Di era serba digital seperti sekarang, religiusitas di kalangan remaja menjadi topik yang menarik sekaligus memprihatinkan. Arus globalisasi, media sosial, budaya barat, dan gaya hidup instan kerap membawa remaja menjauh dari nilai-nilai spiritual.
Minimnya pemahaman agama, krisis identitas, serta lingkungan yang kurang mendukung membuat mereka mudah terombang-ambing dalam pencarian jati diri. Religiusitas bukan lagi soal seberapa sering beribadah, tapi tentang bagaimana remaja menemukan arah dan makna hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Menyadari pentingnya membekali generasi muda dengan nilai spiritual dan pemahaman yang tepat, Dospulkam (Dosen Pulang Kampung) menggelar kegiatan penyuluhan dengan topik “Remaja Berdaya, Keluarga Sejahtera: Strategi Penguatan Kapasitas Remaja dalam Mewujudkan Kampung Ramah Keluarga di Desa Babakan, Bogor” dan subtopik “Religiusitas Remaja” di RW 4 Desa Babakan, pada 13 Juli 2025. Kegiatan ini diikuti 26 remaja dari tingkat SMP dan SMA dengan tujuan memberikan wawasan serta membentuk sikap yang lebih positif terhadap kehidupan beragama di era modern.
Penyuluhan ini menjadi hal baru bagi para remaja yang tengah berada di masa pencarian jati diri dan rentan terhadap pengaruh lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, mereka tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga diajak berdiskusi seputar nilai-nilai keagamaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Materi terkait religiusitas remaja tersebut disampaikan oleh Musthofa, S.Ag., M.Pd.I, seorang dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen yang telah berpengalaman dalam isu-isu keagamaan. Dalam sesinya, ia menekankan peran orang tua dan tantangan zaman yang menjadi kendala pembangunan religiusitas remaja.
Orang tua menjadi role model dalam ibadah dan akhlak anak melalui pembiasaan nilai-nilai Islam sejak dini, mendorong remaja aktif dalam kegiatan islami, dan menyediakan lingkungan yang mendukung karena tantangan zaman (adaptasi, dehumanisasi, demoralisasi, dan despiritualisasi) menuntut remaja tetap berpegang pada nilai-nilai agama,” ungkapnya.
Penyuluhan berlangsung cukup interaktif dan menyenangkan. Kejujuran remaja saat ditanya soal keterlambatan shalat menunjukkan bahwa mereka sedang dalam proses memahami dan membangun kedekatan dengan nilai-nilai agama, meski belum sepenuhnya konsisten.
Baca juga: Perangi Napza: Mahasiswa KKN UNDIP Edukasi Remaja di Desa Tiyaran
Selain itu, saat pembawa acara bertanya terkait ciri-ciri remaja muslim yang religius yang sebelumnya disebutkan di dalam materi, remaja menjawab dengan tepat, “Ada menjaga shalat lima waktu, membaca dan memahami Al-Qur’an, berakhlak mulia, menjauhi maksiat, dan aktif dalam kegiatan keislaman“, jawab salah satu remaja perempuan dengan percaya diri mencerminkan bahwa mereka mendengarkan dan memahami materi yang disampaikan dengan baik.
Kegiatan ini berakhir dengan penyampaian kesan dalam post-test yang diisikan oleh remaja. Banyak remaja menyampaikan rasa senang dan manfaat yang dirasakan setelah mendapatkan materi terkait religiusitas remaja, “Sangat menyenangkan dan acara ini membuat saya jadi tahu tentang remaja yang religius sehingga menjadi tambahan belajar untuk kedepannya”, ungkap banyak remaja yang hadir.
Acara ditutup dengan Panitia juga mengucapkan terima kasih atas antusiasme para peserta dan berharap remaja akan datang lagi pada penyuluhan pertemuan selanjutnya. Sebab, membangun remaja berdaya bukan hanya tanggung jawab keluarga atau sekolah, tetapi juga menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat termasuk remaja itu sendiri.
Penulis:
- Devani Ira Putri
- Risda Rizkillah
Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB University
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












