Pengaruh Fenomena ‘Racun TikTok’ terhadap Perilaku Impulsive Buying pada Mahasiswi Uhamka

Racun TikTok impulsive buying
Kemudahan akses transaksi digital memungkinkan konsumen melakukan pembelian hanya dalam beberapa langkah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya pembelian yang tidak direncanakan. (Ilustrasi: Dok. MMI)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Electronic Word of Mouth (e-WOM) atau fenomena “Racun TikTok” terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka).

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada 72 mahasiswi aktif Uhamka. Data dikumpulkan menggunakan skala e-WOM dan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-WOM berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying (; ; ). Nilai koefisien determinasi () sebesar 0,182 menunjukkan bahwa e-WOM memberikan kontribusi sebesar 18,2% terhadap impulsive buying. Dengan demikian, semakin tinggi paparan e-WOM melalui TikTok, semakin tinggi kecenderungan mahasiswi untuk melakukan pembelian secara impulsif.

Kata Kunci: electronic word of mouth, impulsive buying, mahasiswi, TikTok

ABSTRACT

This study aimed to examine the effect of Electronic Word of Mouth (e-WOM), known as the “TikTok Poison” phenomenon, on impulsive buying behavior among female students at Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka).

This study employed a quantitative approach using a purposive sampling technique involving 72 active female students of Uhamka. Data were collected using the e-WOM Scale and the Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) and were analyzed using simple linear regression.

The results showed that e-WOM had a positive and significant effect on impulsive buying (; ; ). The coefficient of determination () was 0.182, indicating that e-WOM contributed 18.2% to impulsive buying. Thus, the higher the exposure to e-WOM through TikTok, the greater the tendency of female students to engage in impulsive buying behavior.

Keywords: electronic word of mouth, female students, impulsive buying, TikTok

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi digital dan internet telah membawa perubahan dalam cara masyarakat mengakses informasi sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi. Media sosial tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai sarana berkomunikasi, tetapi juga menjadi sumber informasi yang memengaruhi keputusan pembelian. Salah satu platform yang mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir adalah TikTok.

Berdasarkan laporan DataReportal (2026), TikTok memiliki potensi jangkauan sekitar 180 juta pengguna dewasa di Indonesia. Tingginya jumlah pengguna tersebut menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media pemasaran yang mampu memengaruhi perilaku konsumen melalui berbagai konten seperti ulasan produk, rekomendasi kreator, video unboxing, dan pengalaman pengguna.

Salah satu fenomena yang berkembang di kalangan pengguna TikTok adalah “Racun TikTok”, yaitu kondisi ketika pengguna terdorong untuk membeli suatu produk setelah melihat ulasan, rekomendasi, atau pengalaman pengguna lain yang dibagikan melalui platform tersebut.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep Electronic Word of Mouth (e-WOM). Menurut Chu dan Kim (2011), e-WOM merupakan bentuk komunikasi antar-konsumen melalui media sosial yang memungkinkan individu berbagi informasi, pendapat, dan pengalaman mengenai suatu produk atau jasa kepada pengguna lainnya. Dalam konteks TikTok, e-WOM dapat ditemukan melalui video ulasan produk, komentar pengguna, testimoni, maupun rekomendasi yang disebarkan oleh kreator konten.

Informasi yang berasal dari sesama pengguna umumnya dianggap lebih kredibel dibandingkan informasi yang berasal langsung dari perusahaan. Oleh karena itu, e-WOM memiliki kemampuan untuk memengaruhi sikap dan perilaku konsumen, termasuk perilaku impulsive buying.

Menurut Permatasari (2018), perilaku pembelian impulsif terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya dan biasanya dipengaruhi oleh dorongan emosional yang muncul secara tiba-tiba.

Dalam lingkungan digital seperti TikTok, konsumen dapat dengan mudah berpindah dari proses melihat konten menuju proses pembelian hanya dalam beberapa langkah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya pembelian yang tidak direncanakan.

Mahasiswi merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami perilaku impulsive buying. Mahasiswi usia dewasa awal cenderung lebih banyak menggunakan media sosial, lebih mudah terpapar tren baru, dan lebih mudah melakukan transaksi digital.

Fitriani et al. (2024) menjelaskan bahwa mahasiswi mungkin tertarik pada produk yang sedang populer sehingga mereka melakukan pembelian tanpa perencanaan yang matang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan e-WOM di media sosial dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku pembelian impulsif di kalangan mahasiswi.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa e-WOM memiliki hubungan dengan perilaku impulsive buying. Penelitian Ilmi dan Prabayanti (2025) menemukan bahwa konten ulasan produk di TikTok sebagai bentuk e-WOM berpengaruh terhadap perilaku impulsive buying.

Hasil penelitian serupa juga ditemukan oleh Helpani dan Putra (2026) yang menunjukkan bahwa e-WOM berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi pengguna TikTok Shop. Meskipun demikian, penelitian yang secara khusus mengkaji fenomena “Racun TikTok” pada mahasiswi Uhamka masih terbatas.

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Electronic Word of Mouth (e-WOM) terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi Uhamka. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara Electronic Word of Mouth (e-WOM) terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi Uhamka.

LANDASAN TEORI

Electronic Word of Mouth (e-WOM)

Aktivitas berbagi pengalaman, opini, maupun rekomendasi mengenai suatu produk melalui media digital dikenal sebagai Electronic Word of Mouth (e-WOM). Menurut Chu dan Kim (2011), e-WOM memungkinkan individu untuk berbagi informasi, pendapat, rekomendasi, maupun pengalaman mengenai suatu produk atau jasa kepada pengguna lain melalui platform digital. Informasi yang disampaikan melalui e-WOM dapat membantu konsumen dalam mengevaluasi suatu produk sebelum melakukan pembelian.

Dalam konteks media sosial TikTok, e-WOM dapat ditemukan dalam bentuk ulasan produk, komentar pengguna, rekomendasi konten kreator, maupun pengalaman penggunaan yang dibagikan secara daring. Informasi yang berasal dari sesama pengguna sering kali dianggap lebih kredibel karena didasarkan pada pengalaman nyata, sehingga mampu memengaruhi sikap dan keputusan pembelian konsumen (Chu & Kim, 2011).

Menurut Chu dan Kim (2011), e-WOM terdiri atas tiga aspek, yaitu:

  • Opinion Seeking, yaitu kecenderungan individu untuk mencari informasi atau pendapat dari pengguna lain mengenai suatu produk.

  • Opinion Giving, yaitu kecenderungan individu untuk memberikan pendapat atau rekomendasi mengenai suatu produk kepada orang lain.

  • Opinion Passing, yaitu kecenderungan individu untuk meneruskan atau menyebarkan informasi mengenai suatu produk kepada pengguna lain melalui media sosial.

Impulsive Buying

Impulsive buying merupakan kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Verplanken dan Herabadi (2001) menjelaskan bahwa impulsive buying terjadi ketika individu mengalami dorongan yang kuat untuk membeli suatu produk secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari pembelian tersebut secara mendalam.

Perilaku ini umumnya dipengaruhi oleh aspek emosional dan muncul secara cepat ketika individu berhadapan dengan suatu stimulus yang menarik.

Dalam konteks belanja online, hal ini dapat terjadi karena konsumen terpapar berbagai informasi, promosi, maupun rekomendasi produk yang menarik perhatian. Kemudahan akses transaksi digital memungkinkan konsumen melakukan pembelian hanya dalam beberapa langkah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya pembelian yang tidak direncanakan.

Menurut Verplanken dan Herabadi (2001), impulsive buying terdiri atas dua dimensi utama, yaitu:

  • Dimensi Kognitif, yaitu aspek yang berkaitan dengan kurangnya perencanaan, pertimbangan, dan evaluasi sebelum melakukan pembelian.

  • Dimensi Afektif, yaitu aspek yang berkaitan dengan dorongan emosional, perasaan senang, antusias, serta keinginan kuat untuk segera melakukan pembelian.

Hubungan Electronic Word of Mouth (e-WOM) dengan Impulsive Buying

Electronic Word of Mouth (e-WOM) memungkinkan konsumen memperoleh berbagai informasi mengenai suatu produk melalui pengalaman dan rekomendasi pengguna lain. Informasi yang diterima melalui media sosial dapat meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap suatu produk serta mendorong munculnya keinginan untuk memiliki produk tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Nguyen et al. (2024) menunjukkan bahwa ulasan online dan e-WOM memiliki pengaruh positif terhadap kecenderungan impulsive buying pada konsumen Generasi Z di Vietnam. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa informasi yang diperoleh melalui media digital dapat mendorong konsumen melakukan pembelian secara spontan.

Temuan serupa juga ditemukan oleh Ilmi dan Prabayanti (2025) yang menunjukkan bahwa konten review di TikTok sebagai bentuk e-WOM berpengaruh terhadap perilaku impulsive buying. Setiawan dan Tjiptodjojo (2026) juga menemukan bahwa e-WOM berpengaruh terhadap impulsive buying pada Generasi Z di Indonesia.

Berdasarkan berbagai penelitian sebelumnya, informasi yang diterima melalui e-WOM diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan konsumen melakukan pembelian impulsif. Atas dasar tersebut, penelitian ini menguji pengaruh e-WOM terhadap impulsive buying pada mahasiswi Uhamka.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji pengaruh fenomena racun TikTok terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi Uhamka. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data numerik guna menguji hipotesis penelitian (Sugiyono, 2013). Populasi penelitian adalah mahasiswi aktif Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka.

Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan karakteristik responden yang telah ditetapkan peneliti sebagai berikut:

  1. Mahasiswi aktif Uhamka.

  2. Pernah atau sering berbelanja melalui TikTok Shop.

  3. Pernah terpapar konten “Racun TikTok”.

  4. Bersedia mengisi kuesioner secara lengkap.

Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 72 mahasiswi. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form yang disebarkan melalui media sosial. Sebelum pengisian kuesioner, responden diberikan informasi mengenai tujuan penelitian dan jaminan kerahasiaan data.

Instrumen penelitian terdiri dari dua skala. Variabel Electronic Word of Mouth (e-WOM) diukur menggunakan skala yang mengacu pada Chu dan Kim (2011), diadaptasi oleh Nguyen et al. (2024), dan digunakan dalam konteks TikTok Shop oleh Setiawan dan Tjiptodjojo (2026). Skala ini terdiri dari 9 item yang mencakup dimensi online opinion seeking, online opinion giving, dan online opinion passing, dengan format respons skala Likert 5 poin.

Variabel impulsive buying diukur menggunakan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) yang dikembangkan oleh Verplanken dan Herabadi (2001) dan diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Permatasari (2018).

Skala ini terdiri dari 20 item yang mengukur dimensi kognitif dan afektif perilaku impulsive buying, dengan format respons skala Likert 4 poin. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik Jamovi untuk menguji pengaruh e-WOM terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswi Uhamka.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Bagian ini menyajikan hasil analisis data mengenai pengaruh electronic word of mouth terhadap impulsive buying pada mahasiswi Uhamka. Analisis dilakukan melalui uji reliabilitas instrumen dan uji regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian selanjutnya dibahas dengan mengaitkannya pada teori yang relevan serta penelitian terdahulu.

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, instrumen penelitian diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen Electronic Word of Mouth Scale dan Impulsive Buying Tendency Scale memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,70 sehingga keduanya dinyatakan memiliki reliabilitas yang baik. Hasil uji reliabilitas disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1: Uji Reliabilitas Instrumen e-WOM (Nilai Cronbach’s Alpha = 0,811)

 

Tabel 2: Uji Reliabilitas Instrumen IBTS (Nilai Cronbach’s Alpha = 0,859)

Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2, instrumen Electronic Word of Mouth Scale memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,811, sedangkan Impulsive Buying Tendency Scale memperoleh nilai sebesar 0,859. Kedua nilai tersebut berada di atas batas minimum 0,70 sehingga menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan memiliki reliabilitas yang baik dan layak digunakan dalam penelitian ini.

Selanjutnya, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh electronic word of mouth terhadap impulsive buying. Hasil analisis menunjukkan bahwa electronic word of mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying, dengan nilai koefisien determinasi () sebesar 0,182.

Ini menunjukkan bahwa electronic word of mouth berkontribusi sebesar 18,2% terhadap impulsive buying, sedangkan 81,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain di luar penelitian ini. Hasil analisis regresi disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3: Uji Koefisien Determinasi (R=0,426; R2=0,182)

 

Tabel 4: Uji Hasil Linear Sederhana (B=0,748; t=3,94; p<0,001)

Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana pada Tabel 3 dan Tabel 4, diperoleh nilai koefisien korelasi () sebesar 0,426 dan koefisien determinasi () sebesar 0,182. Hasil tersebut menunjukkan bahwa electronic word of mouth memberikan kontribusi sebesar 18,2% terhadap impulsive buying, sedangkan 81,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini.

Selain itu, nilai koefisien regresi (; ; ) menunjukkan bahwa electronic word of mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying, sehingga hipotesis penelitian diterima.

Pembahasan

Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa electronic word of mouth (e-WOM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying pada mahasiswi Uhamka. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi sebesar 0,748, nilai , dan nilai signifikansi .

Selain itu, nilai koefisien determinasi () menunjukkan bahwa electronic word of mouth memberikan kontribusi sebesar 18,2% terhadap impulsive buying, sedangkan 81,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi informasi, ulasan, maupun rekomendasi produk yang diterima mahasiswi melalui media sosial, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan impulsive buying.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informasi yang dibagikan oleh sesama pengguna melalui media sosial memiliki peran dalam memengaruhi keputusan pembelian. Berbagai konten seperti review, unboxing, rekomendasi produk, hingga pengalaman penggunaan yang terus bermunculan di media sosial membuat mahasiswi semakin sering memperoleh informasi mengenai suatu produk.

Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa ingin mencoba atau memiliki produk yang sedang banyak diperbincangkan meskipun sebelumnya tidak memiliki rencana untuk membeli (Hasanah & Sudarwanto, 2023).

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa electronic word of mouth berpengaruh terhadap impulsive buying. Ulasan, rekomendasi, dan pengalaman pengguna lain yang dibagikan melalui media sosial dapat meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap suatu produk sehingga mendorong munculnya pembelian secara spontan (Nguyen et al., 2024).

Besarnya nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa electronic word of mouth bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi impulsive buying. Perilaku tersebut merupakan perilaku yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, seperti fear of missing out (FoMO), promosi penjualan, flash sale, diskon, kontrol diri, maupun karakteristik individu yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

Oleh karena itu, penelitian selanjutnya masih memiliki peluang untuk mengkaji variabel lain yang dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap impulsive buying.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 72 mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (Uhamka), dapat disimpulkan bahwa electronic word of mouth (e-WOM) memiliki dampak positif dan signifikan terhadap impulsive buying. Semakin banyak informasi e-WOM yang diterima mahasiswi, maka kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian secara impulsif meningkat.

Informasi berupa ulasan, rekomendasi, pengalaman pengguna lain, maupun diskusi mengenai suatu produk yang diperoleh melalui media sosial mampu memengaruhi tingkat keputusan pembelian sehingga mendorong munculnya pembelian yang dilakukan secara spontan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa e-WOM menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku impulsive buying pada mahasiswi Uhamka. Hal tersebut menggambarkan bahwa informasi yang beredar melalui media sosial dapat membentuk ketertarikan terhadap suatu produk serta memengaruhi keputusan pembelian.

Hal ini menunjukkan bahwa e-WOM memiliki peran dalam meningkatkan kecenderungan mahasiswi untuk melakukan pembelian tanpa perencanaan.

Berdasarkan hasil penelitian, e-WOM memberikan kontribusi sebesar 18,2% terhadap impulsive buying, sedangkan 81,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa impulsive buying merupakan perilaku yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga e-WOM bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi munculnya perilaku tersebut.

Dari hasil penelitian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh electronic word of mouth terhadap impulsive buying pada mahasiswi Uhamka dapat diterima.

REFERENSI

  • Chu, S.-C., & Kim, Y. (2011). Determinants of consumer engagement in electronic word-of-mouth (eWOM) in social networking sites. International Journal of Advertising, 30(1), 47–75. https://doi.org/10.2501/IJA-30-1-047-075

  • DataReportal. (2026). Digital 2026: Indonesia.

  • Fitriani, N., Adhavia, B. F., Melia, D., Zikrinawati, K., & Fahmy, Z. (2024). Analisis perilaku kontrol diri dengan impulsive buying pada mahasiswa pengguna platform TikTok Shop di Universitas Islam Negeri Walisongo. Investama: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 10(1), 72–86.

  • Gratia, G. P., Melrah, E. L. K., Triyanti, M. D., Paringa, T., & Primasari, C. H. (2022). Fenomena racun TikTok terhadap budaya konsumerisme mahasiswa di masa pandemi COVID-19. Konstelasi: Konvergensi Teknologi dan Sistem Informasi, 2(1), 193–200. https://doi.org/10.24002/konstellasi.v2i1.5272

  • Helpani, N. K. Y., & Putra, K. W. S. (2026). Pengaruh Content Marketing dan Electronic Word of Mouth terhadap Impulsive Buying Pengguna TikTok Shop Mahasiswa Kota Denpasar dengan Brand Trust sebagai Variabel Mediasi.

  • Ilmi, M., & Prabayanti, H. R. (2025). Pengaruh Konten Review di TikTok sebagai E-WOM terhadap Perilaku Impulsive Buying Produk Basreng.

  • Permatasari, I. A. (2018). Hubungan antara segmen Value and Lifestyle (VALS) dengan impulsive buying produk fashion pada mahasiswi rantau di Kota Bandung (Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia). Repositori Institusi UPI. http://repository.upi.edu


Penulis:
Aila Ayudina
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Manda HafizAisah
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Marshela Efisa Putri
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Novita Ramadhani
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses