Kewirausahaan sebagai Kunci Mengurangi Pengangguran Menurut Rerum Novarum

Ungkapan “ Hidup sebagai pengangguran adalah penyangkalan hidup yang lebih buruk dari kematian itu sendiri” mengandung makna yang sangat dalam dan penuh refleksi filosofis.

Secara esensial, kalimat ini menegaskan bahwa hidup tanpa tujuan, tanpa kontribusi nyata, atau tanpa aktivitas yang bermakna dapat menimbulkan penderitan yang jauh lebih berat dibandingkan kematian fisik.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hal ini mengajak kita untuk merenungkan arti keberadaan dan makna hidup itu sendiri.

Pengangguran seringkali tidak hanya sekedar masalah ekonomi atau sosial,tetapi juga berdampak besar pada kondisi psikologis dan emosional seseorang.

Ketika seseorang kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki aktivitas yang produktif, sering muncul perasaan yang tidak berguna, kehilangan identitas diri, dan menurunya rasa harga diri.

Identitas manusia banyak terbentuk dari peran dan kontribusi yang mereka berikan pada masyarakat.

Ketika peran tersebut hilang, seorang bisa merasa seolah-olah dirinya tidak berarti,tidak memiliki tempat, dan bahkan merasa terasing dari lingkungan sosialnya.

Kondisi ini dapat menimbulkan penderitan batin yang sangat dalam, seperti rasa putus asa, kecemasan, dan depresi.

Baca juga: Kualifikasi Kerja Menjadi Sebab Meningkatnya Pengangguran di Indonesia: Jika tidak Diimbangi dengan SDM yang Terampil

Lebih jauh lagi, hidup tanpa aktivitas yang bermakna dapat membuat seseorang merasa stagnan dan kehilangan arah.

Tanpa tujuan jelas, hidup terasa hampa dan monoton,sehingga semangat untuk menjalani hari-hari menjadi pudar.

Dalam konteks ini, pengangguran bukan hanya soal tidak memiliki pekerjaan, tetapi juga soal kehilangan makna dan tujuan hidup.

Oleh karena itu, ungkapan tersebut menegaskan bahwa kondisi ini bisa terasa lebih menyakitkan daripada kematian, karena kematian dianggap sebagai akhir yang pasti, sementara hidup tanpa makna adalah penderitaan yang berkepanjangan dan penuh ketidakpastian.

Namun demikian, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki nilai dan potensi yang unik, terlepas dari status pekerjaan atau kondisi sosialnya.

Pengangguran bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah fase atau tantangan yang bisa dihadapi dan diatasi.

Banyak cara untuk menemukan Kembali makna hidup dan membangun kembali rasa harga diri, misalnya dengan terus belajar dan mengembangkan diri, berkontribusi secara sosial, atau mengejar passion dan minat pribadi.

Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya memberikan rasa tujuan, tetapi juga membuka peluang untuk pertumbuhan pribadi dan kebahagian.

Rerum Novarum, ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891, merupakan salah satu dokumen penting dalam ajaran sosial Gereja katolik yang menekankan nilai-nilai fundamental seperti martabat manusia, hak-hak pekerja, dan keadilan sosial dalam konteks ekonomi.

Ensiklik ini lahir sebagai respon terhadap kondisi sosial dan ekonomi pada masa Revolusi industri, dimana banyak pekerja mengalami eksploitasi, ketidakadilan, dan kemiskinan yang parah.

Dalam ajaran Rerum Novarum, Gereja secara tegas mengakui hak setiap individu untuk bekerja dan mendapatkan kehidupan yang layak, serta menolak segala bentuk eksploitasi dan ketidakadilan dalam hubungan kerja.

Hal ini menunjukan perhatian Gereja terhadap kesejahteraan manusia secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi spiritual, tetapi juga dari sisi sosial dan ekonomi.

Baca juga: Sosialisasi dan Pelatihan Kewirausahaan serta Melatih Keberanian Seseorang pada Usia Dini

Dalam konteks tersebut, kewirausahaan dapat dipandang sebagai salah satu sarana yang sangat penting untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Rerum Novarum.

Kewirausahaan tidak hanya aktivitas ekonomi untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja baru yang dapat memberikan penghasilan bagi banyak individu.

Dengan adanya kewirausahaan yang berkembang , masyarakat dapat memperkuat solidaritas sosial dan keadilan ekonomi, karena kewirausahaan yang bertanggung jawab mampu mengintegrasikan nilai-nilai sosial  dalam praktik bisnisnya.

Melalui kewirausahaan, individu tidak hanya mengembangkan potensi diri dan berinovasi, tetapi juga berkontribusi secara nyata pada kesejahteraan bersama.

Hal ini sejalan dengan ajaran Gereja yang menekankan tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai pusat dari setiap aktivitas ekonomi.

Namun, dalam prakteknya masih banyak tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan kewirausahaan yang berlandaskan nilai-nilai etika dan sosial.

Salah satu masalah utama adalah bagaimana memastikan bahwa kewirausahaan tidak hanya berorientasi pada ketentuan semata, tetapi juga memperhatikan aspek keadilan dan kesejahteraan sosial.

Banyak pelaku usaha yang terjebak dalam praktik bisnis yang eksploitatif, mengabaikan hak-hak pekerja, atau bahkan menciptakan ketimpangan ekonomi yang semakin melebar.

Kondisi ini bertentangan dengan semangat Rerum Novarum yang menegaskan bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan adil dan martabat.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang lebih serius dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha, untuk mendorong kewirausahan yang tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial.

Baca juga: Pentingnya UKM dalam Membangun Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa

Selain itu, Rerum Novarum juga mengajarkan bahwa kepemilikan pribadi adalah hak yang sah dan harus dihormati, namun kepemilikan tersebut harus di gunakan untuk kebaikan Bersama.

Dalam konteks kewirausahaan,hal ini berarti bahwa hak atas kepemilikan dan pengelolaan usaha harus diarahkan untuk menciptakan manfaat sosial yang luas, termasuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kewirausahaan yang berlandaskan nilai-nilai etika dan sosial dapat menjadi wujud nyata dari penggunaan hak kepemilikan pribadi yang bertanggung jawab.

Dengan demikian, kewirausahaan bukan hanya solusi ekonomi semata, tetapi juga merupakan panggilan moral yang sejalan dengan ajaran Gereja dalam Rerum Novarum.

Masalah pengangguran yang masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia, menunjukan betapa pentingnya peran kewirausahaan dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Pengangguran tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga menimbulkan masalah sosial dan psikologis,seperti rasa tidak berdaya, kehilangan martabat, dan ketidakstabilan sosial.

Oleh karena itu, pengembangan kewirausahaan yang berkeadilan dan bertanggung jawab menjadi salah satu solusi yang sangat relevan dan mendesak.

Melalui kewirausahaan yang mengedepankan nilai-nilai sosial dan etika, masyarakat dapat hidup dalam kondisi yang lebih bermartabat dan sejahtera, sesuai dengan semangat Rerum Novarum.

Secara keseluruhan, Rerum Novarum memberikan landasan moral dan sosial yang kuat bagi pengembangan kewirausahaan sebagai alat untuk mewujudkan keadilan sosial dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kewirausahaan yang bertanggung jawab tidak hanya mampu mengurangi pengangguran, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan menciptakan kesejahteraan Bersama.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memahami dan mengimplementasikan  nilai-nilai ini dalam praktik ekonomi sehari-hari, sehingga tujuan luhur dari ajaran Gereja dapat terwujud dalam kehidupan masyarakat modern.

 

Penulis: Imelda Wings Sriyani

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Keagamaan Katolik (PAK), Stipass St.Sirilus Ruteng

Editor: Anita Said

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses