Belakangan ini, situasi ekonomi sedang tidak menentu.
Kita bisa melihatnya sendiri dari harga barang-barang pokok yang terus merangkak naik, nilai rupiah yang melemah, hingga berita tentang gelombang PHK yang menghantui dunia kerja.
Di tengah situasi yang membingungkan, masyarakat sebenarnya tidak hanya butuh kebijakan ekonomi yang baik saja, tapi juga butuh penjelasan yang jujur, menenangkan, dan mudah dimengerti dari pemerintah.
Sayangnya, yang sering kita rasakan justru sebaliknya.
Ketika masyarakat sedang pusing memikirkan isi dompet, sistem komunikasi dari pihak pemerintah dan pemangku kebijakan terkesan seperti sedang ‘tidur’.
Informasi yang disampaikan ke publik sering kali terlambat, terkesan sekadar basa-basi, atau dipenuhi bahasa statistik yang sulit dipahami orang awam.
Akibatnya, masyarakat merasa tidak tenang dan mulai kehilangan kepercayaan.
Jika dibedah, masalah utama dari mandeknya komunikasi ini adalah adanya jarak yang jauh antara data di atas kertas dengan kenyataan di lapangan.
Pemerintah sering kali sibuk mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita masih aman dan positif.
Padahal, kenyataan yang dihadapi emak-emak di pasar atau buruh di pabrik adalah daya beli yang makin menjerit.
Kesenjangan informasi inilah yang membuat komunikasi publik dinilai tidak punya empati.
Pihak yang terlibat dalam masalah ini tentu saja pemerintah sebagai pemberi informasi resmi, media massa sebagai penyambung lidah, dan kita semua sebagai masyarakat.
Sayangnya, koordinasi antarlembaga pemerintah sering kali tidak kompak.
Kadang, pejabat yang satu bilang ekonomi aman, tapi pejabat yang lain bilang kita harus siap-siap ikat pinggang. Hal ini bikin masyarakat makin bingung.
Ditambah lagi, media massa kadang ikut-ikutan menggoreng berita demi mencari klik penonton, yang akhirnya malah menambah kepanikan.
Krisis komunikasi ini terjadi di seluruh Indonesia, namun hiruk pikuk paling terasa di media sosial terutama di momen-momen sensitif seperti saat harga bensin mau naik atau bahan pangan mulai langka.
Di saat-saat kritis seperti itulah ruang publik sering kali dibiarkan kosong tanpa kejelasan, sehingga masyarakat menerka-nerka sendiri nasib mereka.
Mengapa pemerintah hobi ‘tidur’ saat krisis? Akar masalahnya adalah pola pikir komunikasi kuno yang masih satu arah.
Ada ketakutan di kalangan birokrat bahwa kalau mereka jujur bilang kondisi ekonomi sedang sulit, masyarakat akan panik atau pasar saham akan anjlok.
Padahal di era digital sekarang, masyarakat bisa langsung tahu kondisi asli lewat media sosial.
Ketika pemerintah menutup-nutupi masalah dengan bahasa yang diperhalus, masyarakat justru akan mencari info dari sumber lain yang belum tentu benar.
Lalu, bagaimana dampaknya dan apa solusinya?
Dampak paling nyata dari komunikasi yang pasif ini adalah suburnya hoaks ekonomi dan disinformasi keuangan yang bisa memicu kepanikan massal (seperti aksi borong barang atau penarikan uang besar-besaran).
Untuk memperbaikinya, sistem komunikasi kita harus segera ‘bangun’.
Pemerintah harus mulai belajar memakai komunikasi krisis yang jujur, memakai bahasa yang membumi, serta mau mendengarkan keluhan langsung dari masyarakat bawah.
Kesimpulannya, dalam menghadapi krisis ekonomi, mengelola perasaan dan pemahaman masyarakat lewat komunikasi yang baik itu sama pentingnya dengan mengelola uang negara.
Ketika ekonomi sedang lesu, komunikasi publik tidak boleh abai. Ia harus hadir di garda terdepan untuk memberikan arah dan kepastian.
Hanya dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, kita bisa saling percaya dan bergotong royong untuk keluar dari masa-masa sulit ini.
Dengan dipublikasikannya artikel opini ini, yang sepenuhnya disusun oleh penulis Yeni Sinta, dengan bimbingan dosen pengampu, Bapak Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., diharapkan dapat memberikan Gambaran mengenai sudut pandang seorang akademisi terkait ekonomi dan sistem komunikasi Indonesia di masa sekarang.
Penulis: Yeni Sinta
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus Surabaya
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












