PKNM Kelompok 20 FK UB: Belajar, Berbagi, dan Berkarya untuk Kesehatan Masyarakat

PKNM Kelompok 20 FK UB
Kegiatan PKNM Kelompok 20 FK UB (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Karangpandan, MMI – Kelompok 20 Praktik Kerja Nyata Mahasiswa (PKNM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya resmi diterjunkan di Desa Karangpandan RT 20 RW 04, Dusun Kedungmonggo yang menjadi titik awal program pengabdian masyarakat hingga 31 Agustus 2025. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berkomitmen mendukung masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga serta menanamkan nilai-nilai hidup sehat sejak dini (19/07/2025).

Hari pertama diawali dengan seremonial pembukaan di Balai Desa yang dihadiri perangkat desa serta warga sekitar. Kehadiran mahasiswa lintas prodi (kedokteran, farmasi, kebidanan) disambut hangat sebagai awal resmi pelaksanaan PKNM di wilayah tersebut. Usai seremoni, kegiatan berlanjut dengan perkenalan dan koordinasi awal bersama Ketua RT 20 dan Kader kesehatan setempat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada momen ini, mahasiswa berdialog langsung dengan tokoh masyarakat untuk membahas teknis program yang akan dilaksanakan dan kondisi kesehatan warga saat itu. Selain itu, kelompok bersama ketua RT dan kader kesehatan berkeliling wilayah RT 20 untuk mengenal lebih baik kondisi masyarakat setempat. Pertemuan tersebut menjadi pijakan awal dalam membangun kerja sama erat antara mahasiswa, perangkat desa, dan warga.

Salah satu rangkaian utama program adalah survei kesehatan masyarakat yang dilaksanakan selama empat hari, mulai 22 hingga 25 Juli 2025. Survei ini dilakukan dari rumah ke rumah warga di berbagai RT dengan tujuan memetakan kondisi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Pemeriksaan meliputi pencatatan riwayat kesehatan, faktor risiko, hingga pola hidup sehari-hari. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa berkoordinasi dengan ketua RT dan kader posyandu. Hasil survei ini menjadi dasar penting dalam merancang intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran bagi keluarga dan komunitas.

Tak hanya fokus pada data, kelompok juga ikut larut dalam kegiatan budaya desa, seperti arak-arakan Nyadran Topeng Gebyak Suroan 2025. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar tentang pentingnya adaptasi sosial dan komunikasi interpersonal dengan warga yang memiliki latar budaya berbeda.

Selain itu, pada 2 Agustus 2025 mahasiswa juga berpartisipasi dalam jalan sehat warga dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Aktivitas ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat tidak selalu berupa penyuluhan atau pemeriksaan, tetapi juga dapat diwujudkan lewat kegiatan fisik bersama yang sederhana, menyenangkan, sekaligus mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan warga.

Menjelang akhir Juli, kelompok mulai fokus pada tahap perencanaan intervensi. Serangkaian diskusi internal serta koordinasi dengan kelompok lain di wilayah RT 04 dilakukan untuk menyepakati bentuk kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan warga. Hasil perencanaan tersebut diwujudkan pada 1 Agustus 2025 melalui intervensi bersama posyandu anak.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa memberikan penyuluhan mengenai diabetes dan penggunaan antibiotik, melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, sekaligus mencatat data pasien. Seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan bagaimana peran lintas disiplin dapat berpadu demi menghadirkan layanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat.

Intervensi keluarga dilaksanakan pada 4 Agustus 2025, dengan topik beragam mulai dari edukasi hipertensi, diabetes, PHBS, SADARI–SADANIS, stunting, hingga penggunaan antibiotik. Edukasi ini membantu keluarga memahami peran mereka dalam mencegah penyakit sejak dini.

Program kemudian berlanjut dengan serangkaian follow up berkala (11, 18, 27, dan 31 Agustus 2025) untuk menilai dampak intervensi. Hasilnya menunjukkan progres positif, meskipun sempat ditemui kendala seperti kondisi kesehatan anak dengan speech delay.

Rangkaian kegiatan ditutup pada 31 Agustus 2025 dengan diseminasi hasil program kepada perangkat RT dan RW. Mahasiswa menekankan pentingnya transparansi, keterlibatan pemangku wilayah, serta keberlanjutan program kesehatan.

Baca juga: FK UB Turun Langsung Berikan Edukasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Dhamarriyo Utomo, Ketua Kelompok 20 PKNM, menyampaikan, “PKNM ini benar-benar jadi pengalaman belajar yang lengkap. Kami bukan hanya praktik teori medis, tapi juga merasakan langsung dinamika kerja lintas prodi—belajar mendengarkan, saling menguatkan, bahkan menghadapi konflik kecil lalu mencari solusi bareng. Hal-hal semacam ini menurut saya jauh lebih berharga karena akan kami bawa saat terjun ke dunia kerja nanti. Masyarakat di sini juga mengajarkan banyak hal, mulai dari arti gotong royong sampai cara sederhana menjaga kesehatan sehari-hari. Jadi, program ini buat kami bukan sekadar pengabdian, tapi juga perjalanan pembelajaran tentang bagaimana menjadi tenaga kesehatan yang lebih peka dan manusiawi.

Melalui program ini, Kelompok 20 PKNM FK UB berharap dapat meninggalkan jejak positif dalam upaya peningkatan kesehatan keluarga dan komunitas, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) terutama poin 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), poin 4 (Pendidikan Berkualitas), dan poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

 

Penulis:

  1. Dhamarriyo Utomo
  2. Dzakwan Ataa Demas
  3. Abelina Fristia Shandy
  4. Natasha Gabriella J. Sitompul
  5. Ihsan Maulana Nugroho
  6. Hanna Elvira Agustin Chrisanty
  7. Gayatri Anindya Prasanti

Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses