Probiotik Cokelat Kelor: Nutrisi Super Cegah Stunting, Menginspirasi Ibu-Ibu Desa untuk Cegah Stunting melalui Inovasi Cokelat Kelor

Inovasi Cokelat Kelor
Nasywa Putri Maharani (sedang memegang microphone) selaku penanggung jawab kegiatan sedang memberi arahan cara membuat cokelat kelor probiotik di hadapan ibu-ibu Desa Tonrong Rijang. (Foto: Dok. Penulis)

Sidrap, MMI – Upaya pencegahan stunting terus digencarkan melalui pendekatan edukatif dan inovatif. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Demonstrasi Probiotik Cokelat Kelor yang berlangsung di Kantor Desa Tonrong Rijang, Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menyasar ibu-ibu desa sebagai garda terdepan dalam pemenuhan gizi keluarga, khususnya bagi ibu hamil dan balita (18/01/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya asupan gizi seimbang serta pemanfaatan bahan pangan lokal bernilai tinggi. Cokelat kelor dipilih karena mengandung nutrisi lengkap seperti protein, zat besi, kalsium, vitamin, dan antioksidan yang dikombinasikan dengan probiotik. Semua kandungan itu guna mendukung kesehatan pencernaan dan penyerapan nutrisi secara optimal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Manfaat Mengomsumsi Daun Kelor

Peserta tidak hanya mendapatkan materi edukasi mengenai stunting dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak, tetapi juga praktik langsung pembuatan cokelat kelor probiotik.

Kami menjelaskan terkait pemanfaatan daun kelor sebagai superfood lokal yang mudah diperoleh dan terjangkau, sehingga dapat dijadikan alternatif cemilan sehat bagi anak-anak,” terang Nasywa Putri Maharani selaku penanggung jawab kegiatan.

Inovasi Cokelat Kelor
Penulis (kanan) berfoto bersama Kepala Desa Tonrong Rijang, Haedar. Mereka berdua memperlihatkan hasil olahan daun kelor berupa cokelat kelor probiotik. (Foto: Dok. Penulis)

Respons positif terlihat dari keaktifan ibu-ibu dalam diskusi dan praktik pembuatan produk.

”Selama ini saya cuma tahu kelor dimasak sayur. Ternyata bisa diolah jadi cokelat yang disukai anak-anak. Ini sangat membantu kami para ibu untuk menambah asupan gizi anak supaya tidak mudah sakit,” ujar istri Kepala Dusun (Kadus) Tonrong Rijang.

Istri Kepala Desa Tonrong Rijang turut berkomentar dengan penuh semangat, ”Selain untuk kesehatan anak, cokelat kelor juga punya peluang dijual. Jadi bukan cuma mencegah stunting, tapi juga bisa menambah penghasilan keluarga.”

Baca juga: Daun Kelor dianggap dapat Atasi Stunting

Menanggapi hal itu, Nasywa mengaku senang.

”Melihat antusiasme masyarakat akan ide tersebut, diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesadaran gizi, tetapi juga membuka peluang usaha rumah tangga berbasis pangan lokal. Kami sebagai mahasiswa KKNT Gelombang 115 Unhas siap mendampingi bila ingin mengembangkan produk cokelat kelor ke tahap usaha nyata,” ungkapnya sambil memotivasi ibu-ibu di Desa Tonrong Rijang.

Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa mahasiswa KKNT Unhas berkomitmen mendukung percepatan penurunan angka stunting. Dari dapur sederhana ibu-ibu desa, lahir harapan besar untuk generasi yang lebih sehat.

Inovasi Cokelat Kelor
Foto bersama peserta KKNT beserta ibu-ibu, Kepala Desa Tonrong Rijang, dan masyarakat setempat yang ikut pelatihan pembuatan cokelat kelor probiotik. (Foto: Dok. Penulis)

 


Penulis: Nasywa Putri Maharani

Mahasiswa Agroteknologi, Universitas Hasanuddin


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses