Riset Psikologi: Pola Asuh Otoriter Picu Lonjakan Kecemasan dan Krisis Percaya Diri pada Remaja

Pola Asuh Otoriter

Praktisi pendidikan dan psikolog di Palembang menyoroti tajam lonjakan kasus gangguan kecemasan pada remaja usia 11 hingga 18 tahun, yang dipicu oleh pola asuh otoriter di lingkungan keluarga. Fenomena tersebut kini tengah menjadi perhatian serius seiring dengan meningkatnya laporan kasus gangguan regulasi emosi di kalangan pelajar akibat tingginya tekanan domestik.

Merujuk pada data pengasuhan yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pola asuh yang dicirikan dengan kendali mutlak, minimnya kehangatan, serta tuntutan kepatuhan tanpa kompromi terbukti memberikan dampak psikologis jangka panjang yang merusak. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan ini cenderung mengalami tekanan mental kronis akibat ruang berekspresi dan berpendapat yang dibatasi secara ketat oleh orang tua.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sesuai dengan teori psikologi perkembangan dari Diana Baumrind, dampak pertama yang paling signifikan dari pola pengasuhan kaku ini adalah timbulnya tingkat kecemasan (anxiety) yang tinggi. Anak remaja selalu dibayangi ketakutan akan melakukan kesalahan dan bayang-bayang hukuman yang akan diterima. Rasa takut yang konstan ini secara perlahan mengikis rasa percaya diri (self-esteem) mereka, sehingga membuat anak merasa tidak berharga dan tidak mampu mengambil keputusan secara mandiri di luar rumah.

Selain kecemasan, riset klinis psikologi remaja juga menunjukkan adanya hambatan serius pada sistem regulasi emosi anak. Karena tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapat atau memvalidasi apa yang mereka rasakan, remaja dari keluarga otoriter cenderung meluapkan emosinya dengan cara yang tidak sehat, seperti menjadi sangat agresif atau justru menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial (social withdrawal).

Para ahli psikologi menekankan pentingnya bagi orang tua untuk mulai menggeser gaya pengasuhan ke arah yang lebih demokratis atau otoritatif. Komunikasi dua arah, pemberian ruang untuk mendengar argumen anak, serta pemberian dukungan emosional yang seimbang dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kesehatan mental remaja sekaligus membangun fondasi kepercayaan diri yang kokoh demi masa depan mereka.


Penulis: Rizqia Ramadhani
Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang (UIN RF)


Editor: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses