Di era digital dan revolusi teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) semakin sering “berjalan berdampingan” dengan sektor kesehatan.
Dari diagnosis, pengobatan, penelitian, hingga logistik—AI menawarkan janji besar.
Tetapi bersamaan dengan itu, muncul juga kekhawatiran-kekhawatiran serius.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam bidang kesehatan kini memunculkan dua sisi: peluang besar dalam diagnosis dan ancaman privasi pasien.
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam bidang kesehatan terbukti mampu mempercepat proses diagnosis.
Menurut dr. Erlina Burhan, seorang pakar pulmonologi Indonesia, teknologi AI telah membantu mendeteksi penyakit paru-paru melalui hasil rontgen dengan akurasi yang cukup tinggi.
“AI untuk diagnosis TB sudah diteliti dan diuji di luar negeri. Salah satu caranya adalah dengan foto toraks atau dada. … Penggunaan berbagai AI tersebut dinilai meningkatkan efisiensi dan ketepatan diagnosis.”
Data dari The Lancet Digital Health (2023) juga menunjukkan bahwa algoritma AI dalam analisis radiologi mampu mencapai tingkat akurasi hingga 94%, setara bahkan melebihi dokter spesialis radiologi.
Selain itu, berdasarkan Survei Philips (Future Health Index 2025) menunjukkan bahwa 84% tenaga kesehatan dan 74% pasien di Indonesia yakin bahwa AI bisa meningkatkan layanan kesehatan.
Hal ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi mitra strategis bagi tenaga medis dalam meningkatkan mutu pelayanan.
Salah satu peran paling signifikan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kesehatan adalah meningkatkan efisiensi pelayanan.
Data dari World Health Organization (WHO, 2023) menyebutkan bahwa lebih dari 40% waktu kerja tenaga medis tersita untuk administrasi, bukan pelayanan langsung kepada pasien.
Dengan hadirnya AI, beban ini bisa berkurang drastis. Misalnya, sistem Natural Language Processing (NLP) kini mampu otomatis menyalin catatan medis sehingga dokter dapat fokus lebih banyak pada konsultasi pasien.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (2022) melaporkan bahwa implementasi AI untuk radiologi di beberapa rumah sakit rujukan berhasil memangkas waktu tunggu hasil pemeriksaan CT-Scan dan X-ray hingga 60% lebih cepat dibandingkan metode manual.
Hal ini tentu berdampak langsung pada kecepatan diagnosis dan penentuan terapi pasien.
Dengan data-data tersebut, jelas bahwa AI bukan hanya tren teknologi, melainkan solusi strategis untuk mengatasi inefisiensi dalam pelayanan kesehatan yang selama ini membebani tenaga medis dan pasien.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada kekhawatiran mengenai potensi ancaman dari penggunaan AI di bidang kesehatan.
Menurut R. Wijaya Kusumawardhana (Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial Ekonomi & Budaya) menyatakan bahwa AI di layanan kesehatan berisiko tinggi jika digunakan untuk diagnosis penyakit secara penuh.
Ia menekankan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran dokter sepenuhnya.
Contoh nyata terlihat dari kasus di Inggris pada 2022, ketika sistem AI salah memberikan rekomendasi dosis obat kepada pasien lansia.
Dengan demikian, pro dan kontra AI dalam dunia kesehatan sama-sama memiliki dasar yang kuat.
Di satu sisi, AI terbukti mempercepat diagnosis, mengurangi beban administrasi, serta meningkatkan kepuasan pasien.
Di sisi lain, risiko salah diagnosis, privasi, dan kehilangan aspek humanis dalam pelayanan kesehatan juga nyata.
Dengan demikian, titik temu yang paling ideal adalah kolaborasi manusia dan mesin.
Dokter tetap memegang kendali penuh atas keputusan medis, sementara AI menjadi alat bantu yang mempercepat proses dan meningkatkan akurasi.
Model integrasi ini tidak hanya memanfaatkan keunggulan teknologi, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan dalam dunia medis.
AI bukanlah ancaman jika kita sadar pada kondisinya, tetapi bisa menjadi ancaman jika kita abai terhadap etika, regulasi, dan keanekaragaman data.
Penulis: Naura Sifa Rahmadini Numpung
Mahasiswa Prodi Keperawatan, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
Dosen Pengampu: Yohannes Jakri, S.Kep., M.Kes.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












