Kaya Minyak tapi Krisis Pangan? Paradoks Ketahanan Pangan di Timur Tengah

Krisis Pangan di Timur Tengah

Negara-Negara di Timur Tengah terdampak akibat perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Hal ini terjadi dikarenakan adanya ketergantungan impor pangan dari Rusia dan Ukraina terhadap negara di Timur Tengah.

Krisis pangan juga terjadi akibat adanya pandemi COVID-19 yang lalu. Selain dari pandemi, negara-negara di Timur Tengah seperti Liga Arab, Turki, dan Iran mengalami krisis pangan akibat adanya konflik yang berkebanjangan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sedangkan negara seperti Yaman, Suriah, Libya akibat dari peningkatan ketidakstabilan politik serta ada Mesir yang mengalami krisis pangan akibat dampat reformasi ekonomi yang berat. Timur Tengah dikenal sebagai kawasan pengimpor serelia utama dunia contoh hasil pertaniannya adalah gandum yang memiliki hasil panen yang terbatas.

Jika negara-negara pengekspor gandum seperti Rusia dan Ukraina terjadi konflik atau kegagalan panen membuat tingginya biaya bagi sistem subsidi pangan di negara-negara konsumen utama.

Krisis pangan yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya soal makanan, melainkan ada beberapa faktor lain yang menjadi penyebab seperti keterbatasan lahan yang subur, krisis air, dan konflik yang berkepanjangan.

Kekayaan minyak tidak menjamin kawasan tersebut terhindar dari krisis pangan, justru malah menimbulkan ketidakamanan dan juga dapat menunda investasi dalam sektor pertanian untuk mendukung sistem pangan yang berkelanjutan.

Baca juga: Hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah Pasca Perang Teluk: Stabilitas Semu dalam Politik Kawasan

Minyak Mengalir, Namun Gandum Datang dari Luar Menjadi Bukti Katahanan Pangan yang Rapuh

Timur Tengah dikenal sebagai kawasan yang memiliki cadangan minyak dan gas. Harga minyak yang tinggi dapat memberikan keuntungan bagi negara-negara di Timur Tengah. Namun, dibalik cadangan minyak dan gas itu tidak dapat dipungkiri bahwa negara di Timur Tengah mengalami krisis pangan.

Meja makan rakyat Timur Tengah justru bergantung terhadap impor gandum dari negara lain seperti Rusia dan Ukraina. Paradoks ini semakin terbuka pada saat krisis global membuat pasokan pangan dunia mengalami guncangan.

Ternyata, kawasan Timur Tengan menjadi kawasan yang paling rentan mengalami krisis pangan. Hal ini dapat diakibatkan oleh ketergantungan yang tinggi terhadap impor serelia dari Rusia dan Ukraina (Al-Saidi, 2023).

Sebagian negara di Timur Tengah seperti Lebanon, Arab Saudi, Yaman, dan Mesir mengandalkan gandum sebagai kebutuhan pangan domestiknya.

Pada saat terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina membuat ketidakstabilan rantai pasok dan juga tingginya harga yang menyebabkan tekanan ekonomi di kawasan Timur Tengah.

Bukti dari paradoks ketahanan pangan di Timur Tengah adalah model negara rentier berbasis minyak telah membuat arah ketimpangan pembangunan. Investasi lebih difokuskan pada sektor energi, infrastruktur, ubanisasi, sementara dalam bidang pertanian tidak diperhatikan.

Timur Tengah dapat dikatakan sebagai kawasan cenderung kering sehingga menjadi alasan bahwa impor lebih baik dibandingkan membangun sistem pangan lokal.

Asumsi inilah yang membuat krisis pangan terjadi. Ketahanan pangan tidak dilihat dari kemampuan dalam membeli pangan melalui impor dari negara lain, tetapi ketahanan pangan di sini soal kemampuan untuk mengelola cadangan makanan di tengah krisis global.

Krisis pangan yang terjadi akibat adanya perang memjadi bukti bahwa pangan merupakan komoditas strategis dan juga politik.

Ketidakstabilan impor gandum dan juga volatilitas harga energi dapat memperburuk krisis pangan di Timur Tengah, ditambah lagi guncangan ekonomi dan politik di negara Timur Tengah seperti di Yaman dan Lebanon yang sudah rapuh.

Dari adanya krisis pangan ini, ketergantungan terhadap minyak membuat pergeseran perhatian terhadap rantai pasok makanan sehingga ketergantungan impor pangan seperti gandum menjadi tinggi.

Krisis Pangan juga dapat memicu instabilitas politik. Ketergantungan pangan melalui impor gandum dapat membuat negara di Timur Tengah sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dari luar kawasan. Ketahanan pangan yang rapuh disebabkan oleh kerentanan geopolitik secara nyata.

Paradoks ”kaya minyak tapi krisis pangan” justru menjadi evaluasi kebijakan untuk memperhatikan lagi dampak jangka panjang bagi kelangsungan hidup penduduk yang berada di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Alasan Timur Tengah Menjadi Arena untuk Proxy War

Konflik dan Politik Merubah Krisis Pangan Menjadi Alat Kekuasaan

Kawasan Timur Tengah memiliki cadangan minyak dan gas, namun dibalik itu tidak menjamin bahwa kawasan ini terhindar dari krisis pangan. Paradoks ini memperlihatkan kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjamin ketahanan pangan.

Ketergantungan tehadap impor menjadi permasalahan serius pada saat terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina yang membuat pangan berubah dari komoditas ekonomi menjadi alat kekuasaan geopolitik.

Ketika perang yang terjadi mengganggu distribusi dan ekspor gandum, maka negara di kawasan Timur Tengah akan terkena dampak seperti kenaikan harga dan juga kelangkahan pangan.

Krisis Pangan di Timur Tengah tidak hanya disebabkan oleh konflik eksternal saja, tetapi krisis ini juga muncul akibat adanya masalah internal kawasan tersebut.

Perang yang terjadi di Palestina, Yaman, dan Suriah menunjukkan bahwa pangan dijadikan sebagai senjata politik yang dapat membuat akses pangan menjadi alat kontrol terhadap populasi sipil. Krisis pangan bukan hanya kegagalan logistik tetapi juga bagian dari strategi kekuasaan.

Kekayaan minyak yang ada di kawasan ini membuat negara lengah untuk memperhatikan sektor pangan. Ketika harga global tinggi dan rantai pasok terganggu, hal ini menyebabkan negara kehilangan ruang manuver. Hal ini membuat masyarakat miskin menjadi kelompok yang paling rentan dan ketahanan pangan menjadi terancam.

Krisis pangan yang terjadi di Timur Tengah akibat dari pertemuan antara struktur ekonomi rentier dan dinamika konflik politik. Jika rantai pangan tidak diperhatikan secara strategis, justru akan membuat pangan sebagai alat kekuasaan bukan sebagai hak hidup manusia.

Krisis pangan di Timur Tengah dapat diatasi dengan kesadaran dari negara untuk membangun ketahanan pangan yang tidak hanya diperbaiki melalui finansial tetapi juga membutuhkan keberanian untuk keluar dari jebakan rente.

Perlu diingat bahwa minyak akan terus mengalir, tetapi buat apa jika kebutuhan pokok masyarakat tidak dipenuhi, maka hal itu akan percuma. Pangan adalah sumber utama manusia dan konflik justru berawal dari kemiskinan hingga kelaparan.

Paradoks mengenai “kaya minyak tapi krisis pangan” di Timur Tengah membuktikan bahwa kekayaan energi tidak menjamin ketahanan pangan wilayah tersebut.

Ketergantungan terhadap impor gandum dan juga konflik geopolitik membuat pangan menjadi komoditas yang rapuh dan mudah dipolitisasi. Ketahanan pangan tidak diukur dari kemampuan dalam membeli pangan melalui impor tetapi ketahanan pangan diukur dari pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan. Tanpa pangan yang stabil, kemakmuran kawasan ini hanya ilusi.

Penulis: Restya Meisa Putri
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya

Editor: Rahmat Al Kafi

Referensi

Al-Saidi, Mohammad. (2023). Caught off Guard and Beaten: The Ukraine War and Food Security in the Middle East. Frontiers in Nutrition, 1-15.

Beblawi, Hazem.  (2025). The Rentier State in The Arab World. Pluto Journals, 9 (4), 383-398.

Food and Agriculture Organization of the United Nations, International Fund for Agricultural Development, United Nations Children’s Fund, World Food Programme, World Health Organization, & United Nations Economic and Social Commission for Western Asia. (2021). Regional overview of food security and nutrition in the Near East and North Africa 2020: Enhancing resilience of food systems in the Arab States. FAO.

Henderson, Christian. (2022). The Rise of Arab Gulf Agro-Capital: Continuityand Change in the Corporate Food Regime. The Journal of Peasant Studies, 49(5), 1079-1100.

Kozielec, A., Piecuch, J., Daniek, K., & Luty, L. (2024). Challenges to food security in the Middle East and North Africa in the context of the Russia–Ukraine conflict. Agriculture, 14(1), 155, 1-22.

Oestigaard, T. (2012). Water scarcity and food security along the Nile: Politics, population increase and climate change (Current African Issues No. 49). Nordiska Afrikainstitutet.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses