesejahteraan mental, dan kesehatan siswa karena memungkinkan mereka berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas dan terbuka.

Model moving class indoor dan outdoor juga memperkuat pembelajaran yang lebih sesuai dengan konteks.

Dengan melakukan observasi, berdiskusi, dan menjelajahi lingkungan sekitar, siswa dapat menghubungkan materi yang diajarkan dengan kondisi nyata yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman belajar diluar kelas (outdoor) membuat pembelajaran lebih bermakna dan membantu siswa lebih aktif serta tertarik dalam proses belajar (Gilbertson et al., 2022).

Dengan demikian, implementasi model moving class indoor dan outdoor tidak hanya memperkaya lingkungan belajar tetapi juga meningkatkan gerakan fisik, partisipasi siswa, serta kualitas pengalaman belajar.

Kondisi tersebut bisa membuat siswa tidak merasa bosan dan mencegah terjadinya kelelahan akibat belajar yang berlebihan.

Kesimpulan

Model moving class adalah salah satu cara mengelola kelas yang memberikan pengalaman belajar lebih menarik dengan mengubah lokasi belajar sesuai dengan sifat materi yang diajarkan.

Menerapkan metode moving class yang menggabungkan pembelajaran antara indoor dan outdoor dapat menciptakan suasana belajar yang lebih beragam, relevan dengan konteks, dan fokus pada kebutuhan peserta didik.

Kondisi ini penting karena learning burnout pada siswa biasanya disebabkan oleh lingkungan belajar yang membosankan, beban tugas akademik yang berat, serta kurangnya partisipasi siswa dalam proses belajar.

Dengan menggunakan berbagai jenis belajar, meningkatkan gerakan tubuh, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, model moving class antara indoor dan outdoor dapat membantu meningkatkan semangat belajar, keikutsertaan, serta rasa nyaman siswa saat belajar.

Dengan demikian, penggunaan model ini bisa menjadi pilihan yang efektif untuk mengurangi rasa bosan saat belajar dan membantu menciptakan proses belajar yang lebih baik.


Penulis:
1. Atha Ivana
2. Ersya Laila Maghfirah
3. Ahmad Ahsani Taqwim
4. Ahmad Falikhul Isbah
5. Anggita Putri Fauzan
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya


Dosen Pengampu: Dra. Ilun Muallifah, M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

  1. Broda, H. W. (2011). Moving the Classroom Outdoors: Schoolyard-Enhanced Learning in Action. Stenhouse Publishers. https://books.google.co.id/books?id=J40Q_MNP-n0C&lpg=PP1&hl=id&pg=PP6#v=onepage&q&f=true
  2. Echols, J. M., & Shadily, H. (1996). Kamus Inggris Indonesia (Cetakan 22). Gramedia Pustaka Utama.
  3. Gilbertson, K., Ewert, A., Siklander, P., & Bates, T. (2022). Outdoor Education. Human Kinetics.
  4. Husamah. (2013). Pembelajaran Luar Kelas (Outdoor Learning) (Cetakan 1). Prestasi Pustaka Raya.
  5. Parnawi, A. (2019). Psikologi Belajar. DEEPUBLISH. https://books.google.co.id/books?id=P-YTEQAAQBAJ&lpg=PP1&hl=id&pg=PR4#v=onepage&q&f=true
  6. Setiyowati, A. J., Rachmawati, I., & Prihatiningsih, R. (2021). ACADEMIC BURNOUT SISWA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH. Media Nusa Creative.
  7. Suyadi. (2013). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Cetakan 2). Remaja Rosdakarya.
  8. Syah, M. (2012). Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada.
  9. Vera, A. (2012). Metode Mengajar Anak di Luar Kelas (Outdoor Study) (Cetakan 1). Diva Press.
  10. Widiasworo, E. (2018). Cerdas Pengelolaan Kelas (Daw (ed.); Cetakan 1). Diva Press. https://books.google.co.id/books?id=hZmyDwAAQBAJ&lpg=PA1&hl=id&pg=PA10#v=onepage&q&f=true

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses