Abstrak
Solidaritas psikososial adalah suatu bentuk kepedulian kolektif yang memiliki fokus pada dukungan kesehatan mental dalm menghadapi situasi krisis. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep solidaritas psikososial berdasarkan perspektif hadis Nabi Muhammad SAW melalui pendekatan tematik (maudhu’i).
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan analisis kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai dari solidaritas psikososial telah terakomodasi secara komprehensif dalam hadis Nabi, mencakup: 1) empati kolektif yang dianalogikan sebagai metafora dari tubuh; 2) komunikasi positif sebagai fondasi terhadap dukungan sosial; 3) silaturahmi yang merupakan mekanisme interaksi sosial; dan 4) etika sosial dalam membangun hubungan yang harmonis.
Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa hadis-hadis tematik tentang empati dan interaksi sosial memiliki relevansi yang tinggi sebagai landasan normatif dalam membangun solidaritas psikososial masyarakat menjadi orang yang lebih peduli, harmonis, dan Tangguh secara psikologis dengan berbasis nilai Islam.
Kata Kunci: Solidaritas Psikososial, Hadis, Empati, Interaksi Sosial, Islam
Pendahuluan
Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan manusia secara menyeluruh. Saat berada dalam situasi krisis, baik krisis individual maupun kolektif, Adanya dukungan psikososial menjadi sangat dibutuhkan. Solidaritas psikososial hadir sebagai respons komunal terhadap kebutuhan tersebut, yaitu gerakan bersama dari sebuah komunitas untuk saling mendukung dan memulihkan kondisi mental anggotanya (Prakosa, Shovmayanti, & Kurniawan, 2024).
Di dalam kajian psikologi sosial, adanya empati dan interaksi sosial merupakan dua komponen utama yang mampu menggerakkan solidaritas psikososial. Empati memungkinkan individu untuk merasakan dan memahami penderitaan orang lain, sementara interaksi sosial menjadi medium bagi terwujudnya kepedulian tersebut dalam tindakan nyata. Kombinasi keduanya menciptakan ekosistem sosial yang saling menopang dan memperkuat.
Nilai-nilai yang menjadi fondasi solidaritas psikososial ini sebenarnya telah lama tersurat dalam sumber-sumber normatif Islam, khususnya dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Kajian terkini menyatakan bahwa intervensi psikososial yang berdasarkan pada nilai kepedulian Islam memiliki efektivitas tinggi dalam membangun solidaritas di masyarakat (Naimah & Dwiyanti, 2026). Hal tersebut memberikan ruang untuk mengkaji hadis-hadis Nabi secara tematik (maudhu’i) untuk meneliti landasan normatif solidaritas psikososial dalam Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menjelaskan konsep solidaritas psikososial dari sudut pandang psikologi sosial; 2) mengidentifikasi hadis-hadis tematik yang berkaitan dengan empati dan interaksi sosial; serta 3) menganalisis peran empati dan interaksi sosial dalam membangun solidaritas psikososial berdasarkan perspektif hadis.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka (library research). Sumber data primer berupa kitab-kitab hadis (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Musnad Ahmad) serta literatur tentang psikologi sosial yang berhubungan. Sumber data sekunder meliputi jurnal ilmiah dan artikel akademis tentang solidaritas psikososial, empati, dan interaksi sosial.
Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dan penelusuran tematik hadis (takhrij al-hadis). Sedangkan analisis data menggunakan dua pendekatan: 1) analisis kandungan hadis melalui pisau psikologi sosial untuk menemukan relevansi normatif; dan 2) analisis komparatif antara konsep psikologi sosial modern dengan nilai-nilai yang terkandung dalam hadis. Penyajian hasil mengacu pada sistematika penulisan jurnal ilmiah dengan memperhatikan akurasi kutipan dan transliterasi teks Arab.
Hasil
Berdasarkan analisis data yang dilakukan, Penelitian ini menemukan 3 poin mendasar bahwa empati dan interaksi sosial memiliki peran yang sangat penting dalam membangun solidaritas psikososial
A. Pengertian Solidaritas Psikososial
Secara bahasa, solidaritas psikososial merupakan gabungan dari dua konsep, yaitu solidaritas (rasa kebersamaan atau kesetiakawanan) dan psikososial (hubungan antara kondisi mental seseorang dengan lingkungan sekitarnya). Menurut Rendy (2025), solidaritas pada intinya adalah sikap saling membantu, menanggung, serta memikul bersama setiap kesulitan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat agar tidak bersikap acuh tak acuh.
Ketika diintegrasikan ke dalam ranah psikososial, bentuk kepedulian tersebut diarahkan pada dukungan kesehatan mental. Merujuk pada riset Prakosa, Shovmayanti, dan Kurniawan (2024), aksi nyata dari solidaritas psikososial di lapangan biasanya diterapkan dalam situasi krisis, salah satunya melalui pembentukan kelompok dukungan teman sebaya (peer support groups).
Kelompok dukungan ini tujuannya untuk menumbuhkan rasa aman, rasa empati, serta membangun kembali interaksi sosial yang terganggu akibat krisis. Singkatnya, solidaritas psikososial adalah gerakan kolektif dari sekelompok orang untuk saling menjaga dan memulihkan kesejahteraan mental sesama anggota kelompoknya di tengah situasi sulit.
B. Hadis-Hadis tentang Empati dan Interaksi Sosial
Berdasarkan tulisan Naimah dan Dwiyanti (2026), program atau intervensi psikososial yang didasarkan pada nilai kepedulian Islam mempunyai efektivitas yang tinggi dalam membangun solidaritas di masyarakat.
Di dalam agama Islam sendiri, dasar mengenai pentingnya memiliki sifat empati ini tercantum dalam sabda Rasulullah SAW:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari No. 6011 dan Muslim No. 2586).
Berdasarkan analisis yang menggunakan pendekatan psikologi sosial, hadis tersebut menggambarkan perumpamaan yang mendalam mengenai bagaimana sebuah kelompok masyarakat seharusnya berfungsi. Kalimat “seluruh anggota tubuh ikut merasakannya hingga tidak bisa tidur” menunjukkan bahwa kondisi tersebut Adalah suatu gambaran adanya ikatan emosional kolektif yang dapat memperkuat solidaritas kelompok.
Empati yang muncul dari kemampuan memahami kondisi orang lain menjadi faktor utama yang mendorong perilaku prososial dan kepedulian sosial. Empati membutuhkan adanya respons emosional yang nyata secara bersama-sama.
Oleh karena itu, ketika ada salah satu individu di lingkungan kita yang sedang mengalami tekanan mental atau krisis emosional, masalah tersebut tidak boleh dianggap sebagai urusan pribadi semata. Hadis ini menegaskan kewajiban lingkungan sosial di sekitarnya untuk ikut peduli, memberikan dukungan moral, serta penguatan mental hingga kondisi psikologis orang yang bersangkutan dapat pulih kembali.
Selain hadis tentang empati itu, Hadis-hadis yang berhubungan dengan interaksi sosial sebagai berikut
1. Hadis tentang Berkata Baik atau Diam
diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan pentingnya komunikasi positif dalam kehidupan sosial. Kalimat yang baik mampu memberikan dukungan emosional, meningkatkan rasa percaya diri, dan membantu individu menghadapi berbagai kesulitan hidup. Sebaliknya, ucapan yang menyakitkan dapat menimbulkan tekanan psikologis serta merusak hubungan sosial.
2. Hadis tentang Silaturahmi (Sambung Kerabat)
Dari Anas bin Malik RA:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menyatakan bahwa silaturahmi memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Melalui silaturahmi, individu memperoleh dukungan sosial, memperkuat hubungan emosional, serta meningkatkan rasa memiliki terhadap kelompok sosialnya.
3. Hadis tentang Memberi kepada Orang yang Memutuskan Hubungan
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan denganmu), berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR. Ahmad)
Hadis tersebut menggambarkan bahwa solidaritas sosial harus tetap dibangun ketika hubungan berlangsung baik, maupun Ketika sedang terjadi konflik. Kemampuan menjaga hubungan sosial dalam kondisi sulit mencerminkan kedewasaan emosional dan menjaga stabilitas sosial dalam masyarakat.
4. Hadis tentang Dosa Memutus Silaturahmi
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan zalim dan memutus silaturahmi.” (HR. Abu Daud)
Hadis ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi dapat merusak hubungan sosial dan dapat menimbulkan dampak negatif, baik bagi individu maupun kelompok.
Baca juga: Esensi Silaturahmi di Era Milenial melalui Media Sosial dalam Perspektif Hadis Nabi
5. Hadis tentang Menebar Salam dan Menyambung Tali Persaudaraan
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Tidaklah kalian masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjelaskan salam bukan hanya sekadar ucapan formal ketika bertemu atau membuka suatu acara, namun salam merupakan sarana membangun kedekatan emosional, memperkuat rasa persaudaraan, dan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis.
Berdasarkan pendekatan psikologi sosial, kelima hadis tentang interaksi sosial tersebut menunjukkan bahwa Islam menempatkan interaksi sosial sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Hadis tentang berkata baik atau diam mengajarkan keutamaan mengedepankan komunikasi yang positif untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial dan mencegah konflik.
Hadis tentang silaturahmi menekankan pentingnya untuk selalu menjaga hubungan kekeluargaan karena ikatan sosial yang kuat dapat memberikan dukungan emosional dan meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang.
Selain itu, hadis yang menganjurkan untuk tetap menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan hubungan silaturahmi Adalah mengajarkan pengendalian emosi, sikap sosial yang baik, dan kemampuan memaafkan yang dapat mencegah permusuhan dalam masyarakat.
Hadis tentang larangan memutus silaturahmi menunjukkan bahwa rusaknya hubungan sosial dapat menimbulkan dampak negatif, baik bagi individu maupun kelompok. Sementara itu, hadis tentang menebarkan salam menggambarkan pentingnya membangun suasana yang penuh keakraban, rasa aman, dan saling percaya di tengah masyarakat.
Dalam perspektif psikologi sosial, hadis-hadis tentang empati dan interaksi sosial tersebut mendorong terbentuknya perilaku sosial yang baik, empati, kerja sama, dan kepaduan dan persatuan sosial. Nilai-nilai tersebut berperan penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, mengurangi konflik, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis individu maupun masyarakat secara keseluruhan.
C. Peran Empati dan Interaksi Sosial dalam Membangun Solidaritas Psikososial
Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan perasaan orang lain, sedangkan interaksi sosial merupakan hubungan dinamis antara individu atau kelompok. Kedua hal tersebut mempunyai peran penting dalam membangun solidaritas psikososial.
Dalam psikologi sosial, empati dianggap sebagai kekuatan yang mampu menjembatani perbedaan, meredakan konflik, dan menumbuhkan solidaritas. Empati menciptakan rasa kesamaan dan ikatan emosional yang memperkuat hubungan antari ndividu (Psikologi UMA, 2026).
Di dalam Islam, interaksi sosial secara khusus dikenal dengan istilah silaturrahmi yang merupakan wujud nyata tolong-menolong dan kepedulian terhadap sesama. Melalui interaksi sosial yang positif, ikatan emosional antar individu dapat diperkuat dan solidaritas sosial dapat terbangun (Jurnal Tahdis, 2019).
Solidaritas psikososial tercermin dalam hadis-hadis tematik yang menganjurkan tolong-menolong dan empati terhadap sesama, seperti hadis perumpamaan mukmin dalam kasih sayang yang telah disebutkan di atas.
Perpaduan antara empati dan interaksi sosial mampu menciptakan masyarakat yang solid, peduli, dan bisa meredakan konflik sosial, sehingga akan memperkuat solidaritas psikososial secara berkelanjutan. Silaturrahmi sebagai interaksi sosial dalam Islam mempunyai banyak manfaat bagi manusia demi mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Persis, 2025).
Pembahasan
Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa konsep solidaritas psikososial modern memiliki padanan yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Hadis tentang perumpamaan tubuh yang satu (HR. Bukhari dan Muslim) secara langsung mengungkapkan prinsip inti solidaritas psikososial, yaitu adanya hubungan emosional antara anggota kelompok/komunitas yang mendorong respons kolektif terhadap penderitaan pada individu.
Berdasarkan teori pada kajian psikologi sosial, mekanisme empati yang tergambar dalam hadis tersebut sejalan dengan konsep emotional contagion dan compassionate solidarity. Respons fisiologis tubuh yang disebutkan tidak bisa tidur dan demam menggambarkan keterlibatan emosional mendalam yang menjadi syarat sebelum lahirnya tindakan solidaritas yang nyata. Hal ini sesuai dengan temuan Prakosa et al. (2024) bahwa efektivitas kelompok dukungan teman sebaya sangat bergantung pada kualitas empati yang terbangun di antara anggotanya.
Hadis-hadis tentang komunikasi positif dan silaturahmi secara pasti membangun kerangka interaksi sosial yang kondusif bagi tumbuhnya solidaritas psikososial. Perintah untuk berkata baik atau diam mampu menegakkan prinsip keamanan psikologis dalam komunitas, yaitu kondisi di mana individu merasa aman untuk mengekspresikan kondisi mentalnya tanpa takut mendapat respons yang buruk atau menyakiti. Sementara itu, hadis-hadis silaturahmi membangun jaring-jaring sosial yang menjadi sumber dukungan psikososial.
Temuan yang relevan ini juga sejalan dengan penelitian Naimah dan Dwiyanti (2026) yang menunjukkan bahwa intervensi psikososial berbasis nilai ta’awun (tolong-menolong) dalam Islam terbukti efektif memperkuat solidaritas sosial di masyarakat. Nilai-nilai yang menjadi dasar Tindakan tersebut, seperti kepedulian, komunikasi positif, silaturahmi, dan menyambung hubungan semuanya bersumber dari hadis yang telah dikaji dalam penelitian ini.
Meningkatnya individualisme, penggunaan media digital yang berlebihan, serta berbagai tekanan sosial di era modern saat ini menyebabkan penurunan pada kualitas hubungan sosial secara langsung. Oleh karena itu, nilai-nilai hadis tentang empati, memberi salam, silaturahmi, komunikasi positif, dan persaudaraan menjadi sangat tepat untuk diterapkan sebagai upaya memperkuat solidaritas psikososial masyarakat.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa hadis-hadis Nabi Muhammad SAW mengandung nilai-nilai solidaritas psikososial yang menyeluruh dan tepat. Setidaknya terdapat empat dimensi solidaritas psikososial yang terkandung dalam hadis-hadis yang dikaji: 1) empati kolektif yang mendalam sebagai respons emosional bersama terhadap penderitaan; 2) komunikasi positif sebagai dasar keamanan psikologis dalam komunitas; 3) silaturahmi sebagai upaya membangun dan memelihara jaringan dukungan sosial; dan 4) etika relasional yang inklusif yaitu tetap memberi dan menyambung hubungan bahkan kepada pihak yang berlaku zalim.
Empati berperan sebagai landasan utama yang membuat individu mampu memahami serta membantu sesama yang mengalami kesulitan. Di sisi lain, interaksi sosial yang ditampakkan melalui silaturahmi, menjaga hubungan sosial, berkata baik, dan menebarkan salam merupakan sarana untuk memperkuat dukungan sosial dalam masyarakat.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar anjuran moral saja, melainkan merupakan sistem dukungan psikososial yang terstruktur. Implementasi dari nilai-nilai tersebut dapat menjadi solusi dalam meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat kesehatan mental, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Kajian ini membuka peluang bagi pengembangan model intervensi psikososial berbasis hadis yang dapat diimplementasikan secara praktis dalam komunitas Muslim, terutama dalam menghadapi situasi krisis.
Penulis:
- Intan Nur Cahayani
- Nadira Qurrota Ayun Zulfa
- Nafa Nur Shadrina
- Muhammad Firdaus
Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Syarif Hidayatullah
Dosen Pengampu: Muhammad Firdaus, Lc., MA., Ph.D
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Hadits.id. (2026). Hadits tentang interaksi sosial. Hadits.id, https://www.hadits.id/tentang/interaksi20sosial
Hadits.id. (2026). Hadits Tirmidzi No. 1910 | Interaksi sosial. Hadits.id, https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/1910/
Jurnal Tahdis. (2019). Wawasan hadis tentang silaturrahmi. Jurnal Tahdis, https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/tahdis/article/view/7222
Naimah, T., & Dwiyanti, R. (2026). Ta’awun-Based Psychosocial Training sebagai Strategi Penguatan Nilai Kepedulian Sosial. Jurnal PengabdianMu.
Persis. (2025, Oktober 5). Inspirasi Ramadhan hari ke-11: Prinsip interaksi sosial dalam Islam. Persis, https://persis.or.id/news/read/inspirasi-ramadhan-hari-ke-11-prinsip-interaksi-sosial-dalam-islam
Prakosa, F. A., Shovmayanti, N. A., & Kurniawan, D. (2024). Intervensi Peer Support Groups Berbasis Komunikasi Untuk Ketahanan Mental Dalam Situasi Darurat. Prosiding Seminar Nasional, Universitas Muhammadiyah Kudus.
Psikologi UMA. (2026). Peran empati dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Universitas Medan Area, https://psikologi.uma.ac.id/peran-empati-dalam-membangun-hubungan-sosial-yang-sehat/
Rendy, N. (2025). Peran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama dalam Meningkatkan Solidaritas Sosial Masyarakat Melalui Kegiatan Sosial. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosial.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












