Mengenal Gangguan Skizofrenia: Bukan Gila Biasa tapi Gangguan Mental Kompleks yang Bisa Dikelola

penanganan gangguan skizofrenia
Mengenal Gangguan Skizofrenia: Bukan Gila Biasa tapi Gangguan Mental Kompleks yang Bisa Dikelola. Sumber: Penulis.

Bayangkan jika suara yang anda dengar bukan berasal dari luar, melainkan dari pikiran anda sendiri—suara yang tak bisa dihapus, tak bisa dihentikan, dan selalu hadir. Bagi jutaan penyintas skizofrenia, begitulah realitas yang mereka jalani setiap hari.

Gangguan jiwa saat ini sudah menjadi salah satu dari empat masalah kesehatan utama secara global, terutama di negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Gangguan jiwa terbagi menjadi dua, yaitu gangguan mental emosional dan gangguan jiwa berat. Gangguan jiwa berat dikenal juga dengan sebutan psikosis dan salah satu contoh psikosis adalah skizofrenia.

Tahukah kamu? World Health Organization (2017) mencatat gangguan mental yang paling umum didapatkan ialah gangguan kecemasan dan gangguan skizofrenia. Diperkirakan 4,4% dari populasi global menderita gangguan skizofrenia, dan 3,6% dari gangguan kecemasan.

Pemahaman masyarakat pada penyintas gangguan skizofrenia masih sangat minim, pengetahuan yang minim membuat persepsi yang salah mengenai gangguan ini.

Stigma dan label sosial ‘mistis’, ‘orang gila’, dan sebagainya tak luput dari salah satu stigma yang ada di masyarakat mengenai penderita gangguan skizofrenia. Agar teman-teman tidak salah langkah dalam menghadapi gangguan ini, mari kita mengenal lebih dalam mengenai gangguan skizofrenia.

Gejala Gangguan Skizofrenia

Dilandasi dari buku DSM-V yang dikembangkan oleh American Psychiatric Association bahwa gangguan skizofrenia dikatakan sebagai spektrum, dikarenakan gangguan skizofrenia memiliki satu atau lebih gangguan dalam lima aspek.

Lima aspek tersebut berupa halusinasi, keyakinan salah, permasalahan berpikir (berbicara), permasalahan dalam gerakan tubuh, gangguan perasaan, dan asosialitas.

Gejala skizofrenia seringkali dikelompokkan oleh ahli menjadi dua kategori, yakni gejala positif (adanya perilaku yang tidak biasanya muncul) dan gejala negatif (berkurangnya perilaku yang normal).

Gejala positif utama gangguan skizofrenia mencakup halusinasi dan delusi atau waham. Halusinasi adalah sebuah pengalaman menglihat, mendengar, merasakan yang sebenarnya tidak nyata.

Sementara delusi atau waham adalah sebuah keyakinan salah yang di mana keyakinan salah ini akan tetap berada meskipun diberikan fakta yang berlawanan dengan keyakinan tersebut.

Pada sisi lain, gejala negatif gangguan skizofrenia seringkali berupa ekspresi emosi yang datar, kurangnya motivasi untuk melakukan aktivitas sederhana (avolition), dan ketiadaannya keinginan untuk berinteraksi sosial.

Baca Juga: Membedah Skizofrenia: Antara Realitas Klinis dan Mitos Mistis di Masyarakat Indonesia

Faktor Penyebab Gangguan Skizofrenia

Perlu diketahui bahwa gangguan skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya satu faktor saja. Skizofrenia disebabkan oleh interaksi kompleks berbagai faktor biologis, genetik, dan lingkungan. Salah satu model yang sering kali digunakan untuk memahami terjadinya gangguan skizofrenia berupa model Diathesis-Stress.

Menurut model ini gangguan skizofrenia merupakan hasil interaksi antara faktor kerentanan genetik (diathesis) dengan faktor lingkungan (stres berat) yang memicu kerentanan genetik tersebut.

Selain faktor genetik dan lingkungan seringkali individu bergangguan skizofrenia memliki kelainan pada struktur dan fungsi otak.

Perbedaan struktur otak individu yang memiliki gangguan skizofrenia mencakup pengecilan volume dan perbedaan struktur dari berbagai bagian otak. Selain perbedaan struktur otak tersebut juga terdapat perbedaan pada transmitter sinyal otak.

Dampak dari Gangguan Skizofrenia

Gangguan skizofrenia, sebagai salah satu tipe gangguan jiwa tentu dapat memberikan berbagai ragam dampak negatif kepada individu yang terdampak.

Dari sudut pandang keluarga juga pasti akan mengorbankan banyak waktu untuk merawat, dan memiliki beban emosional, maupun sosial yang dikarenakan stigma milik masyarakat (Wardani & Afrizal, 2021). Adapun dampak negatif gangguan skizofrenia yaitu gangguan fungsi sosial dan stigma sosial.

Mayoritas penderita gangguan skizofrenia mengalami gangguan fungsi sosial, hal tersebut dapat dilihat dari berkurangnya kemampuan mereka untuk berinteraksi, munculnya perilaku yang tidak sesuai dengan realitas, serta kecenderungan menarik diri karena stigma lingkungan yang membuat mereka merasa tidak diterima.

Kuatnya stigma dan minimnya pemahaman masyarakat tentang gangguan skizofrenia membuat banyak penderita gangguan skizofrenia merasa takut atau malu untuk mencari pertolongan, serta adanya keyakinan bahwa gangguan skizofrenia dapat terjadi karena kurangnya iman atau gangguan supernatural kerap membuat mereka dibawa ke dukun atau “orang pintar” dibandingkan ke dokter yang akhirnya memperburuk kondisi mereka.

Baca Juga: Skizofrenia Bisa Menyebabkan Kematian? Lalu Bagaimana Cara Kita Menanganinya?

Intervensi Gangguan Skizofrenia

Skizofrenia tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dapat dikontrol agar penderita gangguan skizofrenia dapat menjalani kehidupan yang lebih berkualitas.

Adapun cara untuk mengontrol intensitas skizofrenia adalah dengan melakukan intervensi yang komprehensif dan multidisiplin untuk mengelola gejala, mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup penderita gangguan skizofrenia.

Salah satu landasan utama intervensi gangguan skizofrenia berupa penggunaan psikofarmakologi, yaitu pemberian obat antipsikotik untuk menyeimbangkan transmitter sinyal otak dan untuk mengurangi gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi. Tentu penggunaan obat antipsikotik harus disupervisi dan telah didiagnosa oleh seorang psikiater.

Selain penggunaan obat antipsikotik, berbagai bentuk psikoterapi berperan sangat penting. Terapi Kognitif-Perilaku (CBT) dapat membantu penyintas mengelola pola pikir yang irrasional dan merespons gejala dengan cara yang lebih adaptif dan efektif.

Pelatihan Keterampilan Sosial (SST) juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan interaksi sosial untuk memudahkan penyintas dalam berintegrasi kembali dalam lingkungan sosial.

Dukungan lingkungan terdekat, teman-teman dan terutama keluarga, tidak boleh diabaikan. Terapi keluarga bertujuan untuk mendidik anggota keluarga tentang skizofrenia secara komprehensif untuk dapat membuat lingkungan yang suportif untuk penyintas.

Intervensi terakhir dan paling krusial harus diberikan pada intervensi dini. Semakin cepat seorang penyintas terdiagnosis maka akan makin besar potensi penyintas untuk mengendalikan gejala, mencegah pemburukan kondisi, dan mengurangi risiko kekambuhan di masa depan.

Kesimpulan

Skizofrenia adalah gangguan kompleks yang sering kali tidak diketahui secara detail oleh masyarakat umum. Gangguan Skizofrenia bukan berasal dari hal ‘mistis’ ataupun ‘gila biasa’, melainkan sebuah gangguan yang sangat prevalen dengan gejala yang tidak dapat disepelehi.

Pengetahuan dan pemahaman gangguan skizofrenia sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum agar stigma dan diskriminasi terhadap penyintas dapat dipatahkan.

Artikel ini tidak bermaksud menjadi acuan untuk melakukan self-diagnosis. Jika mendapati diri anda atau orang terdekat mengalami gejala terus menerus dari gangguan skizofrenia di atas dan telah terjadi selama 6 bulan lebih, segera cari bantuan professional seperti psikolog atau psikiater. Skizofrenia itu gangguan kompleks, bukan gangguan jiwa biasa.

Penulis:
1. Rd. Muhammad Hanif Nurandri (G1C124018)
2. Tasya Kania Viandira (G1C124027)
3. Sakyna Maharani (G1C124029)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)

Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog 
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog 
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar