Pendahuluan
Kemiskinan masih menjadi masalah yang mendasar dan sulit untuk diatasi di Indonesia sejak dahulu hingga saat ini. Meski negara ini dikenal sebagai negara yang kaya raya akan sumber daya alamnya tetapi masih saja rakyatnya menderita.
Tingkat angka kemiskinan yang tinggi bukan angka yang bagus untuk didengar atau dilihat dampaknya kepada masyarakat sangat besar hingga dapat merusak moral, mental, pendidikan, sampai masa depan juga ikut terancam.
Kelayakan hidup seseorang dapat dilihat dari kehidupan keluarga dan lingkungan sekitar yang menjadi awal mula perjalanan hidup seseorang. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, tingkat kemiskinan Indonesia berada di angka 8,47% atau setara dengan 23,85 juta orang.
Angka diatas memang menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap menandakan bahwa puluhan juta rakyat masih hidup dalam keterbatasan. Kemiskinan di Indonesia bukanlah fenomena baru. Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program, mulai dari Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), hingga Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: mengapa kemiskinan masih tinggi, dan apa yang harus dilakukan agar masalah ini benar-benar bisa dituntaskan?
Isi
Faktor Penyebab Tingginya Kemiskinan
1. Ketimpangan Ekonomi
Salah satu akar masalah kemiskinan di Indonesia adalah ketimpangan distribusi kekayaan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan nasional dikuasai oleh segelintir orang, sementara mayoritas masyarakat hanya menikmati porsi kecil.
Ketimpangan ini menciptakan jurang sosial yang semakin lebar, di mana kelompok kaya semakin kaya, dan kelompok miskin sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.
2. Keterbatasan Akses Pendidikan
Pendidikan adalah kunci mobilitas sosial. Namun, di banyak daerah, terutama wilayah pedalaman dan timur Indonesia, akses terhadap pendidikan berkualitas masih sangat terbatas.
Anak-anak dari keluarga miskin sering kali putus sekolah karena harus membantu orang tua bekerja, atau karena biaya pendidikan yang meski “gratis” tetap menuntut pengeluaran tambahan. Akibatnya, mereka sulit bersaing di pasar kerja modern yang menuntut keterampilan tinggi.
3. Lapangan Kerja yang Tidak Merata
Indonesia memang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil, tetapi penciptaan lapangan kerja belum merata. Banyak daerah masih bergantung pada sektor informal dengan penghasilan rendah dan tidak menentu. Buruh tani, nelayan tradisional, dan pekerja harian lepas adalah kelompok yang paling rentan.
Sementara itu, industrialisasi cenderung terkonsentrasi di Jawa dan kota-kota besar, meninggalkan daerah lain dalam keterbelakangan.
4. Korupsi dan Tata Kelola yang Lemah
Tidak bisa dipungkiri, korupsi menjadi penghambat besar dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dana bantuan sosial sering kali bocor di tengah jalan, tidak sampai ke tangan rakyat yang benar-benar membutuhkan.
Selain itu, kebijakan pembangunan yang tidak tepat sasaran memperburuk keadaan. Alih-alih memberdayakan masyarakat miskin, program-program sering hanya menjadi proyek politik jangka pendek.
Dampak Tingginya Kemiskinan
1. Kesehatan yang Buruk
Dampak yang pertama adalah mengganggu kesehatan masyarakat. Mereka tentunya mempunyai tingkat daya beli yang rendah, artinya mereka menjadi sangat rentan mengalami kelaparan dan juga gizi buruk.
Hal tersebut jelas berdampak pada daya tahan tubuh yang sangat rentan mengalami penyakit. Secara luas, jutaan manusia mengalami gangguan kesehatan karena adanya kemiskinan. Berbagai penyakit yang ditularkan melalui berbagai sumber juga dikarenakan dampak kemiskinan.
2. Tindak Kriminalitas Meningkat
Setiap negara tentu mengalami masalah tingkat pengangguran yang tinggi, begitu juga dengan Indonesia. Minimnya kesempatan dalam bekerja dan ekonomi membuat kemiskinan menuju pada tindak kejahatan. Dampak kemiskinan dalam hal ini bisa meningkatkan kriminalitas.
Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak mempunyai akses ke peluang ekonomi yang cukup. Hidup dengan cara yang berbahaya dan tanpa segan dalam melakukan berbagai hal akan mereka lakukan demi bisa bertahan hidup.
Tingginya tingkat pengangguran juga memicu kegiatan kriminalitas yang tinggi, seperti perampokan, pembunuhan, pencurian, dan lain-lain.
3. Lingkaran Setan Kemiskinan
Kemiskinan menciptakan lingkaran setan: orang miskin tidak mampu mengakses pendidikan, akibatnya mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan layak, lalu tetap miskin. Lingkaran ini terus berulang dari generasi ke generasi, membuat kemiskinan menjadi warisan yang sulit diputus.
Baca Juga: Memahami Kemiskinan dan Diskriminasi dalam Terang Rerum Novarum
Solusi dan Harapan
1. Pendidikan Berkualitas dan Merata
Pemerintah harus memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, memiliki akses ke pendidikan berkualitas. Tidak cukup hanya membangun sekolah, tetapi juga memastikan tenaga pengajar yang kompeten, kurikulum yang relevan, dan fasilitas yang memadai.
Pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan juga perlu diperluas agar generasi muda siap menghadapi dunia kerja.
2. Penciptaan Lapangan Kerja
Investasi harus diarahkan ke daerah-daerah yang selama ini tertinggal. Pemerataan pembangunan industri, pariwisata, dan sektor kreatif bisa membuka peluang kerja baru. Selain itu, dukungan terhadap UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) sangat penting, karena sektor ini terbukti menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
3. Reformasi Tata Kelola dan Pemberantasan Korupsi
Tanpa tata kelola yang bersih, semua program pengentasan kemiskinan akan sia-sia. Pemerintah harus berkomitmen penuh memberantas korupsi, memperbaiki sistem distribusi bantuan, dan memastikan transparansi anggaran. Teknologi digital bisa dimanfaatkan untuk memantau penyaluran bantuan agar tepat sasaran.
4. Penguatan Jaring Pengaman Sosial
Program bantuan sosial harus lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Bantuan tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga akses kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Dengan demikian, masyarakat miskin tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki peluang untuk keluar dari kemiskinan.
Penutup
Tingkat kemiskinan tinggi di Indonesia adalah masalah SERIUS yang tidak bisa diabaikan. Ia bukan sekadar angka dalam laporan statistik, melainkan wajah nyata penderitaan jutaan rakyat.
MENGATASI kemiskinan membutuhkan komitmen jangka panjang, keberanian politik, dan kerja sama semua pihak: pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil.
Indonesia memiliki potensi BESAR: sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk produktif yang tinggi, dan posisi strategis di kawasan Asia. Namun, semua potensi itu akan sia-sia jika kemiskinan tetap dibiarkan. Saatnya kita menegaskan bahwa pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal keadilan SOSIAL.
Kemiskinan bukan TAKDIR, melainkan tantangan. Dan tantangan itu hanya bisa ditaklukkan jika kita bersama-sama berjuang untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat.
Penulis: Celine Evangelicha Koridama
Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Cenderawasih
Dosen Pengampu: Dr. Melyana Ratana Pugu, S.IP., M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/07/25/2518/persentase-penduduk-miskin-maret-2025-turun-menjadi-8-47-persen-.html , https://accurate.id/ekonomi-keuangan/dampak-kemiskinan/
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












