Ketika Sopan Santun Menjadi Penjara Pikiran

sopan santun
Foto: Freepik

Indonesia sering dipuji sebagai bangsa paling ramah sedunia. Senyum mudah mengembang, tangan ringan menolong, dan kata “permisi” terasa lebih sakral dari paspor.

Bahkan menurut survei Internations.org tahun 2024, Indonesia pernah nangkring di jajaran teratas negara paling ramah di dunia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kita bangga. Bangga banget. Saking bangganya, kadang lupa bertanya: ramah ke siapa dan dengan harga apa?

Sebab di balik keramahan itu, ada satu kebiasaan yang jarang dibicarakan: kita terlalu takut dianggap tidak sopan.

Takut menyela. Takut bertanya. Takut berbeda pendapat. Takut mengkritik, apalagi kalau yang dikritik lebih tua, lebih tinggi jabatannya, atau minimal lebih dulu lahir.

Sejak kecil kita dicekoki mantra sosial “jangan membantah orang tua”, “anak baik itu nurut”, “diam itu emas”. Kalimat-kalimat ini diwariskan dengan niat baik demi harmoni, demi ketertiban.

Tapi seperti banyak warisan lain, ia jarang diperiksa ulang. Kita menerimanya utuh, lalu menyimpannya di kepala sebagai dogma.

Masalahnya, dogma yang terlalu lama disimpan tanpa ventilasi bisa berubah jadi penjara. Penjara pikiran.

Keramahan sejatinya soal perilaku: bagaimana kita bersikap, bertutur, dan memperlakukan orang lain.

Ia nyata, kasat mata, dan dampaknya langsung terasa. Orang merasa dihargai, diterima, dan aman.

Tapi pikiran beda urusan. Pikiran itu abstrak. Ia lahir dari pengalaman, pengetahuan, rasa ingin tahu, dan yang paling penting keraguan.

Dan di sinilah kita sering keliru, kita memperlakukan pikiran seolah-olah harus tunduk pada sopan santun.

Seolah-olah berpikir kritis itu harus “izin dulu”. Seolah-olah bertanya adalah tindakan subversif.

Dunia pendidikan jadi contoh paling telanjang. Berapa banyak siswa atau mahasiswa yang sebenarnya punya pertanyaan, tapi memilih diam karena takut dianggap bodoh, kurang ajar, atau sok pintar?

Berapa banyak kelas yang berjalan satu arah: dosen bicara, mahasiswa mencatat, lalu pulang tanpa benar-benar paham tapi tetap sopan?

Ironisnya, kadang yang alergi kritik justru mereka yang berlabel “pendidik”. Pertanyaan dianggap tantangan. Perbedaan pandangan dianggap pembangkangan.

Padahal pendidikan seharusnya arena dialektika, bukan upacara bendera intelektual. Kalau murid hanya diminta patuh, lalu kapan mereka belajar berpikir?

Budaya sungkan ini tidak berhenti di ruang kelas. Ia menjalar ke kantor, organisasi, bahkan forum keluarga.

Mengkritik orang tua dianggap durhaka. Mengkritik atasan dianggap tidak tahu diri.

Akhirnya, banyak orang memilih aman, yaitu mengangguk, tersenyum, dan menyimpan kegelisahan di kepala. Kita ramah di luar, tapi kusut di dalam.

Padahal kritik bukan bentuk kekurangajaran. Kritik adalah tanda pikiran bekerja. Ia lahir dari kepedulian, bukan kebencian.

Tapi di negeri yang terlalu memuja harmoni, kritik sering disalahpahami sebagai ancaman.

Maka yang terjadi adalah kepura-puraan massal: semua terlihat rukun, padahal banyak yang mendem.

Di titik ini, perlu ditegaskan bahwa pikiran tidak perlu disopan-santunkan. Yang perlu disopan-santunkan adalah cara menyampaikannya.

Pikiran boleh liar, tajam, bahkan tidak nyaman. Sebab dari ketidaknyamanan itulah pengetahuan bergerak.

Pikiran yang terlalu “halus” sering kali hanya topeng dari rasa takut kehilangan penerimaan sosial.

Kalau kita ingin masyarakat yang benar-benar dewasa, kita harus berhenti mengultuskan usia, jabatan, dan hierarki sebagai tameng anti-kritik.

Hormat tidak identik dengan membungkam diri. Santun tidak sama dengan pasrah.

Indonesia tidak kekurangan orang baik. Yang kurang justru keberanian untuk berpikir keras dan bicara jujur tanpa merasa bersalah.

Jadi mungkin, selain dikenal sebagai bangsa ramah, kita juga perlu belajar jadi bangsa yang berani bertanya.

Karena bangsa yang selalu sopan tapi takut berpikir, pada akhirnya hanya akan jadi penonton di rumahnya sendiri.


Penulis: Muhammad Aizir Ikram
Mahasiswa Prodi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses