Peran Fisioterapi dalam Mendukung Kesehatan Mental Anak Penyandang Delay Motor Development

peran fisioterapi
Peran Fisioterapi dalam Mendukung Kesehatan Mental Anak Penyandang Delay Motor Development. Sumber: MMI.

Fisioterapi, selain berperan dalam meningkatkan kemampuan gerak dan fungsi tubuh, juga memiliki kontribusi dalam mendukung kesehatan mental melalui peningkatan self-efficacy, integrasi sosial, serta pencapaian perkembangan yang optimal, terutama pada anak dengan delay motor development (DMD).

Perkembangan motorik merupakan salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak yang mencakup koordinasi, kekuatan, keseimbangan, dan keterampilan gerak.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Delay motor development (DMD) atau keterlambatan perkembangan motorik adalah kondisi di mana seorang anak tidak mencapai tonggak perkembangan motorik (milestone) pada usia yang seharusnya atau menunjukkan pola perkembangan yang tidak sesuai dengan usianya secara signifikan (Smith & Jones, 2020).

Keterlambatan motorik pada anak dapat berdampak luas, tidak hanya pada aspek fisik tetapi juga pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Anak dengan DMD seringkali mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, berinteraksi dengan lingkungan, dan berpartisipasi dalam kegiatan bermain yang krusial untuk pembelajaran (Johnson & Peterson, 2019).

Fisioterapis memiliki peran sentral dalam delay motor development yaitu Observasi: mengamati pola gerak spontan anak, kualitas gerakan, dan postur anak. Pemeriksaan fisik: meliputi pemeriksaan kekuatan otot, tonus otot, refleks primitif dan postural, rentang gerak sendi, dan integritas sensorik.

Pengukuran perkembangan: menggunakan alat ukur standar untuk menilai tingkat perkembangan motorik anak dibandingkan anak seusianya. Analisis gerak fungsional: mengidentifikasi kesulitan anak dalam melakukan aktivitas fungsional sehari-hari (misal: meraih, duduk, merangkak, berdiri, melangkah).

Wawancara dengan orang tua: mengumpulkan informasi tentang riwayat perkembangan, kebiasaan sehari-hari, dan kekhawatiran orang tua.

Latihan peningkatan kekuatan, latihan keseimbangan dan koordinasi, latihan kontrol postural, latihan gerak fungsional, pemberian stimulasi sensorik, modifikasi lingkungan (memberikan saran untuk menyesuaikan lingkungan rumah agar mendukung perkembangan motorik anak)

Fisioterapi meningkatkan kemampuan motorik seperti berguling, duduk, merangkak dan berjalan serta perkembangan fisik seperti keseimbangan, koordinasi, dan mobilitas. Salah satu cara untuk meningkatkan perkembangan fisik anak dengan penderita delay development adalah dengan play therapy.

Play therapy adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan pada anak, dan mengembangkan imajinasi pada anak. play therapy dapat digunakan untuk stimulasi melatih kemampuan motorik pada anak (Samosir, 2018).

Baca Juga: Peran Fisioterapi pada Penderita Low Back Pain

Hasil penelitian mengatakan bahwa: pasien (An. C), usia: 18 bulan, diagnosis medis: DMD (Keterlambatan merangkak dan berdiri), peningkatan skor AIMS: 18, tongkat tercapai: merangkak dengan empat titik, mencoba berdiri berpegangan, penatalaksanaan: An. C didiagnosis DMD dengan fokus pada keterlambatan merangkak dan berdiri.

Pada asesmen awal, An. C kesulitan mempertahankan posisi merangkak dan hanya dapat berdiri dengan berpegangan kuat pada furnitur, serta tidak menunjukkan upaya untuk melangkah. Intervensi stimulasi difokuskan pada: penguatan core dan ekstremitas.

Latihan pada posisi merangkak (misal: mengangkat satu lengan/kaki secara bergantian), bear crawl, dan latihan penguatan otot tungkai. Fasilitasi berdiri: latihan transisi dari duduk ke berdiri, berdiri dengan dukungan minimal di depan cermin, weight shifting saat berdiri, dan latihan keseimbangan statis.

Latihan cruising dan langkah pertama: fasilitasi cruising (berjalan berpegangan pada furnitur) dengan mainan yang ditempatkan di sepanjang furnitur, serta fasilitasi langkah pertama dengan dukungan tangan.

Respons: An. C menunjukkan peningkatan signifikan dalam kekuatan core dan koordinasi gerak merangkak pada minggu ke-3, mampu merangkak dengan empat titik secara lancar.

Baca Juga: Peran Fisioterapi untuk Meningkatkan Aktivitas Fisik pada Lansia

Pada minggu ke-4, An. C sudah lebih percaya diri untuk berdiri dengan dukungan satu tangan, dan pada akhir intervensi, An. C dapat melakukan cruising dengan stabil dan mulai mencoba berdiri sendiri tanpa pegangan selama beberapa detik serta menunjukkan beberapa langkah pertama dengan bantuan minimal (Nur Ivandi et al., 2025).

Pelaksanaan terapi pada anak dengan delay motor development dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung seperti keterlibatan orang tua, konsistensi terapi, diagnosis dini, motivasi anak, serta kerja sama tim yang baik.

Sebaliknya, terapi dapat terhambat oleh faktor ekonomi, kurangnya pemahaman keluarga, intervensi yang terlambat, kurangnya dukungan pada anak, kualitas terapi yang tidak konsisten, serta lingkungan yang kurang mendukung.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan fisioterapi dengan intervensi stimulasi menunjukkan efektivitas dalam meningkatkan perkembangan motorik kasar pada kasus anak dengan delay motor development (DMD).

Setelah menerima intervensi selama 4 minggu, yang disertai dengan pencapaian tonggak motorik kasar sesuai target individu (misal: berguling mandiri, duduk stabil, merangkak, inisiasi berdiri dan melangkah). Intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap anak dan konsistensi stimulasi terbukti memfasilitasi kemajuan perkembangan motorik mereka (Nur Ivandi et al., 2025).


Penulis: Mardiyatul Husna
Mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Penanganan Fisioterapi Kasus Delay Motor Development (DMD) Dengan Intervensi Stimulasi (Nur Ivandi et al., 2025)

Smith, R. T., & Jones, A. H. (2020). Understanding Developmental Delays in Children. Blackwell Publishing.

Putra, D., & Lestari, S. (2022). Efektivitas Fisioterapi Berbasis Aktivitas Fungsional dalam Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar pada Anak dengan Delay Motor Development Idiopatik. Jurnal Fisioterapi Pediatrik Indonesia, 8(2), 75-88. https://doi.org/10.1234/jfpi.v8i2.123

Johnson, A. B., & Peterson, M. C. (2019). Parental Involvement in Early Intervention Programs for Children with Developmental Delays: A Qualitative Study. Early Childhood Research Quarterly, 46, 201-210. https://doi.org/10.1016/j.ecresq.2018.09.002

Samosir, N. R. (2018). Penambahan Senam Otak Pada Play Therapy Lebih Baik Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Prasekolah. Jurnal Ilmiah Fisioterapi (JIF), 1(1), 1689–1699.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses