Di negeri agraris seperti Indonesia, sebuah ironi besar terjadi: petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan justru hidup dalam keterpurukan ekonomi.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan besar di sektor pertanian dan pangan bisa tumbuh pesat dan mencetak keuntungan triliunan.
Pertanyaannya, kenapa korporasi bisa cepat kaya, sedangkan petani tetap sengsara?
Distribusi yang Panjang vs Distribusi yang Efisien
Salah satu penyebab utama ketimpangan ini terletak pada rantai distribusi. Korporasi memiliki akses langsung ke pasar.
Mereka membentuk tim sales profesional, menggunakan teknologi digital, bahkan menjual langsung ke konsumen melalui e-commerce atau platform retail modern.
Alhasil, rantai distribusi mereka sangat pendek, biaya logistik lebih kecil, dan margin keuntungan lebih besar.
Bandingkan dengan petani. Untuk bisa menjual hasil panennya, mereka harus melewati banyak perantara: pengepul desa, tengkulak, pedagang pasar, distributor besar, hingga akhirnya sampai ke konsumen.
Baca Juga: Jeratan Utang dan Ketergantungan Tengkulak: Kisah Nyata Petani Kita
Ini disebut sebagai rantai distribusi panjang yang penuh dengan potongan harga di setiap titiknya. Pada akhirnya, harga jual petani sangat rendah, tetapi harga beli konsumen sangat tinggi.
Di tengah-tengahnya, para perantara justru menikmati keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati oleh petani.
Setiap mata rantai mengambil bagian keuntungan, sementara petani hanya menerima sekitar 20–40% dari harga akhir.
Ini membuat produk petani kalah bersaing dan pendapatan mereka tertekan.
Kenapa Petani Tidak Sejahtera di Indonesia?
Ketergantungan pada Tengkulak
Banyak petani yang tidak punya akses ke modal atau informasi pasar. Akibatnya, mereka terjebak dalam sistem utang-piutang dengan tengkulak yang memaksa mereka menjual hasil panen dengan harga sangat rendah.
Kurangnya Akses Teknologi dan Pendidikan
Sebagian besar petani tidak mendapat pelatihan pertanian modern. Mereka masih menggunakan metode tradisional yang kurang efisien. Hal ini berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi yang rendah.
Tidak Terorganisir dengan Baik
Petani di Indonesia cenderung bekerja secara individu atau kelompok kecil tanpa kekuatan tawar yang berarti.
Minimnya koperasi atau organisasi petani yang kuat membuat mereka lemah dalam negosiasi harga.
Kebijakan dan Subsidi yang Tidak Merata
Bantuan pemerintah sering tidak tepat sasaran. Selain itu, sistem subsidi pupuk dan benih masih rawan penyelewengan, sehingga tidak dinikmati secara penuh oleh petani yang berhak.
Minimnya Hilirisasi dan Akses Pasar Langsung
Berbeda dengan korporasi yang bisa mengolah produk pertanian menjadi produk turunan bernilai tinggi, petani umumnya hanya menjual dalam bentuk mentah.
Mereka juga tidak punya akses langsung ke pasar modern seperti supermarket atau ekspor.
Di tengah ketimpangan ini, program Koperasi Merah Putih yang digagas oleh Pak Prabowo bisa menjadi angin segar. Dengan pendekatan koperasi modern, petani bisa:
- Menjual langsung ke pasar tanpa perantara
- Mengakses modal dan teknologi
- Meningkatkan posisi tawar di pasar
Jika dijalankan dengan transparan dan inklusif, koperasi ini bisa memangkas rantai distribusi dan meningkatkan farmer’s share hingga 60–80%.
Korporasi cepat kaya karena efisiensi, sistem, dan kekuatan pasar. Petani sengsara karena keterbatasan dan distribusi yang tidak adil.
Baca Juga: Green Digital Entrepreneurship: Solusi Cerdas Petani Tropis Hadapi Food Loss
Kini, solusi konkret sudah mulai tampak melalui Koperasi Merah Putih sebagai bentuk keberpihakan nyata pada petani dan UMKM.
Namun keberhasilan koperasi ini akan ditentukan oleh komitmen, transparansi, dan dukungan semua pihak.
Negara harus hadir, bukan hanya lewat program, tetapi dengan memastikan petani punya akses, kekuatan, dan kedaulatan di negeri sendiri.
Penulis:
1. Afitri Sondang Siringo-ringo
2. Devi Anggraini Sipayung
3. Intan Kelara Br. Surbakti
4. Helena Sihotang
Mahasiswa dan Dosen Prodi Manajemen, Universitas Katolik Santo Thomas
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












