Di era digital, ruang diskusi publik tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh percakapan tatap muka dan forum terbuka. Media sosial sudah menjadi tempat utama masyarakat bertukar pendapat untuk menilai suatu isu dan membentuk opini. Namun, tanpa disadari algoritma juga turut membantu kita melihat apa yang kita lihat dan konsumsi setiap hari.
Algoritma menganalisis dan merekomendasikan konten dengan mengacu pada minat, riwayat interaksi, serta preferensi pengguna. Tujuannya hanya satu, agar pengguna bertahan lebih lama.
Dilansir oleh Pew Research Center, mayoritas pengguna media sosial mendapatkan berita dari linimasa yang dikurasi otomatis, bukan pencarian aktif dan sadar. Hal itu menggambarkan bahwa informasi yang diterima bukanlah hasil pilihan, melainkan seleksi oleh sistem.
Persoalannya, kondisi ini memengaruhi pembentukan opini publik. Diskusi yang semestinya terbuka masing-masing sudut pandang, perlahan berubah menjadi homogen.
Konten yang telah sesuai dengan opini atau pandangan pribadi lebih sering muncul di layar, sementara sebaliknya bisa jarang. Filter bubble atau echo chamber adalah kata yang sering digunakan dalam konteks kajian media digital.
Studi dari MIT Media Lab juga mengungkap bahwa konten yang telah dimanipulasi emosional, provokatif, atau menciptakan reaksi cepat memiliki kemungkinan penyebaran lebih luas. Sehingga, sebagian besar opini publik dipengaruhi oleh paparan narasi, bukan diskusi dan argumentasi.
Di Indonesia, situasi ini semakin relevan. Media sosial adalah sumber informasi utama bagi banyak orang, khususnya generasi muda. Ketika satu isu terkeluarkan, respons publik seringkali banyak terbentuk, dan informasi dalam jumlah terlampau cepat dipertahankan, seringkali tanpa memahaminya penuh.
Sebagai hasilnya, komentar, reposting, dan reaksi emosi sering menghancurkan proses verifikasi dan refleksi. Tentu saja ini tidak berarti bahwa algoritma adalah sumber permasalahannya.
Pada satu sisi, sistem rekomendasi membantu pengguna menemukan informasi paling penting bagi mereka. Namun tanpa literasi digital yang tepat, risiko mengambil informasi pasif menjadi terlalu tinggi. Opini bukan hasil dari dialog, tetapi hasil dari pengulangan.
Laporan UNESCO mengenai literasi media dan informasi menggarisbawahi pentingnya masyarakat memahami prinsip bekerja platform digital. Literasi bukan hanya dalam hal membedakan hoaks dan fakta, tetapi juga dalam hal bahwa tidak semua yang muncul di linimasa menunjukkan kenyataan penuh.
Tantangannya bukan hanya di teknologi, tetapi juga pada kebiasaan kita sebagai pengguna. Diskusi publik perlu dibersihkan melalui pandangan kritis, sudut pandang, pembahasan tentang hal yang sensitif dan mempertahankan keterbukaan untuk mencari sumber informasi lainnya, alih-alih linimasa pribadinya.
Risiko polarisasi, kelalaian, kuil, dan ketidaksepakatan lebih tinggi ketika opini dibentuk oleh algoritma, bukan diskusi.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk waspada dan partisipatif, bukan sekeaar mengonsumsi informasi, tetapi juga mencari informasi dari proses dan diskusi tersebut. Dalam keheningan informasi, kritisme menjadi kunci untuk menjaga opini publik agar tetap evolusioner dan sehat.
Penulis: Ni Luh Putu Litiya Clarisa Maharani
Mahasiswa Universitas Ciputra (UC)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












