Pada saat ini kita sudah memasuki era dimana informasi mengalir dengan cepat melebihi kemampuan kita memverifikasi. Dunia maya yang kita kenal sebagai wadah untuk mengakses informasi kini telah menjadi medan perang baru bagi masyarakat.
Media sosial yang awalnya dirancang untuk mempererat komunikasi, kini telah menjadi ruang tempat jutaan suara bersaing memperebutkan perhatian. Namun, dibalik kebebasan berekspresi ini, muncul krisis baru yakni masyarakat yang mudah tergiring opini tanpa menyaring kebenarannya.
Krisis ini bukan hanya sekedar tentang teknologi, melainkan tentang rendahnya literasi digital, terutama di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat atau mengakses internet, melainkan tentang kemampuan memahami, mengevaluasi, serta memproduksi informasi yang didapat secara kritis. Sayangnya, kemampuan ini masih minim di kalangan masyarakat Indonesia.
Padahal, di era banjir informasi seperti saat ini, kecepatan menyebar sering kali diutamakan daripada kebenaran isi pesan sehingga masyarakat lebih mudah terbawa arus opini tanpa tahu fakta sebenarnya.
Banyak juga pengguna media sosial yang menerima pesan viral karena narasi dikemas menarik, visual yang meyakinkan dan membuat para pengguna langsung percaya tanpa berpikir dua kali. Di titik inilah, kita tidak lagi mengendalikan teknologi, tetapi teknologi yang mengendalikan kita.
Krisis ini semakin kompleks sejak munculnya teknologi yang bernama kecerdasan buatan atau biasa kita sebut AI (Artificial Intelligence). AI kini mampu menciptakan gambar, suara, bahkan video palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan atau yang dikenal dengan istilah deepfake. Konten seperti ini sering disalahgunakan untuk penyebaran berita palsu, manipulasi politik, hingga pencemaran nama baik.
Misalnya, beredarnya video yang terlihat “nyata” namun hasil buatan AI. Hal ini dapat membentuk opini publik dalam waktu singkat tanpa didasari fakta. AI yang seharusnya menjadi alat untuk mempermudah menjadi alat untuk merusak dan menyesatkan bila digunakan tanpa tanggung jawab.
Kecenderungan masyarakat mempercayai apapun tampak meyakinkan di layar gawai mereka sebenarnya berakar pada kurangnya kemampuan berpikir kritis digital. Fenomena confirmation bias atau kecenderungan dalam mempercayai sesuatu sesuai dengan keyakinan pribadi semakin diperkuat dengan algoritma media sosial.
Sistem algoritma seperti pada platform Tiktok, Instagram, atau X (Twitter) bekerja dengan menampilkan konten serupa dengan yang pernah kita sukai, sehingga menciptakan echo chamber atau gelembung informasi. Akibatnya, pengguna merasa apa yang mereka yakini benar karena hanya melihat pandangan yang serupa, sementara opini lain menghilang dari jangkauan.
Hal ini menunjukkan betapa krusialnya meningkatkan literasi digital, bukan hanya dikalangan pelajar atau mahasiswa, tetapi di seluruh lapisan masyarakat. Literasi digital meliputi kemampuan kemampuan dalam memahami konteks sumber informasi, mengenali motif tentang konten yang dibagikan, serta menggunakan teknologi dengan tanggung jawab etis.
Mahasiswa, terutama yang menekuni bidang informatika dan teknologi, memiliki peran cukup besar dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya kurangnya kemampuan literasi digital serta penggunaan AI secara etis. Pemahaman teknis tentang cara bagaimana sistem algoritma bekerja dapat membantu mengungkap bagaimana algoritma membentuk dan mengarahkan opini publik.
Baca juga: Algoritma Media Sosial: Membantu atau Mempengaruhi Opini?
Pendidikan literasi digital juga harus diarahkan bukan hanya pada kemampuan teknis, namun juga pembentukan karakter kritis dan etis. Menuntun atau mengajarkan masyarakat agar berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, memeriksa sumber, dan mempertanyakan motif dibalik pesan adalah langkah sederhana yang berdampak cukup besar. Di tengah derasnya arus konten digital, skeptisisme sehat justru menjadi bentuk kebijaksanaan baru.
Kecerdasan buatan bukanlah musuh manusia yang menjerumuskan kita. Namun, bisa berbahaya ketika manusia itu sendiri tidak dapat menggunakan kecerdasannya dalam memakai kecerdasan buatan.
Dunia maya akan selalu menjadi tempat yang luas dan bebas, tetapi kebebasan tanpa kesadaran hanya akan menjerumuskan ke dalam ilusi kebenaran yang aslinya tidak ada. Tantangan terbesarnya adalah era ini bukan lagi bagaimana cara mengakses informasi, melainkan bagaimana membedakan mana yang benar dan yang sekedar terlihat benar.
Pada akhirnya, masa depan dunia digital bukan diukur bagaimana canggihnya teknologi kita, namun bagaimana bijaknya kita dalam memakai teknologi tersebut. Literasi digital merupakan bentuk pertahanan diri agar tidak mudah terpengaruh pada arus opini yang palsu. Di Dalam transformasi era yang kian terhubung ini, kemampuan berpikir kritis dan memahami teknologi menjadi tameng untuk tetap berpijak pada kebenaran.
Penulis: Alifah Auliah M
Mahasiswa Informatika, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Dosen Pengampu: Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












