Analisis Fenomena Doom Spending dalam Perspektif Manajemen Keuangan Pribadi dan Perilaku Konsumen pada Generasi Z di Indonesia

Foto: Dok. MMI

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena doom spending yang tengah marak di kalangan Generasi Z Indonesia sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi global.

Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif manajemen keuangan pribadi dan perilaku konsumen, artikel ini mengeksplorasi bagaimana pesimisme terhadap masa depan memicu pengeluaran impulsif.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil analisis menunjukkan bahwa rendahnya literasi keuangan dan kemudahan akses teknologi finansial memperburuk perilaku gratifikasi instan.

Tulisan ini merekomendasikan penerapan prinsip manajemen keuangan disiplin sebagai strategi mitigasi risiko finansial jangka panjang.

Kata Kunci: Manajemen Keuangan Pribadi, Perilaku Konsumen, Doom Spending, Generasi Z.

I. Pendahuluan

Dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian belakangan ini telah melahirkan berbagai pergeseran pola konsumsi yang cukup signifikan di tengah masyarakat Indonesia.

Saat ini, muncul sebuah tren perilaku yang dikenal dengan istilah doom spending, di mana individu tetap melakukan pengeluaran besar untuk barang-barang mewah atau hiburan sesaat di tengah kondisi finansial yang sebenarnya tidak stabil.

Fenomena ini didorong oleh persepsi pesimisme terhadap masa depan ekonomi, seperti tingginya harga properti dan biaya hidup yang tidak sebanding dengan kenaikan upah, sehingga individu memilih untuk menghabiskan uangnya demi kepuasan jangka pendek.

Sebagai dampaknya, perilaku konsumtif yang irasional ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi makro maupun kesejahteraan finansial individu dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, memahami akar masalah dan implikasi dari fenomena ini menjadi sangat krusial bagi pengembangan literasi keuangan di tanah air sebagai langkah preventif terhadap krisis ekonomi pribadi.

II. Tinjauan Pustaka dan Pembahasan

Dalam perspektif ilmu manajemen, khususnya manajemen keuangan pribadi dan perilaku konsumen, doom spending merupakan indikasi nyata dari kegagalan fungsi perencanaan serta pengendalian alokasi sumber daya.

Secara teoritis, manajemen keuangan menuntut individu untuk melakukan penganggaran yang disiplin guna mencapai tujuan masa depan, namun tekanan psikologis akibat ketidakpastian ekonomi justru memicu timbulnya gratifikasi instan yang merusak tatanan anggaran tersebut.

Perilaku ini semakin diperparah dengan masifnya pengaruh media sosial dan kemudahan akses teknologi finansial seperti fitur paylater yang memfasilitasi belanja impulsif tanpa pertimbangan matang akan kemampuan bayar di masa depan.

Kegagalan dalam mengelola prioritas antara kebutuhan mendesak dan keinginan konsumtif mencerminkan rendahnya tingkat efisiensi individu dalam menjalankan peran manajerial terhadap aset pribadinya secara bijaksana.

Jika pola ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi berupa edukasi literasi keuangan yang sistematis dari berbagai pihak, maka risiko terjebak dalam utang konsumtif dan ketimpangan finansial yang permanen akan semakin sulit dihindari oleh generasi muda.

Upaya mitigasi terhadap tren belanja impulsif ini memerlukan implementasi prinsip-prinsip manajemen keuangan yang terukur, rasional, dan berkelanjutan.

Strategi manajemen keuangan pribadi mengharuskan setiap individu untuk mampu mengidentifikasi profil risiko serta menyusun skala prioritas pengeluaran berdasarkan prinsip urgensi yang didasarkan pada data arus kas pribadi.

Salah satu kerangka kerja manajerial yang dapat diadopsi adalah metode alokasi dana 50/30/20, yang membagi pendapatan ke dalam porsi kebutuhan pokok, keinginan, dan tabungan atau investasi secara tegas agar kendali keuangan tetap terjaga.

Selain aspek teknis, penguatan kecerdasan emosional dalam berbelanja juga menjadi bagian dari manajemen perilaku konsumen untuk memutus rantai belanja akibat stres atau pesimisme terhadap kondisi makroekonomi.

Melalui pengawasan mandiri yang ketat terhadap setiap rupiah arus kas keluar, seorang individu dapat membangun benteng pertahanan ekonomi yang lebih tangguh dalam menghadapi fluktuasi pasar yang tidak menentu.

Penerapan disiplin manajerial ini pada akhirnya tidak hanya menyelamatkan aset pribadi dari kehancuran, tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih produktif dan berorientasi pada nilai tambah finansial.

III. Kesimpulan

Sebagai simpulan, tantangan ekonomi di masa depan memerlukan kombinasi antara ketahanan mental yang kuat dan kecakapan manajerial yang mumpuni dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Kita harus menyadari bersama bahwa kebahagiaan semu yang diperoleh dari aktivitas belanja impulsif merupakan kompensasi psikologis yang merugikan stabilitas masa depan dan menurunkan nilai kekayaan bersih individu.

Perubahan mendasar dalam pola pikir manajemen finansial, dari yang semula berbasis keinginan impulsif menjadi berbasis tujuan jangka panjang, adalah langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi demi keberlangsungan hidup.

Hanya dengan komitmen pada manajemen keuangan yang sehat dan terencana, masyarakat Indonesia dapat terlepas dari jebakan konsumerisme dan membangun fondasi ekonomi yang mandiri serta berkelanjutan.

Fondasi keuangan yang kokoh inilah yang nantinya akan menjadi kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan struktural dan mewujudkan kesejahteraan bagi generasi mendatang di tengah persaingan global yang kian kompetitif.


Penulis:
1. Alvin (0301522009)
2. Alpitoh Pathul Pais (0301522008)
3. Shadam Wildan (0301521055)
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Al-Azhar Indonesia


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Amanah, F. (2024, 27 Mei). Mengenal Doom Spending, Fenomena Belanja Impulsif saat Ekonomi Tidak Pasti. Diakses dari CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com

CNN Indonesia. (2024, 18 April). Ramai Fenomena Doom Spending di Kalangan Gen Z, Apa Itu?. Diakses dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com

Detikfinance. (2024, 15 Mei). Doom Spending Jadi Tren Baru Gen Z, Belanja Gila-gilaan karena Pesimis. Diakses dari Detik.com: https://finance.detik.com

Gischa, S. (2024, 30 Mei). Memahami Doom Spending: Penyebab dan Cara Mengatasinya. Diakses dari Kompas.com: https://www.kompas.com

Sikapi Uangmu OJK. (2023). Pentingnya Perencanaan Keuangan di Tengah Ketidakpastian. Diakses dari Otoritas Jasa Keuangan: https://www.google.com/search?q=https://sikapiuangmu.ojk.go.id

Tempo.co. (2024, 22 April). Doom Spending: Mengapa Generasi Muda Lebih Memilih Belanja daripada Menabung?. Diakses dari Tempo.co: https://www.tempo.co

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses