Mahasiswa Baru dan Praktik Joki di Dunia Perkuliahan

Dunia Perkuliahan
Ilustrasi Mahasiswa Baru (Sumber: MMI)

Sering disoroti dalam setiap tahunnya setelah melewati sistem seleksi ujian masuk para lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terutama universitas, dipastikan akan mengikuti kegiatan orientasi lingkungan kampus. 

Seringkali para mahasiswa baru diminta untuk mengunggah tugas berkaitan dengan sosial media. Mulai dari twibbon, video perkenalan diri, dan video kreasi yang lain nya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hal ini masif disambut dengan semangat dan juga komentar positif dalam kolom setiap postingan. Namun, beberapa orang menyayangkan bahkan mengkritik sistem ini karena dianggap hanya bertujuan “meramaikan” nama universitas tanpa ada fokus akademik tersendiri untuk meningkatkan kualitas universitas atau sistem ospeknya. 

Selain tugas yang diunggah di sosial media, para mahasiswa dan mahasiswi baru juga seringkali diminta membuat penugasan berbentuk fisik seperti peralatan papan nama, topi, dan buku catatan dengan aturan dan ukuran tertentu sesuai ketentuan dari penyelenggara ospek.

Penugasan ini seringkali bersifat wajib dan detail yang diminta cukup rumit membuat sekelompok mahasiswa baru memilih jasa joki yang tersedia di sosial maupun yang terafiliasi dengan kepanitiaan yang ada di kampus. Joki tugas secara definisinya berarti orang yang dibayar untuk mengerjakan tugas orang lain, seperti tugas sekolah atau kuliah.

Joki tugas ini sering dimanfaatkan oleh pelajar atau mahasiswa yang kesulitan mengerjakan tugas akademisnya. Praktik ini dianggap sebagai kecurangan akademik karena pelajar tidak mengerjakan sendiri tugasnya dan dapat berimplikasi pada sanksi tertentu.

Praktik ini muncul karena tekanan akademik dan motivasi pragmatis mahasiswa serta kemudahan teknologi, meskipun menimbulkan kontroversi terkait integritas akademik. Dalam beberapa kajian, menjadi joki juga dianggap sebagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan menulis dan analisis kritis (Universitas Pasundan, 2023).

Hal ini menimbulkan pertanyaan lantas apakah tujuan dari penugasan ospek ini hanya menjadi wadah pencarian dana melalui kepanitiaan acara ditambah beberapa sistematika pembelian yang tidak jelas sehingga merugikan pihak mahasiswa yang menggunakan jasa tersebut. Seberapa efektif jasa joki ini dan apa tanggapan kampus terhadap hal ini menjadi hal yang dipertanyakan. 

Baca juga: Joki Tugas Kuliah Sudah menjadi Rutinitas Mahasiswa

Pada proses suatu program kerja pengenalan lingkungan kampus akan terdapat kepanitiaan yang dijalankan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa dan sederet jajaran direktorat pendidikan kampus.

Segala hal berkaitan dengan pendanaan dan penyelenggaraan sudah seharusnya menjadi hal yang krusial untuk didiskusikan dan dibuat kesepakatan. Namun, pada kenyataanya kini di sebagian besar Organisasi Mahasiswa di universitas membutuhkan uang tambahan untuk kegiatan ataupun program kerja karena dana subsidi dari universitas yang tidak memadai.

Membuat para anggotanya harus mencari cara mendapatkan uang tambahan demi berjalannya program kerja yang ada di setiap kepanitiaan. Salah satu cara yang diambil adalah dengan membuka dana usaha berupa jualan makanan, minuman, dan barang-barang.

Dalam momentum penerimaan mahasiswa baru di kampus, juga sering dimanfaatkan menjadi peluang mencari dana melalui jasa-jasa perjokian yang ditawarkan untuk memudahkan tugas-tugas ospek yang biasanya cukup berat.

Pada bulan Agustus 2025 lalu, di kampus Universitas Brawijaya yang terletak di Jawa Timur menuai perhatian publik karena suatu permasalahan menyangkut dengan joki tugas ospek mahasiswa baru. Banyak mahasiswa baru yang merasa dirugikan karena kurangnya kejelasan mekanisme dan bahkan tidak didapatkan nya barang yang mereka beli dari vendor joki karena pesanan yang membludak.

Dikutip dari laman Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif dari Universitas Brawijaya kejadian ini merupakan praktik kedua kalinya dari tahun lalu dan sebuah arahan dari petinggi di internal kementrian Advokesma BEM kepada para staf akementerian. Sedangkan, dikonfirmasikan melalui  Presiden BEM FISIP Universitas Brawijaya Azhar Zidane bahwa praktik ini tidak ada koordinasi sama sekali dengan Badan Pengurus Inti dan tidak mewakili kebijakan BEM.

Azhar Zidane juga sangat mengecam tindakan yang dapat mencoreng dan merugikan nama baik BEM FISIP Universitas Brawijaya (LPM Perspektif, 2025). Dilihat dari instagram Kementrian Advokasi dan Kesejahteraan BEM FISIP Universitas Brawijaya terdapat video klarifikasi permintaan maaf terhadap kejadian ini dan sebagai tindak lanjut pihak BEM FISIP Universitas Brawijaya telah memberikan  surat peringatan  kepada pelaku yang terlibat.

Namun, mengenai tanggung jawab ganti rugi  terhadap korban yang terdampak jasa joki bodong belum ada informasi lebih lanjut. Kejadian semacam ini seharusnya menjadi pengingat terhadap semua organisasi kemahasiswaan ataupun kepanitiaan dalam menjalankan proker kedepan nya. Evaluasi total dan solusi sistemis perlu dilakukan khususnya  berkaitan dengan pendanaan.

Di dunia perkuliahan juga marak munculnya jasa joki tugas dari mulai presentasi, makalah sederhana, laporan praktikum, dan bahkan skripsi.

Banyak mahasiswa yang lulus melalui jasa joki mungkin terlihat sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas atau mencapai nilai tinggi, namun dampaknya justru merugikan diri sendiri dalam jangka panjang karena menghilangkan esensi dari proses akademik di dunia perkuliahan yang bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis, riset, dan pemecahan masalah.

Hal-hal tersebut yang menjadi bekal utama di dunia kerja. Selain itu, kebiasaan ini menumbuhkan mental  tidak menghargai proses dan menurunkan integritas bagi seorang mahasiswa. Nilai yang tercantum pada laporan hasil belajar bukanlah representasi kemampuan nyata yang dikuasai.

Melalui kejadian tersebut, dapat dipelajari bahwa meskipun terkesan menjadikan tanggung jawab yang dimiliki menjadi lebih mudah selesai dan ringan praktik perjokian lebih banyak membawa dampak negatif bagi pelaku yang terlibat didalamnya.

Permasalahan seperti penipuan, penyalahgunaan data diri, dan plagiarisme adalah yang paling sering terjadi. Bagi mahasiswa baru yang masih mengalami fase transisi seringkali belum menyadari dampak tersebut.

Penting bagi mahasiswa baru untuk selalu kembali pada tujuan awal mengapa mereka memilih jalan ini untuk belajar, bertumbuh, dan bersyukur karena diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi.

Pahami betul bagaimana sistem penilaian di setiap mata kuliah agar tidak salah arah dalam menjalani perkuliahan. Susun target, baik jangka pendek maupun jangka panjang, supaya langkahmu selalu terarah. Buat jadwal harian, mingguan, hingga bulanan agar waktu dan energi dapat dikelola dengan bijak untuk meraih tujuan kalian.

 

Penulis: Aisy Zivana Zaneta
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Airlangga

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses