Hegemoni Digital China Menguat di Tengah Persaingan Kekuasaan Global

Hegemoni Digital China Menguat di Tengah Persaingan Kekuasaan Global
Sumber: freepik.com

China menunjukkan bahwa kekuasaan di era modern tak lagi ditentukan oleh senjata, melainkan oleh siapa yang mengendalikan algoritma dan persepsi dunia.

TikTok mungkin terlihat seperti aplikasi hiburan biasa, tempat orang menari, bercanda, dan berbagi video singkat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun di balik layar yang tampak ringan itu, tersimpan strategi besar tentang bagaimana China memanfaatkan teknologi digital sebagai alat ekspansi pengaruh global.

TikTok adalah bukti bahwa kekuasaan di abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kendali atas arus informasi dan data.

Kekuasaan yang Tersembunyi di Balik Hiburan

TikTok lahir di Tiongkok dengan nama Douyin pada tahun 2016 di bawah perusahaan ByteDance.

Dua tahun kemudian, versi globalnya, TikTok, diluncurkan dan dengan cepat merevolusi cara orang di seluruh dunia mengonsumsi hiburan.

Kini, TikTok bukan sekadar aplikasi populer, melainkan ruang budaya baru yang mampu membentuk cara generasi muda berpikir, bertindak, dan memandang dunia.

Di sinilah kekuatan sesungguhnya terletak. Algoritma TikTok tidak hanya menghibur, tetapi juga mengarahkan.

Setiap tayangan yang kita lihat bukan hadir secara acak, melainkan hasil perhitungan cermat berdasarkan minat, kebiasaan, dan perilaku digital pengguna.

Pola ini menciptakan pengaruh yang lembut dan tidak disadari, yang dalam studi hubungan internasional dikenal sebagai soft power.

Baca Juga: China-Indonesia: Keseimbangan atau Dominasi?

Dari Douyin ke Dunia

Yang menarik, China mengatur dua wajah TikTok secara berbeda. Di dalam negeri, Douyin menampilkan konten positif yang mendorong semangat nasionalisme dan prestasi anak muda.

Sementara di luar negeri, TikTok global menonjolkan hiburan ringan seperti tarian, lelucon, dan tren sosial.

Perbedaan ini bukan kebetulan. Ia merupakan strategi komunikasi yang memperlihatkan bagaimana negara mengendalikan citra dan memanfaatkan budaya populer sebagai alat diplomasi.

China sadar bahwa pengaruh di era digital tidak harus bersifat konfrontatif. Cukup dengan mengendalikan narasi dan budaya, pengaruh bisa menyebar tanpa perlu paksaan.

Diplomasi Digital dan Algoritma Kekuasaan

TikTok pada dasarnya adalah aplikasi global yang awalnya dikenal dengan nama Douyin.

Aplikasi video pendek ini tidak hanya beroperasi di Tiongkok.

ByteDance sebagai perusahaan induk mengikuti kebijakan siber nasional yang ketat, di mana seluruh konten yang didistribusikan harus sejalan dengan nilai dan kepentingan negara.

Di Tiongkok, Douyin menampilkan konten yang menonjolkan nilai moral, pencapaian anak muda, dan semangat nasionalisme.

Sebaliknya, versi global TikTok lebih banyak berisi hiburan ringan seperti tarian, komedi, dan tren sosial yang viral.

TikTok yang dikenal secara global sebenarnya adalah versi internasional dari Douyin, aplikasi video pendek yang diciptakan oleh ByteDance di China.

Melalui unggahan di X (Twitter), akun bernama peace-loving (@sherpa701) menulis bahwa, “China telah mengatur algoritma TikTok bagi generasi muda untuk menampilkan konten positif seperti prestasi dan pencapaian anak muda dalam berbagai bidang untuk membangun bangsa. Sementara di luar China, algoritma TikTok lebih banyak menampilkan hiburan seperti tarian dan video lucu.” (Sherpa, 2022).

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pemerintah, kelompok politik, dan pelaku bisnis memanfaatkan kekuatan budaya populer serta kecanggihan algoritma untuk membentuk citra publik, menggerakkan opini, dan memengaruhi perilaku masyarakat tanpa mereka sadari.

Dengan mengendalikan arus informasi, China mampu mengatur bagaimana dunia memandangnya.

Dalam konteks ini, kecanduan digital bukan sekadar persoalan sosial, melainkan bentuk ketergantungan budaya yang memberikan keuntungan strategis bagi negara tersebut.

Baca Juga: Persaingan Energi antara China dengan Negara-Negara Asia Tenggara: Sebuah Pandangan Liberalis

Propaganda di Era Digital

TikTok menunjukkan bagaimana propaganda berevolusi dalam wujud yang jauh lebih halus.

Ia tidak lagi hadir dalam bentuk poster atau pidato politik, tetapi lewat tren budaya dan konten viral yang tampak netral.

Pengguna merasa sekadar menikmati hiburan, padahal di balik layar terdapat upaya sistematis untuk membentuk kesadaran kolektif dan memengaruhi pandangan masyarakat terhadap dunia.

Fenomena ini menggambarkan pergeseran paradigma dalam politik global: dari hard power menuju soft power, dan kini ke algorithmic power.

Kekuatan yang bekerja melalui budaya, data, dan algoritma terbukti lebih efektif dalam menciptakan pengaruh jangka panjang daripada kekuatan militer konvensional.

Makna Propaganda dalam Era Digital

TikTok menunjukkan bahwa batas antara hiburan, informasi, dan propaganda kini semakin kabur.

Media sosial menjadi arena baru bagi pertarungan ideologi global, di mana kekuasaan tidak lagi tampil secara terang-terangan, melainkan bekerja di balik layar algoritma.

Pengaruh semacam ini lebih berbahaya karena tidak disadari oleh pengguna.

Setiap video yang ditonton, disukai, atau dibagikan menjadi bagian dari proses pembentukan kesadaran kolektif yang perlahan mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.

Propaganda modern kini tidak lagi berbentuk poster atau pidato politik, tetapi hadir melalui konten viral, tren budaya, dan hiburan yang tampak netral.

Baca Juga: Menolak Hegemoni China: Ketegasan Filipina Lewat Rudal Supersonik BrahMos

Melalui TikTok, China memperlihatkan bahwa kekuasaan di era global bukan tentang siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar, melainkan tentang siapa yang mengendalikan arus data dan persepsi publik dunia.

Keunggulan teknologi yang dimiliki China menjadikan TikTok lebih dari sekadar aplikasi.

Ia adalah simbol dari kekuasaan baru dalam hubungan internasional, kekuasaan yang membentuk dunia tanpa harus menaklukkannya.

TikTok menunjukkan bahwa di era digital, batas antara diplomasi, budaya, dan strategi politik semakin menipis.

Kita mungkin hanya melihat tarian dan tren lucu di layar ponsel, tetapi di balik semua itu, ada permainan besar dalam politik global.

Dunia sedang menari di atas algoritma, dan iramanya ditentukan oleh Beijing.

Penulis: Restya Meisa Putri
Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

 

Referensi

  • Damai, Pencinta. [@sherpa701]. (2022). Ini perlu jadi bahan perenungan kita. China mengatur algoritma TikTok untuk generasi muda di China agar menerima konten2 positif seperti prestasi2 anak muda, pengusaha2 muda, dan pencapaian dalam berbagai bidang untuk membangun bangsa, sedangkan untuk di luar China… [Tweet]. X (Twitter). https://twitter.com/sherpa701.
  • GaJelas. (2022, Agustus 18). Fakta TikTok-Sosmed propaganda penghancur generasi muda| Sudah hancur makin hancur| GaJelas [Video}. https://youtu.be/ITxexLwbPfl?si=yec0xEBRJKlAiOzR.
  • Geboers, M. (2024). Networked masterplots: Engagement with propagandist TikTok videos after February 24, 2022. Journal of Digital Social Research.
  • Nouvan. (2025). Indonesia jadi negara pengguna TikTok terbanyak di dunia 2025. Dataloka. https://dataloka.id/humaniora/4424/indonesia-jadi-negara-pengguna-tiktok-terbanyak-di-dunia-2025.

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses