Banyuwangi, MMI – Suara tawa anak-anak bercampur dengan denting musik tradisional terdengar di Kampoeng Batara, sebuah pusat budaya yang berdiri di Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro.
Di tempat inilah, 14 mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) UB 2025 mengabdikan diri, berbagi ilmu, dan belajar bersama masyarakat.

Kampoeng Batara bukan sekadar lokasi wisata budaya. Didirikan oleh Cak Widi, tempat ini menjadi rumah bagi berbagai kegiatan edukasi dan kesenian, mulai dari sekolah adat, tari, musik, pembuatan batik, hingga kerajinan bambu.
Bagi Cak Widi, anak-anak Batara adalah generasi dengan potensi besar untuk melestarikan budaya lokal.
Pastinya di Kampoeng Batara, Cak Widi tidak sendiri, juga ada Cak Fendi yang membersamai teman-teman Kampoeng Batara dalam berbagi ilmu, baik kesenian maupun akademik.
Kebiasaan anak-anak Kampoeng Batara wajib diapresiasi, salah satunya yaitu budaya literasi yang tinggi, karena mereka yakin budaya literasi mampu membuka jendela dunia pengetahuan.
Selain itu, pendiri Kampoeng Batara juga menggagas program kelas aksara yang tersebar di wilayah Kalipuro, membuka kesempatan belajar membaca dan menulis bagi warga yang belum melek huruf.

Selama program berlangsung, mahasiswa MMD UB 2025 ikut mengajar di berbagai titik kelas aksara. Tak hanya fokus pada literasi, mereka juga menyuntikkan keterampilan baru bagi remaja dan masyarakat.
Di Kampoeng Batara, mahasiswa berbagi ilmu tentang branding produk, rebranding kemasan, dan teknik pemasaran yang tepat bagi para pelaku usaha lokal.
“Kami ingin masyarakat bisa menjual produk mereka dengan nilai yang lebih tinggi,” ujar salah satu anggota tim MMD.
Pelatihan pun merambah ke persiapan dunia kerja. Mahasiswa memberikan praktik pembuatan curriculum vitae dan surat lamaran kerja yang profesional.
Materi ini disambut antusias oleh para remaja, yang kini mulai memikirkan langkah masa depan mereka. “Keterampilan seperti ini penting dikuasai sejak muda,” tambahnya.
Tak hanya di ruang kelas, kreativitas mahasiswa juga tampak di lapangan. Menjelajah area Kampoeng Batara yang luas, mereka tergerak untuk memperbarui peta lokasi dan membuat plang penunjuk jalan dari papan bekas berwarna putih.
Langkah ini tidak hanya memudahkan pengunjung, tetapi juga menjadi bentuk pemanfaatan limbah menjadi karya bermanfaat.
Bahkan, dari minyak jelantah mahasiswa MMD UB 2025 berhasil mengolahnya menjadi sebuah lilin aromaterapi.
Sebuah inovasi yang menjadi bentuk nyata pengurangan limbah rumah tangga sekaligus menciptakan produk baru yang ramah lingkungan dan bernilai guna.

Program MMD UB 2025 di Kampoeng Batara membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar memberi, tetapi juga menerima.
Mahasiswa pulang dengan membawa ilmu baru dari kearifan lokal, sementara masyarakat mendapat bekal keterampilan untuk mengembangkan potensi mereka.
Sebuah kolaborasi yang meninggalkan jejak, tak hanya di papan nama, peta, atau lilin aromaterapi, tetapi juga di hati warga Kalipuro.
Penulis:
1. Aliyatul Rohimah
2. Nurul Azizah
Mahasiswa Universitas Brawijaya
Dosen Pengampu: Ir. Yasa Palaguna Umar, S.TP., M.Sc., Ph.D.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















