Ketahanan Mental Remaja di Era Digital

slogan ketahanan mental remaja
Ketahanan Mental Remaja di Era Digital. Sumber: MMI.

Drama Perempuan dengan Sejuta Pertanyaan dalam Hidup menggambarkan perjalanan emosional seorang perempuan bernama Nala yang harus berhadapan dengan diagnosis kanker di usia produktif.

Kisah ini menyoroti bagaimana tekanan psikologis tidak hanya datang dari penyakit fisik, tetapi juga dari informasi yang salah, stigma sosial, dan kurangnya literasi digital dalam memahami kondisi kesehatan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada bagian awal cerita, Nala digambarkan sebagai seseorang yang tiba-tiba kehilangan kendali atas hidupnya setelah menerima diagnosis medis yang berat.

Ketakutannya semakin membesar ketika ia mencoba mencari informasi melalui media sosial dan internet yang penuh dengan konten menakutkan, tidak kredibel, dan bersifat clickbait.

Situasi ini memperlihatkan bahwa rendahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi kesehatan dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Alih-alih mendapatkan pemahaman, Nala justru terjebak dalam kecemasan, pikiran negatif, dan rasa putus asa.

Konflik juga muncul dari lingkungan sosial Nala. Komentar bernada sindiran dari rekan kerjanya memperparah tekanan batin yang ia rasakan, sedangkan dukungan teman dekat dan keluarganya baru memiliki peran besar ketika ia mulai membuka diri.

Pada tahap ini, drama menunjukkan bahwa dukungan sosial sangat penting dalam menjaga kestabilan emosi individu yang sedang menghadapi masalah kesehatan serius.

Hal penting lainnya yang diangkat adalah bagaimana stigma terhadap bantuan psikologis membuat Nala awalnya menolak dirujuk ke psikolog. Ia menganggap bahwa mencari bantuan profesional berarti dirinya lemah atau “tidak waras”.

Pandangan ini menggambarkan realitas yang banyak terjadi, di mana masyarakat masih memandang layanan kesehatan mental secara keliru. Namun seiring berjalannya cerita, Nala mulai memahami bahwa mengelola kesehatan mental sama pentingnya dengan mengobati kondisi fisiknya.

Pertemuannya dengan psikolog menjadi titik balik yang membantu Nala belajar mengenali emosinya, menenangkan pikirannya, dan membangun kembali cara pandang yang lebih realistis terhadap kondisinya.

Perubahan positif ini diperkuat oleh peran keluarga, terutama ibunya, yang memberikan dukungan emosional tanpa syarat. Dukungan tersebut membantu Nala merasa tidak sendirian dan memberikan kekuatan baru untuk menjalani proses pengobatan.

Secara keseluruhan, drama ini memberikan pesan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental berjalan berdampingan. Literasi informasi di era digital sangat menentukan bagaimana seseorang merespons situasi krisis dalam hidupnya.

Kemampuan untuk memilah sumber informasi, keberanian untuk mencari bantuan profesional, serta dukungan dari lingkungan sosial menjadi faktor penting yang membantu seseorang bangkit dari kondisi emosional yang berat.

Melalui kisah Nala, drama ini menegaskan bahwa proses penyembuhan bukan hanya soal tubuh yang kembali kuat, tetapi juga soal bagaimana seseorang merawat pikiran dan perasaannya dengan baik.

Link Youtube

 

Penulis:
1. Ratumas Cindy Adelia G1C124007
2. ⁠Rasya Ananda Alwis G1C124008
3. Bunga Lestari G1C124026
4. ⁠Dyan Ayu Fitria G1C124033
5. ⁠Tethania Aurora Putri Hasibuan G1C124034
6. ⁠Nazwa Arinby Ramadhini G1C124037
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi

Dosen Pengampu:
1. Agung Iranda, S.Psi., M.A.
2. Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi.
3. Dr. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.
5. Ayu Ulivia, M.Pd.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses