Lagu “Kasih Aba-Aba” dan Hegemoni Budaya Populer

Lagu “Kasih Aba-Aba” dan Hegemoni Budaya Populer
Sumber: Tangkapan Layar dari Saluran YouTube @Indolirik

Lagu “Kasih Aba-Aba” dari Tenxi belakangan sering wara-wiri di media sosial.

Irama santainya mudah diingat, liriknya ringan, dan bahasanya gaul khas anak muda.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tapi kalau kita lihat sedikit lebih dalam, lagu ini bukan cuma tentang asmara yang lucu-lucuan.

Ia juga bisa dibaca sebagai cermin dari bagaimana budaya populer bekerja: menghibur sekaligus menanamkan nilai-nilai tertentu tanpa kita sadari.

Antonio Gramsci, pemikir asal Italia, pernah bilang bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan.

Kadang ia datang lewat “persetujuan”—lewat kebiasaan, selera, dan budaya yang kita nikmati setiap hari.

Nah, di sinilah lagu pop berperan. Lagu seperti “Kasih Aba-Aba” membuat kita merasa dekat, relate, dan bagian dari tren kekinian.

Kita ikut bersenandung tanpa sadar sedang menyetujui nilai-nilai yang ditanamkan industri musik.

Baca Juga: Hegemoni Digital China Menguat di Tengah Persaingan Kekuasaan Global

Lirik “Kasih kasih aba-aba, jangan bikin ku salah langkah…” mungkin terdengar manis. Tapi ia juga menggambarkan realitas hubungan modern yang serba tidak pasti, serba kode, dan penuh permainan perasaan.

Hubungan yang lebih sering ditentukan oleh aba-aba digital—chat, story, emoji—ketimbang komitmen nyata. Dan inilah wajah budaya kita hari ini: cepat, instan, dan emosional.

Lagu ini juga bagian dari industri besar bernama kapitalisme budaya. Diproduksi untuk viral di TikTok, didorong oleh algoritma, dan dikonsumsi oleh jutaan orang yang mencari hiburan cepat.

Kita menikmati, menirukan, lalu berpindah ke tren berikutnya. Dalam proses itu, nilai-nilai pasar bekerja secara halus: cinta jadi komoditas, musik jadi konten, dan manusia jadi data.

Tapi tentu, tidak semua pendengar pasif. Banyak juga yang menafsirkan lagu ini sebagai sindiran terhadap hubungan yang “toxic”, atau sebagai ekspresi kebingungan anak muda terhadap cinta zaman digital.

Di sini ada peluang: lagu populer bisa menjadi ruang untuk menantang makna dominan, mengubah hiburan jadi refleksi.

Makanya, penting bagi kita untuk lebih sadar terhadap budaya yang kita konsumsi.

Musik, film, atau meme bukan cuma soal suka atau tidak suka. Ia juga membentuk cara kita berpikir tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia.

Baca Juga: Hegemoni Identitas Kelas dan Kuasa dalam Musik Hiphop Dangdut (Hipdut) sebagai Tren Viral di Media Sosial TikTok

Menikmati “Kasih Aba-Aba” sah-sah saja—asal kita juga paham bahwa di balik lirik catchy dan beat santai, ada permainan makna yang tidak sesederhana kedengarannya.

Jadi, lain kali ketika lagu ini muncul di playlist kamu, coba dengarkan bukan hanya nadanya, tapi juga pesan sosial yang dibawanya.

Siapa tahu, dari sana kita bisa mulai memberi “aba-aba” balik pada budaya populer yang selama ini diam-diam mengarahkan langkah kita.

 

Penulis: Rizalif Bagus Bintang S.
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945

Dosen Pengampu: Dr. Merry Frida, M.Si.

 

Daftar Pustaka

  • Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.
  • Storey, J. (2018). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction (8th ed.). Routledge.
  • Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. International Publishers.
  • Putra, A. G., & Nurhadi, M. (2023). Hegemoni budaya dalam musik populer Indonesia: Analisis makna dan ideologi dalam lagu viral. Jurnal Komunikasi dan Budaya Populer, 5(2), 134–147.
  • Rahmawati, D. (2024). Musik populer dan ideologi: Kajian hegemoni budaya di era digital. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 12(1), 45–57.
  • Lirik lagu Tenxi – Kasih Aba-Aba. (2024). KapanLagi.com. https://lirik.kapanlagi.com/artis/tenxi/kasih-aba-aba/

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses