Banyak anak Indonesia berangkat sekolah hanya dengan sarapan seadanya, nasi, mi instan, atau gorengan. Mereka memang kenyang, tetapi dibalik itu, ada masalah gizi yang sering tidak terlihat. Padahal, Indonesia punya banyak sumber makanan.
Masalahnya, belum semua anak bisa makan dengan gizi cukup. Sekarang hal-hal mengenai gizi anak bukan lagi sekadar soal kelaparan. Namun, yang menjadi masalah, makanan bergizi makin sulit dijangkau banyak orang.
Dalam artikel Kompas.com berjudul “Kepala BGN: 60 Persen Anak Indonesia Tak Punya Akses Penuhi Gizi Seimbang” (16 Juni 2025), mayoritas anak Indonesia masih merasa kesulitan makan sesuai dengan standar gizi. Mereka makan, tetapi kualitas makanannya minim, protein, serat, vitamin, mineral, semua kurang.
Artikel pada Katadata (18 Maret 2024) juga sempat melaporkan bahwa harga telur tembus rekor yaitu lebih dari Rp 40.000 per kilogram di beberapa daerah. Data Antara News (25 April 2025) juga menunjukkan harga telur nasional sekitar Rp30.152 per kilogram. Jelas, sumber protein utama makin sulit dijangkau, terutama untuk keluarga yang penghasilannya pas-pasan.
Masalah semakin runyam karena harga bahan pangan tidak rata di seluruh daerah di Indonesia. Di Jawa, telur dijual Rp22.500–Rp24.000 per kilogram, namun di Maluku atau Papua harganya bisa dua kali lipat. Distribusi makanan di Indonesia juga masih jauh dari kata efisien, terutama pada pangan bergizi.
Akibatnya, keluarga berpenghasilan rendah di daerah mahal terpaksa memilih makanan yang murah, walau gizinya kurang. Nasi, gorengan, atau mi instan menjadi menu sehari-hari, bukan karena suka, tetapi karena terpaksa.
Ini tidak hanya mengenai makanan, ada ketimpangan sosial-ekonomi yang lebih besar di baliknya. Produksi pangan nasional naik, akan tetapi daya beli masyarakat untuk makanan sehat tidak ikut naik. Banyak orang bicara tentang ketahanan pangan, biasanya fokus ke produksi beras atau swasembada.
Namun, kenyataannya jauh lebih rumit. Dalam SDG nomor 2, tantangannya bukan hanya semua orang bisa makan, tetapi juga semua orang makan dengan gizi yang cukup dan seimbang.
Menurut saya, yang paling mendesak sekarang adalah memperkuat kebijakan mengenai akses gizi anak, bukan hanya soal pasokan pangan. Pemerintah sudah siapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran sekitar Rp15.000 per anak per hari. Tetapi, seperti yang diulas Kompas.id (27 November 2024), kebijakan ini harus benar-benar tepat sasaran. Jika semua anak disamakan, program ini bisa gagal.
Kita harus fokus harus ke daerah yang harga makanannya tinggi dan angka kekurangan gizinya parah agar program tersebut berjalan dengan baik dan tidak mengalami kehambatan di logistik, menu MBG sebaiknya menggunakan makanan lokal seperti ikan air tawar, tempe, atau sayuran setempat.
Di lain sisi, pendidikan gizi sering dilupakan. Banyak keluarga sebenarnya mampu beli makanan sehat, tetapi mereka tidak tahu cara membuat pola makan yang seimbang. Kampanye seperti Isi Piringku dari Kemenkes harus digencarkan agar masyarakat tahu, makanan bergizi tidak selalu mahal.
Baca Juga: Gizi Seimbang Dimulai dari Evaluasi Pangan yang Tepat
Pemerintah daerah juga bisa gandeng posyandu dan sekolah untuk mengajarkan cara membuat makanan sehat, murah, dan berbasis bahan lokal. Tanpa pemantauan harga pangan yang cepat dan transparan, kebijakan apa pun akan sia-sia. Data dari Bapanas dan PIHPS harus digunakan agar kenaikan harga bisa segera diatasi. Jika intervensi cepat, keluarga kecil tidak perlu lagi menukar gizi anak dengan sekadar rasa kenyang.
SDGs 2 bukan hanya menghapus kelaparan, terapi memastikan semua anak Indonesia tumbuh sehat dengan gizi cukup. Bangsa besar butuh generasi yang sehat, cerdas, dan kuat, bukan sekadar kenyang. Menjamin akses gizi yang adil adalah hal kemanusiaan dan strategi pembangunan jangka panjang, anak-anak Indonesia tetap akan merasa lapar di masa depan jika hari ini mereka hanya makan karbohidrat tanpa nutrisi cukup.
Penulis: Davina Teo
Mahasiswa Program Studi Desain Grafis Universitas Brawijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google New
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












