Overconsumption: Kebiasaan Belanja yang Diam-Diam Merugikan Dompet dan Bumi

Dampak overconsumption
Dengan mempertimbangkan setiap pembelian secara lebih matang, kita tidak hanya menjaga kondisi keuangan pribadi, tetapi juga ikut mengurangi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh overconsumption. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Di era digital saat ini, membeli barang menjadi lebih mudah dari sebelumnya. Hanya dengan beberapa kali klik, seseorang bisa mendapatkan berbagai produk yang diinginkan.

Ditambah lagi dengan pengaruh media sosial yang terus menampilkan tren baru setiap harinya, banyak orang merasa terdorong untuk membeli sesuatu agar tidak ketinggalan zaman. Akibatnya, muncul fenomena yang dikenal sebagai overconsumption, yaitu kebiasaan mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan melebihi kebutuhan yang sebenarnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sekilas, membeli barang mungkin terlihat sebagai hal yang biasa. Namun, ketika dilakukan secara terus-menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan, kebiasaan ini dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak sederhana.

Banyak orang membeli pakaian yang hanya dipakai beberapa kali, produk kecantikan yang belum tentu digunakan sampai habis, atau barang-barang lain yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Keinginan untuk mengikuti tren sering kali lebih besar daripada pertimbangan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

Tingginya tingkat konsumsi membuat permintaan terhadap berbagai produk terus meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut, perusahaan harus memproduksi lebih banyak barang dan menggunakan lebih banyak bahan baku.

Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, sumber daya alam yang tersedia dapat semakin berkurang. Bahan baku seperti minyak bumi, logam, kayu, dan berbagai sumber daya lainnya tidak semuanya dapat diperbarui dengan cepat.

Ketika persediaannya semakin terbatas sementara kebutuhan terus meningkat, harga bahan baku pun cenderung naik. Hal ini tentu berdampak langsung pada kenaikan harga berbagai produk di pasaran.

Selain itu, kebiasaan membeli secara berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi keuangan seseorang. Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk memenuhi keinginan sesaat.

Bahkan, ada yang rela menggunakan fasilitas cicilan atau layanan paylater demi membeli barang yang sedang populer. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali, mengurangi kemampuan menabung, dan meningkatkan risiko terlilit utang.

Baca juga: Budaya Paylater: Solusi Ekonomi Modern atau Bom Waktu Utang Nasional

Dampak lain yang sering kali luput dari perhatian adalah bertambahnya jumlah limbah. Banyak barang yang dibeli karena tren hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum akhirnya dibuang atau digantikan oleh produk baru.

Pakaian, kemasan produk, hingga barang elektronik yang tidak lagi digunakan akan menumpuk menjadi sampah. Semakin banyak limbah yang dihasilkan, semakin besar pula biaya yang diperlukan untuk mengelolanya. Pada akhirnya, masalah ini tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan.

Fenomena overconsumption juga dapat memperlihatkan adanya ketimpangan dalam penggunaan sumber daya. Di satu sisi, sebagian orang mampu membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan melebihi kebutuhannya.

Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia tidak selalu dimanfaatkan secara bijak dan merata.

Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sadar dan bertanggung jawab. Membeli sesuatu seharusnya didasarkan pada kebutuhan, bukan semata-mata karena sedang tren atau dipengaruhi oleh apa yang dilihat di media sosial.

Baca juga: Belanja Cerdas: Cara Menghindari Pengeluaran yang Tidak Perlu

Dengan mempertimbangkan setiap pembelian secara lebih matang, kita tidak hanya menjaga kondisi keuangan pribadi, tetapi juga ikut mengurangi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh overconsumption.

Pada akhirnya, overconsumption bukanlah sekadar kebiasaan belanja berlebihan. Di baliknya terdapat berbagai konsekuensi yang dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan, mulai dari kondisi keuangan, ketersediaan sumber daya, hingga lingkungan.

Oleh karena itu, menjadi konsumen yang bijak merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi diri sendiri maupun masyarakat secara luas.


Penulis:
Arbina Margareth
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
Natasya Apriliani
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Irenne Putren, S.Pd., M.Pd.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses