Nasib Kaum Marginal Menurut Ensiklik Rerum Novarum

Dalam setiap kemajuan zaman, selalu ada yang tertinggal.

Di balik deretan gedung pencakar langit, jalan tol megah, dan angka pertumbuhan ekonomi yang terus naik, ada wajah-wajah lelah yang bekerja dalam diam.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Mereka adalah para buruh, petani kecil, pedagang asongan, tukang becak, dan jutaan orang lain yang masuk ke dalam kategori “kaum marginal”.

Kaum ini bukan tidak berusaha. Mereka bangun pagi, bekerja keras, bahkan mengorbankan kesehatan dan waktu bersama keluarga demi sesuap nasi.

Tapi entah mengapa, hasil yang mereka terima seringkali tak sebanding dengan kerja keras mereka.

Sementara di sisi lain, sebagian kecil menikmati kemewahan, sebagian besar lainnya terus berjuang hanya untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Teknik Industri di Era Revolusi Industri 5.0: Siapakah Kita?

Rerum Novarum Dan Jeritan Kaum Kecil 

Pada tahun 1891, dunia diguncang oleh perubahan besar akibat Revolusi Industri.

Mesin menggantikan manusia, dan sistem ekonomi mulai lebih mementingkan produktivitas daripada kemanusiaan.

Di tengah situasi ini, Paus Leo XIII menerbitkan sebuah ensiklik yang diberi nama Rerum Novarum, atau “Hal-Hal Baru”.

Dokumen ini bukan hanya surat dari pemimpin Gereja Katolik kepada umatnya, melainkan Ia adalah suara moral yang menggemakan keprihatinan atas ketidakadilan sosial.

Rerum Novarum menjadi tonggak awal ajaran sosial Gereja Katolik yang merupakan sebuah warisan pemikiran yang masih relevan hingga saat ini.

Di dalam Rerum Novarum, Paus Leo XIII berbicara tegas tentang pentingnya memperhatikan kondisi hidup kaum pekerja dan orang miskin.

Ia mengkritik sistem ekonomi yang menindas dan menyerukan perbaikan struktural yang lebih adil dan manusiawi.

Istilah Kaum Marginal atau Masyarakat marginal merupakan sebutan untuk kelompok sosial yang terpinggirkan oleh sebuah tatanan masyarakat baik dalam ekonomi, pendidikan dan budaya.

Kelompok sosial tersebut tidak memiliki akses dalam penentuan kebijakan publik dan hanya menjadi objek kebijakan politik.

Kaum marginal hidup dengan kesulitan ekonomi, penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, dan sering kali mengalami ketidakadilan serta eksploitasi.

Mereka identik sebagai “masyarakat miskin kota”, yang berprofesi sebagai pemulung, pengemis, gelandangan, atau pun buruh.

Kelompok sosial tersebut berada dalam posisi minoritas dan rentan, sehingga mudah mengalami diskriminasi, kekerasan, dan penindasan (WIKIPEDIA).

Walaupun kelompok-kelompok marginal ini disebut sebagai orang yang terpinggirkan atau terlupakan, namun Rerum Novarum justru melihat mereka sebagai manusia bermartabat.

Ensiklik ini menegaskan bahwa kaum pekerja bukan alat produksi, tetapi pribadi yang harus dihormati dan dilindungi hak-haknya.

Baca juga: Di Balik RUU KUHP: Suara Masyarakat yang Terpinggirkan di Tahun 2024

Di dalam Rerum Novarum, Ada Beberapa Poin Penting yang Perlu ditekankan Antara Lain :

1. Upah yang layak, agar pekerja bisa hidup manusiawi bersama keluarganya.

2. Jam kerja yang manusiawi, demi menjaga kesehatan fisik dan mental.

3. Kebebasan berserikat, agar para pekerja bisa memperjuangkan haknya bersama-sama.

4. Perlindungan terhadap keluarga dan hak milik pribadi, sebagai pilar kesejahteraan sosial.

5. Tanggung Jawab sosial dari pemilik modal, bahwa kekayaan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Itulah poin-poin penting yang perlu ditekankan dalam Rerum Novarum.

Yang menarik dari Rerum Novarum ini, ensiklik tidak   memusuhi kekayaan atau menolak kepemilikan pribadi.

Bahkan, Paus Leo XIII mengakui bahwa memiliki harta adalah hak setiap orang.

Tapi di saat yang sama, kekayaan harus digunakan dengan tanggung jawab sosial yang artinya, orang-orang yang diberi lebih harus juga memberi lebih.

Kekayaan yang digunakan hanya untuk diri sendiri tanpa memperhatikan orang sekitar adalah bentuk ketidakadilan yang halus.

Dalam Bahasa modern “ Privilege tanpa empati= Ketimpangan yang semakin dalam.

Mungkin kita merasa dunia sudah lebih adil sekarang.

Tapi faktanya, ketimpangan masih sangat nyata.

Bahkan Di kota-kota besar, banyak pekerja informal yang tidak mendapat jaminan kesehatan, tidak punya kontrak kerja jelas, dan rawan diberhentikan kapan saja.

Di pedesaan, petani kecil kesulitan mendapatkan pupuk, harga panen yang adil atau akses pasar yang menguntungkan.

Di lingkungan urban,banyak anak muda yang bekerja “serabutan” hanya demi bisa makan hari itu. Semua ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Rerum Novarum masih sangat relevan.

Kita sebagai manusia, tidak hanya butuh pembangunan infrastruktur, tapi juga pembangunan hati nurani kita.

Refleksi

Bagi kita sebagai manusia yang beriman, Memperjuangkan keadilan sosial tidak harus selalu lewat kebijakan besar.

Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana seperti: Menghargai para pekerja disekitar kita seperti (tukang parkir, petugas kebersihan, sopir ojek, buruh harian), membayar jasa sesuai nilai kerja, bukan menawar sekeras mungkin, mendukung produk lokal dan usaha kecil yang dikelola masyarakat.

Jika kita punya posisi berpengaruh sebagai pengusaha, penjabat, guru, atau pemimpin komunitas tertentu, maka tanggung jawab sebesar itu di gunakan suara dan kekuasaan untuk melindungi mereka yang tak punya daya tawar.

Baca juga: Medis ke Sosial: Memahami Disabilitas sebagai Isu Keadilan

 Akhir Kata, Keadilan Adalah Jalan Iman. Rerum Novarum bukan hanya dokumen sosial.

Ia adalah ajakan spiritual untuk melihat dunia dengan mata kasih.

Karena iman yang sejati itu tidak berhenti di tempat ibadah, tapi hadir di jalan-jalan sempit tempat kaum kecil mencari nafkah. Di pasar, di pabrik, di ladang dan di pinggiran jalan.

Jika kita benar-benar percaya pada nilai-nilai kemanusiaan, maka memperjuangkan hak kaum marginal bukanlah pilihan, melainkan panggilan.

“Setiap orang berhak atas bagian yang adil dari kekayaan bumi. Tidak ada yang boleh hidup dalam kelimpahan ketika yang lain hidup dalam kekurangan”. (Rerum Novarum, 1891).

 

Penulis: Yosefina Erlina

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Keagamaan Katolik (PAK), Stipass St.Sirilus Ruteng

Editor: Anita Said

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses