Pentingnya Literasi Digital dalam Menanggapi Berita Hoaks Kebocoran Data yang Terjadi di Jawa Barat

Literasi Digital
Kegiatan Mahasiswa UPNVJT (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Dalam era teknologi saat ini, masih sering ditemukan masyarakat Indonesia dalam melakukan aksi penyebaran berita hoaks dan mempercayainya. Berita hoaks merupakan sebuah berita yang masih belum bisa ditentukan kebenarannya.

Hal ini disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang ingin tampil viral di tempat umum dengan melakukan tindakan yang tidak baik, biasa dilakukan di kehidupan nyata (real life), media massa, hingga media sosial. Akibat dari tindakan tersebut, banyak masyarakat Indonesia yang percaya tanpa mencari kebenarannya. Pada era transformasi digital saat ini, masyarakat Indonesia masih mengabaikan tentang pentingnya literasi digital.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Literasi digital adalah kemampuan individu untuk mengakses, memahami, membuat, mengomunikasikan, dan mengevaluasi informasi melalui teknologi digital yang bisa diterapkan dalam kehidupan ekonomi dan sosial.

Tingkat literasi digital di Indonesia mengalami perubahan yang tidak konsisten di setiap tahunnya. Dengan total jumlah 278,69 juta jiwa penduduk Indonesia, yang sudah terliterasi digital hanya 6,84% saja.

Berdasarkan data per Oktober dari tahun 2020 hingga 2023, literasi digital penduduk Indonesia mengalami segmentasi peserta yang naik turun. Pada tahun 2020, sejumlah 213.143 penduduk Indonesia menjadi peserta kegiatan literasi digital.

Baca juga: Tergiring Opini di Dunia Maya: Krisis Literasi Digital di Era Kecerdasan Buatan

Dilanjut pada tahun 2021 sejumlah 12.330.670, tahun 2022 sejumlah 5.879.720, dan tahun 2023 sejumlah 5.788.938 penduduk Indonesia menjadi peserta kegiatan literasi digital.

Pada tahun 2020 merupakan tahun yang paling sedikit penduduk Indonesia menjadi peserta dan tahun 2021 merupakan tahun yang paling banyak penduduk Indonesia menjadi peserta kegiatan literasi digital. Pada tahun 2022 dan 2023 merupakan tahun yang cukup konsisten, meskipun tetap mengalami perubahan yang naik turun.

Transformasi digital saat ini berkembang sangat pesat. Dari masyarakat yang dituntut untuk melakukan literasi digital hingga tindakan hacking yang dilakukan oleh penduduk Indonesia.

Hacking merupakan aktivitas yang melibatkan akses tidak sah ke sistem komputer atau jaringan untuk memanfaatkan kelemahan yang ada, baik untuk tujuan yang baik maupun buruk. Hacking dibagi menjadi tiga bagian, ada Black Hat, White Hat, dan Grey Hat. Dari ketiga tersebut, memiliki penjelasan dan sifat yang berbeda-beda.

Black Hat Hacker melalukan peretasan dengan tujuan yang jahat, seperti mencuri data, memeras, atau merusak sistem, dengan tidak memiliki izin dari pemilik sistem dan melakukan tindakan ilegal.

White Hat Hacker melakukan peretasan dengan tujuan yang baik, seperti mengevaluasi keamanan sistem dan melaporkan celah yang ditemukan, dengan memiliki izin dari pemilik sistem dan melakukan tindakan legal yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan.

Grey Hat Hacker ini berada di antara Black Hat dan White Hat, mereka melakukan hacking tanpa memiliki izin, tetapi tidak mencuri data atau merusak sistem, mereka hanya memberitahu pemilik sistem tentang celah yang ditemukan sebelum melakukan peretasan.

Penduduk Indonesia sangat beraneka ragam, dari yang berprofesi White Hat Hacker hingga Black Hat Hacker. Salah satu contoh yang dapat penulis sering temui adalah mahasiswa akhir UPN “Veteran” Jawa Timur seringkali melakukan tindakan hacking pada website universitas maupun fakultas, dengan tujuan untuk menjadikan salah satu topik bentuk tugas akhir (skripsi).

Mahasiswa akhir tersebut di posisi sebagai White Hat Hacker untuk melakukan peretasan dengan tujuan yang baik, seperti mengevaluasi keamanan sistem atau melakukan observasi bagaimana sistem (website) universitas atau fakultas beroperasi, dengan catatan telah memiliki izin dari pemilik sistem (legal).

Pada beberapa bulan yang lalu (Juli 2025) di daerah Jawa Barat terdapat issue mengenai kebocoran data 4.6 juta jiwa penduduk. Data tersebut dikabarkan menjadi terkait dugaan jual-beli data (identitas seseorang).

Dari informasi tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menegaskan bahwa tidak ada kebocoran data penduduk Jawa Barat. Dugaan tersebut disebabkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, ia hanya mengklaim bahwa data itu adalah data Pemda Jawa Barat.

Setelah dilakukan pengecekan oleh Kadiskominfo, sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada data yang dikelola oleh Pemprov seperti apa yang diberitakan.

Dari kejadian tersebut, penduduk Jawa Barat digemparkan dengan ketidakpercayaan atas sistem pemerintah, dengan alih-alih menuduh bahwa sistem pemerintah Jawa Barat masih lemah, mudah diretas, dan tidak aman bagi penduduk Jawa Barat. Atas informasi yang telah beredar, dapat disimpulkan bahwa sebagian penduduk Jawa Barat masih minim dengan literasi digital.

Langkah yang tepat dalam mengatasi informasi yang sedang beredar adalah bukan langsung mempercayainya, melainkan dapat dilakukan tindakan dalam memahami dan mengevaluasi informasi terlebih dahulu. Sebab langkah kecil yang kita lakukan akan berdampak besar bagi seluruh masyarakat.

Mulai tingkatkan literasi digital agar tidak mudah termakan oleh berita hoaks yang akan menyebabkan terjadinya perpecahan bangsa Indonesia. Kita perlu mendukung teknologi informasi yang ada Indonesia, karena kita memiliki semboyan “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.

 

Penulis: Rosyid Abdillah Ramdhan
Mahasiswa Informatika, UPN “Veteran” Jawa Timur

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses