Orang yang mengalami skizofrenia sering dianggap berbeda, aneh, bahkan dilabeli sebagai ‘orang gila’. Tak jarang kondisi ini dikaitkan dengan kutukan, yang bahkan bisa menular hanya dengan berdekatan dengan penderitanya. Akibatnya, penderita skizofrenia sering dikucilkan, bahkan menjadi sasaran kekerasan maupun bullying.
Padahal dengan penanganan yang tepat, gejala skizofrenia bisa dikendalikan dan penderitanya pun bisa kembali bekerja serta menjalankan fungsinya sebagai manusia, sebagaimana mestinya. Per Januari 2022, WHO mencatat sekitar lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia mengalami kondisi ini.
Baik pria maupun wanita, keduanya sama-sama berpotensi untuk mengalami kondisi ini. Meski demikian, pada beberapa kasus, pria biasanya lebih dulu menunjukkan gejala skizofrenia dibandingkan wanita.
Definisi Menurut Literatur Ilmiah
WHO mendefinisikan skizofrenia sebagai gangguan mental kronis yang ditandai distorsi persepsi, pola pikir yang terganggu, dan perubahan perilaku. Gangguan ini berhubungan dengan disfungsi neurobiologis yang memengaruhi cara otak memproses realitas.
Penderita skizofrenia juga bisa mengalami gejala psikosis, atau ketidakmampuan membedakan realita dan imajinasinya. Karena alasan inilah skizofrenia juga dikenal dengan istilah ‘orang gila’ di kalangan masyarakat.
Gejala Utama
Skizofrenia bisa saja dialami oleh pria maupun wanita. Namun, pria biasanya menunjukkan gejala skizofrenia lebih awal, yakni sekitar usia 20-an, sedangkan wanita biasa pada usia 30-an.
Penderita skizofrenia umumnya tidak akan menyadari bahwa dirinya mengalami gejala. Mereka juga sering kali tidak merasakan ada yang salah dengan cara pikir, perilaku, maupun kondisinya secara umum. Namun, perubahan ini akan disadari oleh pasangan, keluarga, kerabat, sahabat, maupun orang terdekatnya.
Secara umum, gejala skizofrenia bisa dibedakan menjadi gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif gangguan mental menunjukkan adanya perubahan pada pola pikir dan perilaku penderitanya, berupa:
1. Delusi
Merupakan suatu keyakinan yang bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya, meskipun semua orang bahkan bukti menyatakan hal sebaliknya. Kondisi yang juga dikenal sebagai waham ini biasanya memiliki objek yang memicu gejalanya. Delusi akan menyebabkan penderita skizofrenia merasa seperti sedang dikejar, diawasi, maupun dikendalikan.
2. Halusinasi
Membuat seseorang merasakan, mendengar, melihat, mengecap, maupun menyentuh, sesuatu kondisi yang tidak nyata. Penderita skizofrenia paling sering mengalami halusinasi pendengaran, berupa bisikan dari orang yang tidak nyata atau tidak bisa dideskripsikan sumbernya.
3. Bicara yang Tidak Koheren atau Kekacauan Bicara
Kondisi ini biasa dikenali sebagai jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan, atau komunikasi yang tidak berjalan 2 arah. Jawaban yang diberikan penderita skizofrenia bahkan terkadang tidak bisa dipahami, karena tidak terdapat benang merah antar kata yang diucapkannya, yang dikenal dengan word salad.
Selain bicara yang tidak koheren, penderita skizofrenia juga bisa saja melakukan perpindahan topik pembicaraan yang tidak berkaitan dengan topik sebelumnya.
4. Perilaku yang Tidak Koheren
Gerak-gerik yang dilakukan secara tiba-tiba, tanpa adanya kondisi pemicu, bisa menjadi salah satu gejala skizofrenia. Selain itu, pasien skizofrenia juga bisa saja merasa tersinggung, bahkan marah karena suatu gerakan yang dilakukan oleh orang lain, yang sebenarnya gerakan ini adalah hal yang wajar (misalnya tersenyum atau menyilangkan kaki).
Selain itu, perilaku yang inkoheren juga bisa membuat pasien yang menderita skizofrenia tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama.
Sedangkan gejala negatif skizofrenia yang lebih mengacu pada hilangnya ekspresi, keinginan, dan motivasi penderitanya. Gejala ini biasa terjadi beberapa tahun sebelum kondisi ditegakkan, tetapi seringkali diabaikan karena dianggap hal yang wajar. Padahal gejala negatif ini akan memburuk seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa gejala tersebut bisa ditandai dengan:
Ekspresi wajah dan nada suara (atau respon emosional), yang tidak sesuai:
- Tidak merasakan kepuasan maupun kebahagiaan
- Tidak mau bersosialisasi, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu sendirian di rumah
- Tidak berminat dan tidak memiliki motivasi untuk melakukan berbagai aktivitas
- Tidak memerhatikan penampilan dan kebersihian diri
- Mengalami perubahan pola tidur
Beberapa gejala tersebut akan menyebabkan orang dengan skizofrenia menjadi:
- Terus merasa curiga atau paranoid, maupun takut, sehingga mengasingkan diri dari lingkungan sosialnya
- Kesulitan untuk berkonsentrasi dan kurang motivasi
- Sulit tidur atau mengalami perubahan pola tidur
- Kesulitan mengerjakan tugas sekolah maupun menyelesaikan pekerjaan kantor
- Mudah marah
- Menyalahgunakan narkoba
- Memiliki kecanduan mengonsumsi minuman beralkohol
- Depresi, bahkan memiliki ide bunuh diri
Penyebab Skizofrenia
Hingga saat ini tidak ditemukan pasien skizofrenia yang disebabkan oleh 1 penyebab saja. Terjadinya skizofrenia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penyebab skizofrenia yang dimaksud adalah sebagai berikut ini:
- Ketidakseimbangan senyawa kimia di otak
- Terjadinya gangguan tumbuh kembang otak saat masih dalam kandungan
- Adanya perubahan struktur otak yang menyebabkan terputusnya koneksi pada beberapa bagian otak.
Baca juga: Mengenal Gangguan Skizofrenia: Bukan Gila Biasa tapi Gangguan Mental Kompleks yang Bisa dikelola
Faktor Risiko Skizofrenia
Selain kombinasi dari beberapa kondisi yang telah disebutkan sebelumnya, skizofrenia juga lebih berisiko dialami oleh mereka yang memiliki kondisi tertentu. Berikut ini adalah beberapa faktor risiko skizofrenia yang dimaksud:
1. Genetik
Meski tidak terbukti dengan pasti, Anda yang memiliki orang tua maupun saudara kandung dengan skizofrenia, akan memiliki risiko mengalami kondisi serupa yang lebih besar.
2. Lingkungan
Infeksi virus, paparan dengan zat beracun, maupun kejadian yang memicu stres parah juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami skizofrenia.
3. Komplikasi Kehamilan dan Penyulit Saat Persalinan
Termasuk diabetes dan infeksi saat hamil, maupun preeklampsia dapat memengaruhi tumbuh kembang otak bayi saat masih dalam kandungan. Selain itu, bayi yang lahir dengan asfiksia maupun prematur juga lebih berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang otak akibat berkurangnya nutrisi dan oksigen pada otak di awal kehidupannya.
Kapan Harus ke Profesional?
Sayangnya, gejala skizofrenia seringkali sulit dikenali, karena berkembang secara bertahap dan dapat bervariasi. Dalam beberapa kasus, gejala awal skizofrenia juga dapat menyerupai gangguan mental lainnya, seperti depresi atau gangguan kecemasan.
Pada tahap awal, penderita mungkin hanya menunjukkan tanda-tanda ringan seperti perubahan pola tidur, kesulitan berkonsentrasi, atau menarik diri dari lingkungan sosial, yang sering kali dianggap sebagai stres biasa.
Jika Anda atau orang tercinta mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku yang mencurigakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis kesehatan jiwa di Rumah Sakit Pondok Indah. Konsultasi dengan profesiuonal membantu menentukan apakah gejala yang muncul terkait dengan skizofrenia, maupun kondisi lain, serta mendapatkan penanganan yang sesuai.
Jika tidak diatasi dengan tepat, bahkan dibiarkan tanpa penanganan, skizofrenia dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya, bahkan menyebabkan komplikasi. Oleh karena itu, jangan malu untuk memeriksakan diri ke professional mendapati adanya kondisi yang menyerupai gejala skizofrenia.
Lantas, bagaimana realita penanganan skizofrenia di lapangan? Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan tim penulis di RSJ Kolonel H.M. Syukur, ditemukan bahwa teori medis dan dinamika sosial saling berkelindan dalam proses pemulihan klien.
Penanganan yang Efektif
Penanganan skizofrenia memerlukan pendekatan holistik yang memadukan intervensi medis, rehabilitasi psikososial, dan dukungan kebijakan. Berdasarkan temuan di lapangan, efektivitas penanganan tercapai ketika ketiga elemen ini berjalan beriringan.
1. Intervensi Medis (Farmakologi)
Terapi farmakologis dengan obat antipsikotik tetap menjadi pilar utama untuk menstabilkan kondisi neurokimiawi otak klien. Efektivitas ini dikonfirmasi langsung oleh Tn. U (30 tahun), seorang klien terdiagnosis skizofrenia di ruang rehabilitasi. Ia mengungkapkan bahwa kepatuhan minum obat secara signifikan meredakan gejolak emosinya.
“Dulu rasa benci itu kuat sekali, tapi setelah rutin minum obat di sini, rasanya jauh lebih tenang dan benci itu hilang,” ungkapnya. Hal ini membuktikan bahwa kontrol gejala positif (seperti delusi curiga dan agitasi) sangat bergantung pada kepatuhan minum obat yang diawasi ketat.
2. Rehabilitasi Psikososial
Selain obat, program rehabilitasi berperan krusial dalam mengembalikan fungsi sosial klien. Perawat I, salah satu tenaga medis di RSJ Kolonel H.M. Syukur, menjelaskan perbedaan signifikan antara klien fase akut dengan klien rehabilitasi.
“Klien di fase awal biasanya emosinya meledak-ledak. Namun setelah masuk rehabilitasi, mereka perlahan mampu mengendalikan diri, bisa diajak bicara dua arah, dan lebih stabil,” jelasnya. Aktivitas terstruktur seperti senam pagi, karaoke, dan kegiatan rohani membantu klien membangun kembali rutinitas harian yang hilang.
3. Kebijakan dan Kolaborasi Lintas Sektoral
Penanganan efektif tidak bisa berdiri sendiri di rumah sakit. Kepala Ruangan (Karu) yang membawahi ruang rawat informan menyoroti pentingnya kolaborasi dengan Dinas Sosial, terutama bagi klien yang terlantar atau tidak memiliki keluarga (gelandangan psikotik).
“Untuk klien seperti Tn. A, yang berasal dari Dinas Sosial, tantangannya adalah ketiadaan keluarga yang menjemput. Meskipun kondisi medisnya bisa stabil, tanpa dukungan keluarga atau institusi sosial lanjutan, risiko kekambuhan sangat tinggi,” ungkap Kepala Ruangan tersebut. Hal ini menegaskan bahwa penanganan efektif harus mencakup perencanaan pasca-rawat yang jelas.
Stigma dan Miskonsepsi di Masyarakat
Meskipun akses informasi kesehatan mental semakin terbuka, stigma dan kerancuan pemahaman mengenai skizofrenia masih mengakar kuat. Berdasarkan survei asesmen kebutuhan terhadap 28 responden di media sosial, ditemukan sebuah fenomena miskonsepsi yang menarik.
Sebanyak 25% responden masih memiliki pemahaman yang rancu, mengasosiasikan skizofrenia dengan kepribadian ganda (Dissociative Identity Disorder). Kerancuan ini berpotensi mengaburkan pemahaman masyarakat tentang gejala inti skizofrenia yang sebenarnya berupa gangguan proses pikir (delusi/halusinasi), bukan pergantian identitas.
Lebih jauh, stigma “berbahaya” juga masih melekat, padahal realita di lapangan sering kali berbeda. Tn. U, dalam sesi wawancara, menunjukkan sikap yang sangat kooperatif, sopan, dan memiliki harapan hidup yang wajar seperti ingin kembali bekerja mengurus kebun sawitnya. Ketidaksiapan masyarakat menerima klien yang sudah pulih inilah yang sering kali menjadi tembok penghalang reintegrasi sosial mereka.
Peran Keluarga dan Lingkungan
Keluarga memegang peran sentral (sekaligus menjadi titik kritis) dalam keberhasilan pemulihan klien terdiagnosis skizofrenia. Data lapangan menyingkap ironi di mana keluarga sering kali belum siap menjadi sistem pendukung utama.
Kepala Ruangan di bangsal tersebut mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa banyak klien yang sudah dinyatakan boleh pulang (discharge), namun tertahan di RS karena keluarga menolak menerima kembali. “Banyak keluarga yang enggan menjemput karena masih trauma, takut, atau bahkan sudah menyerahkan tanggung jawabnya ke Dinas Sosial,” ujarnya.
Dampak dari ketiadaan keluarga ini terlihat jelas pada Tn. A, klien yang dibawa oleh Dinas Sosial. Saat diwawancarai, Tn. A tampak bingung dan pasrah, “Nggak tahu… diantar orang aja ke sini. Nggak ada yang jenguk,” ujarnya singkat. Isolasi sosial seperti ini membuat proses pemulihan menjadi jauh lebih lambat dibandingkan Tn. U yang masih memiliki ingatan kuat tentang kerabatnya.
Tanpa penerimaan keluarga (acceptance), klien berisiko mengalami relaps (kambuh) atau menjadi pasien kronis yang menetap di rumah sakit seumur hidup (hospitalisasi berkepanjangan). Oleh karena itu, psikoedukasi tidak hanya mendesak bagi klien, tetapi wajib menyasar keluarga agar mampu menjadi pintu gerbang pemulihan, bukan tembok penolakan.
Analisis Penulis
Berdasarkan triangulasi data dari survei, wawancara profesional (Perawat & Kepala Ruangan), serta perspektif klien (Tn. U dan Tn. A), penulis menemukan adanya kesenjangan (gap) yang nyata antara Kesiapan Klinis Klien dan Ketidaksiapan Sistem Sosial.
Di satu sisi, klien terdiagnosis yang telah menjalani rehabilitasi (seperti Tn. U) menunjukkan potensi pemulihan yang baik: gejala terkontrol, emosi stabil, dan memiliki motivasi produktif. Namun, di sisi lain, lingkungan sosial dan keluarga sering kali belum siap menerima mereka kembali akibat stigma dan trauma masa lalu.
Kondisi skizofrenia bukan sekadar masalah medis individu, melainkan masalah sistemik yang melibatkan keluarga dan masyarakat. Intervensi psikoedukasi ke depan harus berfokus pada dua hal krusial: (1) Meluruskan mitos di masyarakat untuk mengurangi ketakutan yang tidak berdasar, dan (2) Memberdayakan keluarga agar mampu menerima dan mendampingi klien pasca-rawat. Tanpa dukungan ekosistem sosial yang inklusif, keberhasilan pengobatan medis di rumah sakit akan sia-sia saat klien kembali ke masyarakat.
Menjemput Harapan, Menghapus Stigma
Skizofrenia bukanlah akhir dari segalanya. Realita di lapangan menunjukkan bahwa dengan pengobatan yang tepat dan rehabilitasi yang tekun, klien seperti Tn. U mampu pulih, memiliki wawasan (insight) yang baik, bahkan bercita-cita untuk kembali berkerja. Stabilitas medis bukanlah tantangan terbesar saat ini; tantangan sesungguhnya justru terletak pada tembok stigma di masyarakat dan ketidaksiapan keluarga.
Temuan asesmen menegaskan bahwa miskonsepsi seperti menyamakan skizofrenia dengan kepribadian ganda atau menganggapnya murni gangguan spiritual masih menjadi penghalang utama penerimaan sosial. Ketika klien sudah siap “pulang”, sering kali justru lingkunganlah yang belum siap “menerima”.
Oleh karena itu, upaya pemulihan tidak bisa hanya dibebankan pada pundak klien dan tenaga medis. Masyarakat dan keluarga harus mengambil peran aktif: bukan sebagai hakim yang memberi label “gila”, melainkan sebagai sistem pendukung yang memvalidasi keberadaan mereka. Mari kita hentikan stigma, dukung pengobatan medis, dan berikan ruang bagi mereka untuk kembali menjadi manusia yang utuh dan berdaya.
Penulis:
- Anggi Maretha Wulandari
- Syah Akbar
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












