Mahasiswa Kehutanan UMM Magang di PT. Bina Multi Alam Lestari: Implementasi Teori Ilmu Kehutanan pada Praktik Dunia Kerja dalam Industri Pemanenan Hasil Hutan Kayu

Magang UMM
Kegiatan Magang Mahasiswa Kehutanan UMM (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Malang, MMI – Pengalaman magang menjadi jembatan krusial antara teori di ruang kuliah dengan realitas dunia kerja. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengasah kompetensi, memahami dinamika kerja, serta mengintegrasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan.

Muhammad Ihsan Nun Zakir merupakan salah satu mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang baru-baru ini melaksanakan kegiatan magang di PT Bina Multi Alam Lestari, perusahaan yang bergerak dalam bidang pemanenan hasil hutan yang terletak di Muara Teweh, Kalimantan Tengah.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pengalaman Nyata di Lapangan

Selama menjalani magang, Ihsan terjun langsung dalam berbagai kegiatan teknis kehutanan. Mulai dari proses bongkar-muat kayu, pengukuran, pengambilan bibit, pengupasan kulit kayu, penyaradan, pemeliharaan bibit, perencanaan hutan, hingga pemasangan rambu jalan di area logging truck. Ia juga mempelajari prosedur penggunaan alat Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Pada saat kegiatan pengukuran kayu, Ihsan menggunakan meteran dan phiband untuk mengukur kayu yang telah ditebang dan dipotong. Ia menemukan bahwa rata-rata diameter kayu yang diukur berkisar antara 30-55 cm.

Menurut Bapak Jarkasi, Kepala Bagian Tata Usaha Kayu di PT. Bina Multi Alam Lestari, kayu dengan diameter bawah 30 cm tidak akan dikomersialkan. Ini menunjukkan adanya standar yang ketat dalam pemanfaatan sumber daya hutan.

Di bagian bongkar-muat, Ihsan mengamati bahwa setiap logging truck mampu membawa 8-10 potong kayu dalam satu kali perjalanan, dengan berat per potong mencapai 6-7 ton. Dalam sehari, satu truk dapat mengangkut 45-55 ton kayu, atau sekitar 4-5 kali perjalanan, dengan jarak tempuh mencapai 39 km.

Aktivitas di atas, memberinya pengalaman langsung dalam bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diaplikasikan untuk mendukung target produksi perusahaan.

Baca juga: Pentingnya Manajemen Pemasaran dalam Perusahaan

 

Pembelajaran Praktis dan Kesadaran Lingkungan

Dalam kegiatan pengambilan bibit, Ihsan dibimbing pengawas lapangan untuk mengenali jenis-jenis bibit pohon, terutama meranti, yang diperoleh dengan mencabut anakan di sekitar pohon induk. Pada kegiatan pengupasan kulit kayu, ia mempelajari bahwa tidak semua jenis kayu dikupas: pohon meranti dan tengkawang dikupas, sementara jenis balau dan keruing tidak.

Ihsan juga mendapat pengalaman baru saat mengikuti kegiatan penyaradan dan perencanaan hutan. Ia menyadari bahwa pembukaan kawasan baru harus memperhatikan dampak lingkungan, agar tetap selaras dengan prinsip kehutanan berkelanjutan.

“Kalau di kampus kami hanya latihan di petak ukur kecil, di lapangan saya harus mengaplikasikan itu di kawasan ratusan hektar. Di situ saya benar-benar merasakan pentingnya ketelitian dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat serta lingkungan hidup” ungkap Ihsan.

Selain itu, mata kuliah Pemanenan Hasil Hutan juga sangat relevan. Ihsan mempelajari bagaimana proses penebangan dan pengangkutan kayu harus sesuai standar operasional, sekaligus memperhatikan aspek keselamatan kerja dan efisiensi produksi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Dalam aspek Pengelolaan Hasil Hutan, ia menyaksikan bagaimana perusahaan menjaga kualitas kayu agar tetap sesuai dengan standar industri. Sementara itu, mata kuliah Kebijaksanaan Hutan membantunya memahami regulasi dan kebijakan yang menjadi dasar operasional perusahaan, terutama dalam konteks keberlanjutan dan kepatuhan terhadap hukum kehutanan.

Diluar aspek teknis, Ihsan memahami pentingnya penerapan prosedur K3. Menurutnya, hal sederhana seperti menggunakan radio komunikasi atau mengenakan alat pelindung diri bisa sangat memengaruhi kelancaran dan keselamatan kerja. Di sini, ia merasakan langsung relevansi mata kuliah Inventarisasi Hutan dan Perencanaan Hutan dengan praktik di lapangan.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

 

Integrasi Sosial dan Keberlanjutan

Dari aspek sosial dan pengelolaan hutan, magang ini memberikan wawasan bahwa pemanfaatan hasil hutan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan perusahaan menciptakan hubungan yang harmonis serta mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan. Kehadiran perusahaan senantiasa memastikan bahwa hutan yang telah ditebang dapat dikelola secara produktif dan lestari.

Bina Multi Alam Lestari memberikan wawasan menyeluruh bagi Ihsan tentang proses produksi kayu, mulai dari pengelolaan hutan hingga menghasilkan produk akhir. Pengalaman ini menegaskan bahwa pengetahuan kehutanan sangat penting dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Pengalaman magang tidak hanya memperkaya kompetensi pribadi, namun turut menumbuhkan kesadaran bahwa masa depan kehutanan bergantung pada keseimbangan antara kebutuhan industri dan perlindungan lingkungan. Pengalaman ini merupakan pijakan untuk melahirkan generasi rimbawan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkomitmen menjaga kelestarian hutan demi keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.

Penulis: Muhammad Ihsan Nun Zakir
Mahasiswa Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Malang


Dosen Pengampu: Galit Gatut Prakosa S.Hut., M.Sc

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses