Kampus bukan Sekadar Ruang Ilmu, melainkan Area Status Sosial

Foto: Dok. MMI

Kampus kerap menjadi tempat sebagai ruang untuk menimba ilmu tempat semua mahasiswa berdiri pada garis yang sama dan dinilai berdasarkan kemampuan intelektual.

Namun dalam praktiknya, kampus justru sering menjelma menjadi arena perbandingan status sosial dan reproduksi ketidakadilan yang dianggap wajar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Alih-alih menjadi ruang pembebasan, kampus kerap berfungsi sebagai etalase kelas sosial, di mana siapa yang melaju dan siapa yang tertinggal telah ditentukan jauh sebelum perkuliahan dimulai.

Fenomena ini sejalan dengan pemikiran Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu (1986), institusi pendidikan tidak pernah benar-benar netral.

Kampus berperan mereproduksi ketimpangan sosial melalui legitimasi modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural.

Artinya, mahasiswa yang berasal dari keluarga mapan tidak hanya membawa kemampuan akademik, tetapi juga jaringan, kepercayaan diri, dan gaya hidup yang diakui oleh sistem kampus itu sendiri.

Baca Juga: Ketimpangan Ekonomi dan Tantangan dalam Pernikahan di Kalangan Masyarakat Modern

Narasi kesetaraan yang selama ini digaungkan pun menjadi problematis. Kampus sering digambarkan sebagai tempat semua mahasiswa memiliki peluang yang sama.

Namun kenyataannya, narasi tersebut lebih sering menjadi mitos ketimbang fakta. Di balik slogan “pendidikan untuk semua”, status sosial tetap bekerja secara sistematis menentukan siapa yang melaju dan siapa yang tertinggal.

Ironisnya, ketimpangan ini tidak hanya dibiarkan, tetapi juga dinormalisasi bahkan sering kali tidak disadari.

Ketimpangan yang Disembunyikan oleh Sistem

Mahasiswa dari keluarga mapan memiliki privilese yang kerap luput dari perhatian: waktu luang untuk berorganisasi, modal mengikuti pelatihan berbayar, hingga jaringan sosial yang membuka peluang karier sejak dini.

Sebaliknya, mahasiswa dari kelas sosial bawah dipaksa berjuang sendirian—bekerja sambil kuliah, mengorbankan kesehatan, dan sering kali dicap “kurang aktif” atau “tidak kompetitif”.

Logika penilaian ini memperkuat ilusi meritokrasi. Menurut Michael J. Sandel (2020), meritokrasi modern menciptakan keyakinan keliru bahwa keberhasilan sepenuhnya hasil usaha individu, sementara kegagalan dianggap kesalahan pribadi.

Dalam konteks kampus, mahasiswa miskin yang tertinggal dinilai kurang berusaha, bukan sebagai korban dari sistem yang timpang sejak awal.

Akibatnya, ketidakadilan struktural disamarkan sebagai persoalan individu. Kampus gagal melihat bahwa tidak semua mahasiswa memulai dari titik yang sama.

Baca Juga: Militerisme dan Ketimpangan Gender: Ancaman Struktural terhadap Perempuan

Media Sosial dan Normalisasi Ketimpangan

Ketimpangan status sosial di kampus semakin diperparah oleh media sosial. Gaya hidup mewah sebagian mahasiswa diproduksi sebagai standar kesuksesan baru.

Tanpa disadari, generasi muda dipaksa berlomba membangun citra “berhasil”, meski harus berutang atau memaksakan diri melampaui kemampuan ekonomi mereka.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui pemikiran Jean Baudrillard. Menurut Baudrillard (1998), masyarakat modern hidup dalam logika konsumsi simbolik, di mana citra dan tanda kesuksesan lebih penting daripada realitasnya.

Media sosial membuat ketimpangan tampak normal, bahkan layak ditiru. Mereka yang tertinggal tidak diajak mempertanyakan sistem, melainkan diminta “lebih bersyukur”.

Pendidikan yang Gagal Membebaskan

Secara ideal, pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan. Namun, realitas menunjukkan sebaliknya.

Menurut Paulo Freire (2005), pendidikan yang gagal membebaskan justru berubah menjadi alat penindasan yang melanggengkan ketimpangan sosial.

Ketika kampus tidak peka terhadap kondisi sosial mahasiswanya, maka ia hanya berfungsi sebagai mesin seleksi kelas sosial.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pendidikan yang berorientasi pasar. Biaya penunjang meningkat, akses beasiswa terbatas, dan mahasiswa diposisikan sebagai konsumen pendidikan.

Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi masih menjadi faktor signifikan dalam akses dan keberlanjutan pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam situasi ini, mahasiswa dari kelas bawah sering kali hanya dijadikan statistik keberhasilan institusi, bukan subjek yang benar-benar diberdayakan.

Baca Juga: Pengaruh Circle Pertemanan terhadap Kenyamanan Pembelajaran Mahasiswa dalam Lingkup Kampus

Penutup

Sudah saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa semua mahasiswa memiliki peluang yang sama. Status sosial bukan ilusi—ia nyata dan berdampak langsung pada masa depan generasi muda.

Seperti yang ditegaskan Robert D. Putnam (2000), ketimpangan modal sosial membuat kelompok bawah semakin sulit mengakses peluang, bahkan dalam ruang yang disebut “akademik”.

Kampus harus memilih: menjadi ruang emansipasi pengetahuan atau justru pabrik ketimpangan sosial yang baru.

Generasi muda tidak membutuhkan motivasi kosong atau narasi sukses semu. Mereka membutuhkan sistem yang adil.

Dan keadilan tidak akan lahir dari diam, melainkan dari keberanian untuk mengkritik dan melawan ketimpangan yang selama ini dianggap normal.


Penulis: Gadiza Safitri Poeradiredja
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses