Gizi Seimbang Dimulai dari Evaluasi Pangan yang Tepat

Pelajari pentingnya evaluasi pangan bergizi dalam mendukung pola makan sehat. Dapatkan wawasan dan strategi untuk meningkatkan gizi di kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi makanan bergizi, gambar dibuat dengan AI.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai penunjang kesehatan dan keberlangsungan hidup. Setiap makanan yang dikonsumsi harus mengandung zat gizi yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Menurut Wijinindyah et al. (2024), bahan pangan berasal dari berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, dan peternakan yang masing-masing memiliki kandungan gizi berbeda tergantung pada cara budidaya, panen, dan pengolahannya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Gizi pangan memegang peranan penting dalam menjaga fungsi tubuh manusia agar tetap optimal. Tubuh memerlukan keseimbangan antara makronutrien dan mikronutrien untuk menunjang metabolisme dan regenerasi sel.

Muthiah et al., (2022) menyebutkan bahwa konsumsi makanan bergizi seimbang tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada fungsi mental dan perilaku manusia.

Dengan demikian, memastikan kualitas gizi pangan akan menjadi langkah yang penting dalam mendukung kesehatan masyarakat dan menciptakan generasi yang produktif. Namun, nilai gizi pangan tidak bersifat tetap.

Proses pertanian, penanganan pascapanen, hingga pengolahan dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan zat gizi tertentu.

Misalnya, perlakuan suhu tinggi dalam proses memasak bisa menurunkan kadar vitamin C dan B kompleks, sedangkan fermentasi justru dapat meningkatkan ketersediaan protein dan daya cerna bahan pangan (Wijinindyah et al., 2024).

Dalam konteks pengawasan pangan, evaluasi nilai gizi menjadi alat penting untuk memastikan mutu dan keamanan pangan yang beredar di masyarakat.

Badan POM (2019) menjelaskan bahwa evaluasi mutu gizi mencakup analisis kuantitatif terhadap kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral, serta evaluasi non-gizi seperti kadar air, abu, dan senyawa bioaktif.

Proses evaluasi ini tidak hanya penting bagi produsen untuk menjamin kualitas produknya, tetapi juga bagi konsumen agar mengetahui apa yang dikonsumsi sesuai dengan label gizi. Selain untuk kepentingan industri dan regulasi, evaluasi nilai gizi juga berperan dalam penelitian dan pengembangan produk pangan baru.

Muthiah et al., (2022) menekankan bahwa setiap produk pangan harus melewati tahap evaluasi kimia, mikrobiologis, dan biologis untuk menentukan kesesuaian kandungan gizinya dengan standar kesehatan.

Pengujian ini mencakup uji proksimat (air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat), analisis mikroba untuk memastikan keamanan, serta evaluasi biologis untuk menilai daya cerna dan potensi alergi.

Evaluasi nilai gizi juga menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pangan nasional. Pemerintah melalui Badan POM dan Kementerian Pertanian terus mengembangkan standar penilaian mutu pangan untuk menjamin ketersediaan pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat.

Dalam Pedoman Evaluasi Mutu Gizi dan Non Gizi Pangan, disebutkan bahwa mutu gizi yang tidak memadai dapat berdampak pada status gizi dan kesehatan masyarakat secara luas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Baca Juga: Menelusuri Tantangan Ketersediaan Pangan Bergizi dalam Mencapai Ketahanan Pangan

Evaluasi nilai gizi juga penting di tengah meningkatnya tren pangan olahan dan cepat saji. Banyak produk di pasaran yang menawarkan kemudahan konsumsi, tetapi rendah nilai gizi.

Wijinindyah et al., (2024) menegaskan bahwa kualitas gizi bahan pangan sering kali menurun akibat proses pengemasan dan penyimpanan yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan kehilangan vitamin, perubahan warna, dan penurunan kualitas sensorik.

Dalam skala yang lebih luas, evaluasi gizi juga berperan penting dalam upaya ketahanan pangan dan peningkatan daya saing produk lokal. Produk hasil pertanian yang telah dievaluasi nilai gizinya akan lebih mudah diterima di pasar global karena memenuhi standar mutu internasional.

Seperti dijelaskan oleh Badan POM (2019), analisis mutu gizi juga dapat membantu industri pangan kecil dan menengah dalam meningkatkan kualitas produk agar layak edar dan aman dikonsumsi.

Pada akhirnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya evaluasi nilai gizi perlu terus ditingkatkan. Mengonsumsi makanan bergizi bukan hanya soal kenyang, tetapi juga tentang memberikan asupan terbaik bagi tubuh.

Evaluasi nilai gizi menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kesehatan public mengarahkan kita untuk tidak hanya makan lebih banyak, tetapi makan dengan lebih cerdas dan sehat.

Penulis: Devika Igunastuti
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Dosen Pengampu: Winda Nurtiana, S.T.P., M.Si.

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2019. Pedoman Evaluasi Mutu Gizi dan Non Gizi Pangan. Direktorat Standardisasi Pangan Olahan: Jakarta.

Muthiah, A., Wulan, H., Mulia, S., Okwisan, S., dan Fevria, R. 2022. Nutritional Value of Food: Nilai Gizi Bahan Pangan. Prosiding SEMNAS BIO 2022, UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.

Wijinindyah, A., Julianti, E., Budaraga, I.K., Priyadi, S., dan Astuti, S.D. 2024. Evaluasi Gizi Hasil Pertanian. CV Hei Publishing Indonesia: Padang.

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses