Karya profetik gereja dalam bidang ekonomi adalah sebuah panggilan fundamental untuk menantang struktur ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang mendominasi dunia modern.
Ini bukan sekadar tentang memberikan bantuan sosial, tetapi tentang sebuah visi transformatif yang menuntut sistem ekonomi untuk melayani kesejahteraan semua manusia, bukan hanya segelintir elite.
Secara historis, akar teologis dari panggilan ini dapat ditemukan dalam ajaran para nabi Perjanjian Lama yang mengecam penindasan kaum miskin, manipulasi pasar, dan ketidakadilan agraria.
Mereka mengingatkan bahwa ekonomi harus berlandaskan pada keadilan ilahi, bukan semata-mata pada keuntungan.
Semangat ini dilanjutkan oleh Yesus Kristus, yang bersekutu dengan orang-orang yang terpinggirkan dan mengajarkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang memprioritaskan mereka yang rentan, menantang materialisme dan kekuasaan uang.
Baca Juga: Pentingnya Penegakan Nilai-Nilai Pancasila dalam Ekonomi dan Pendidikan
Di era modern, gereja telah menanggapi panggilan ini melalui berbagai gerakan dan ajaran.
Ajaran Sosial Katolik, yang dimulai dengan ensiklik Rerum Novarum (1891), secara sistematis mengkritik kapitalisme yang tidak terkendali dan menyerukan hak-hak pekerja.
Di Amerika Latin, Teologi Pembebasan muncul sebagai tanggapan radikal terhadap kemiskinan struktural, menegaskan bahwa iman harus diinterpretasikan dari perspektif kaum miskin dan mendorong gereja untuk berpartisipasi aktif dalam perjuangan untuk keadilan sosial.
Meskipun demikian, dihadapkan pada kapitalisme global yang kompleks dan ketidaksetaraan yang dipercepat oleh teknologi, gereja harus melampaui kritik dan menawarkan strategi yang konkret.
Pada tingkat mikro, gereja dapat memberdayakan komunitasnya melalui inisiatif ekonomi solidaritas seperti koperasi dan bisnis sosial, yang memprioritaskan kesejahteraan bersama di atas laba.
Pada tingkat meso, gereja harus aktif dalam advokasi kebijakan publik yang adil, mendukung upah minimum yang layak dan hak-hak buruh.
Pada tingkat makro, gereja dipanggil untuk menantang sistem ekonomi global yang tidak adil dan menyerukan reformasi yang memprioritaskan manusia dan planet di atas keuntungan.
Baca Juga: Memahami Kemiskinan dan Diskriminasi dalam Terang Rerum Novarum
Pada akhirnya, karya profetik gereja adalah panggilan untuk mengubah cara pandang kita terhadap ekonomi.
Ini adalah seruan untuk meninggalkan model konsumerisme dan akumulasi kekayaan yang tak terbatas, dan sebaliknya, merangkul visi ekonomi yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan martabat setiap individu.
Melalui tindakan nyata baik dalam komunitas lokal maupun melalui advokasi global gereja dapat menjadi suara kenabian yang sangat dibutuhkan, menginspirasi dunia untuk membangun tatanan ekonomi yang lebih manusiawi dan adil.
Baca Juga: Kelas Menengah di Persimpangan: Antara Resiliensi dan Ancaman Kemiskinan
Penulis: Yasinta Ernil
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Keagamaan Katolik (PAK), Stipass St.Sirilus Ruteng
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












