Dalam era modern ini, di mana informasi dan komunikasi mudah diakses, konsep asimilasi budaya kerap dikedepankan sebagai cara menyatukan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Namun, tidak semua individu diterima dengan sepenuhnya di komunitas baru, yang sering kali berujung pada krisis identitas.
Krisis ini terjadi ketika seseorang merasa tidak diterima, baik oleh komunitas asal maupun masyarakat baru yang coba diadopsinya. Isu ini menjadi fokus cerpen Going Home karya Archie Weller, seorang penulis asal Australia yang juga memenangkan The Australian/Vogel Literary Award pada tahun 1980 melalui novel The Day of The Dog.
Cerpen Going Home menceritakan tentang konflik batin yang dialami oleh seorang pemuda Aborigin bernama William Jacob Woodward, atau Billie. Billie merasakan bahwa ia terperangkap di antara dua dunia yang berbeda.
Di satu sisi, ia masih bagian dari ras Aborigin, tetapi di sisi lain, ia telah lama hidup di kota, sehingga kampung halamannya terasa asing baginya. Identitasnya sebagai seorang Aborigin berhadapan dengan pandangan negatif masyarakat kulit putih terhadap dirinya, menciptakan konflik batin yang mendalam.
Krisis Identitas yang dialami Billie
Billie digambarkan sebagai individu yang terhimpit di antara dua identitas budaya. Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, ia pindah ke kota untuk melanjutkan studi dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda.
Kehidupan di kota memaksa Billie untuk mengadopsi gaya hidup masyarakat kulit putih dan sedikit demi sedikit meninggalkan identitas lamanya sebagai seorang Aborigin. Seiring berjalannya waktu, Billie berhasil meraih kesuksesan di kota, tetapi ia merasa bahwa ia tidak sepenuhnya diterima dalam masyarakat kulit putih.
Keresahan Billie semakin memuncak ketika ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah lima tahun berlalu. Kunjungan ini menjadi titik balik bagi Billie karena ia menyadari betapa asingnya dirinya di mata keluarganya sendiri.
Penampilannya, cara berbicaranya, serta tingkah lakunya kini berbeda dari kebiasaan orang Aborigin, sehingga keluarganya dan komunitasnya memandangnya sebagai orang luar. Ini menunjukkan bahwa meskipun ia telah berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan budaya baru, ia kini kehilangan identitas asli dan tidak diterima oleh kedua dunia tersebut.
Manifestasi Keterasingan dan Putus Asa
Karakter Billie dalam cerpen ini menjadi simbol dari keterasingan dan krisis identitas yang dialami oleh banyak orang Aborigin yang berusaha merangkul budaya Barat. Perjalanannya kembali ke kampung halaman, baik secara fisik maupun mental, adalah upaya untuk menemukan jati dirinya yang hilang. Namun, alih-alih mendapatkan kepastian tentang identitasnya, ia justru terjebak di antara dua dunia yang tidak lagi sepenuhnya bisa ia raih.
Pada akhir cerita, Billie yang pasrah ditangkap oleh polisi kulit putih atas tuduhan perampokan yang tidak dilakukannya. Hal ini menggambarkan puncak dari keputusasaan yang dirasakannya. Ia kehilangan tempat di dunia, baik dalam masyarakat Aborigin maupun dalam masyarakat kulit putih, dan tidak tahu lagi di mana ia pantas berada.
Baca juga: Keberadaan dan Bentuk Transformasi Cerita Panji
Pesan Archie Weller tentang Asimilasi Budaya
Melalui karakter Billie, Archie Weller ingin menyampaikan kepada pembaca tentang bahaya melupakan asal-usul dan budaya tradisional demi menjadi bagian dari budaya lain yang belum tentu mau menerima sepenuhnya.
Weller tidak menolak gagasan asimilasi budaya, tetapi ia menekankan pentingnya menjaga akar budaya sebagai identitas diri dan komunitas. Budaya tradisional bukan hanya sekadar warisan, tetapi juga sebagai petunjuk ketika seseorang berada di tempat yang jauh dan asing.
Cerpen Going Home dengan karakter Billie sebagai pusat narasi, menyoroti dilema yang dihadapi oleh banyak orang dalam masyarakat multikultural. Asimilasi mungkin menawarkan jalan menuju kesuksesan material, tetapi bila tidak diimbangi dengan pemahaman dan penerimaan budaya asal, individu tersebut bisa kehilangan jati dirinya.
Archie Weller, melalui karya ini, mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya melestarikan identitas budaya, sekaligus memahami batasan-batasan asimilasi yang dapat menimbulkan krisis identitas.
Penulis: Afdal
Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Andalas
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















