Sepak bola adalah salah satu olahraga paling populer di dunia, yang merupakan salah satu olahraga paling disegani oleh banyak kalangan usia sehingga masyarakat biasa menyebut sepak bola sebagai raja olahraga.
Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan partisipasi global dalam olahraga sepak bola telah menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat cedera, terutama di ekstremitas inferor (bawah). Akibatnya terjadi peningkatan epidemiologi cedera sepak bola, baik atlet profesional dan amatir.
Cedera pada olahraga sepak bola disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa durasi bermain sepak bola yang panjang dapat menyebabkan kelelahan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cedera, khususnya pada sendi pergelangan kaki.
Selain itu, faktor risiko cedera meliputi akselerasi yang sering, perubahan arah secara tiba-tiba, serta gerakan tendangan yang dilakukan secara berulang. Permukaan lapangan juga berpengaruh terhadap risiko cedera pada atlet sepak bola.
Meskipun Fédération Internationale de Football Association (FIFA) mengizinkan pertandingan sepak bola dimainkan di atas rumput sintetis, sebagian besar atlet masih bermain di permukaan rumput alami. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko cedera, terutama pada pergelangan kaki (ankle).
Secara statistik, frekuensi terjadinya cedera sepak bola selama pertandingan rata-rata empat hingga enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan saat latihan.
Chronic Lateral Ankle Instability (CAI) merupakan kondisi berkembangnya defisit klinis dan fungsional pada sendi pergelangan kaki setelah terjadinya cedera pergelangan kaki akut. Ketidakstabilan pergelangan kaki lateral dikategorikan menjadi kronis apabila sendi pergelangan kaki tidak mampu kembali mencapai fungsi normal serta stabilitas mekanik dalam waktu enam minggu pasca cedera.
Kondisi ini umumnya terjadi ketika ligamen pergelangan kaki yang mengalami robekan tidak sembuh secara optimal atau tidak kembali pada tingkat ketegangan yang adekuat, sehingga menyebabkan terjadinya chronic lateral ankle instability (CAI).
Cedera pergelangan kaki pada ligamen anterior talo-fibular (ATFL) merupakan salah satu cedera muskuloskeletal yang paling sering terjadi secara global. Sebagian besar cedera ligamen pergelangan kaki disebabkan oleh mekanisme inversi yang terjadi saat posisi fleksi plantar.
Hingga sekitar 73% cedera pergelangan kaki dilaporkan melibatkan ligamen ATFL. Meskipun sebagian besar pasien dapat ditangani secara efektif melalui program rehabilitasi konservatif, sekitar 15–20% pasien masih mengalami gejala sisa setelah terapi tersebut. Pada kondisi ini, tindakan operatif menjadi salah satu pilihan, khususnya pada pasien dengan ketidakstabilan pergelangan kaki lateral kronis atau ruptur ligamen yang tidak membaik setelah pengobatan konservatif.
Proses rehabilitasi pasca operasi dilakukan secara bertahap, mengikuti fase penyembuhan jaringan ligamen. Pada fase awal atau akut (0-2 minggu pasca operasi), fokus utama fisioterapi adalah mengendalikan nyeri dan pembengkakan. Pada fase ini, struktur ligamen yang direkonstruksi masih sangat rentan terhadap stres mekanik sehingga perlindungan terhadap ankle menjadi prioritas utama.
Intervensi yang umum diberikan meliputi aplikasi kompres es untuk mengurangi inflamasi, elevsi tungkai untuk menurunkan pembengkakan, serta pemberian terapi listrik seperti TENS untuk mengurangi nyeri.
Selain itu, latihan isometrik otot-otot sekitar pergelangan kaki seperti gastrocnemius, soleus, tibialis anterior, dan peroneus diberikan untuk mempertahankan kekuatan dasar tanpa memberikan tekanan berlebihan pada ligamen. Gerakan ringan pada jari kaki dan lutut juga dianjurkan untuk mencegah kekuatan sendi dan menjaga aliran darah tetap optimal.
Memasuki fase subakut, yaitu minggu ke-2 hingga ke-6, nyeri dan pembengkakan mulai berkurang sehingga program rehabilitasi berfokus pada pemulihan rentang gerak (range of motion) dan peningkatan kekuatan otot secara bertahap.
Pada fase ini, latihan ROM aktif seperti dorsifleksi, plantarfleksi, dan eversi dilakukan untuk melenturkan kembali sendi pergelangan kaki. Gerakan inversi masih harus dibatasi hingga struktur ligamen lebih stabil. Latihan penguatan dengan theraband juga mulai diberikan dalam intensitas ringan, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan atlet.
Selain latihan kekuatan, latihan keseimbangan dasar seperti berdiri pada satu kaki menjadi bagian penting untuk melatih propriosepsi, yaitu kemampuan tubuh dalam merasakan posisi sendi. Propriosepsi merupakan salah satu aspek yang hampir selalu terganggu pada cedera ATFL, sehingga pelatihannya sangat penting sejak fase ini.
Pada fase intermediate (6–12 minggu pasca operasi), struktur ligamen telah lebih stabil sehingga program rehabilitasi dapat ditingkatkan. Fase ini berfokus pada peningkatan kekuatan, stabilitas, kontrol neuromuskular, dan kemampuan fungsional dasar.
Latihan resistensi diberikan dengan intensitas lebih tinggi, misalnya menggunakan theraband yang lebih kuat atau latihan penguatan dengan beban tubuh seperti calf raise, single-leg squat, dan step-up. Latihan propriosepsi juga ditingkatkan menggunakan bosu ball, wobble board, atau permukaan tidak stabil lainnya untuk mengembalikan refleks stabilisasi pergelangan kaki.
Pada fase ini, atlet juga diperkenankan memulai jogging ringan di permukaan datar apabila sudah memiliki kontrol gerak yang baik dan tidak ada keluhan nyeri. Tujuan utama fase ini adalah membantu atlet mengembalikan pola gerak yang normal dan mengurangi risiko ketidakstabilan pergelangan kaki di kemudian hari.
Fase lanjutan, yaitu pada bulan ke-3 hingga ke-5, merupakan fase ketika atlet mulai dipersiapkan untuk kembali menjalani gerakan-gerakan yang lebih dinamis dan menyerupai kondisi permainan sepak bola. Pada tahap ini, latihan kekuatan dan kelincahan (agility) menjadi fokus utama.
Plyometric seperti lateral hop, box jump, dan jump-landing control diberikan untuk melatih daya ledak otot dan kemampuan pendaratan yang aman. Latihan agility seperti zig-zag run, shuttle run, dan perubahan arah cepat juga diberikan untuk meningkatkan reaksi dan koordinasi tubuh terhadap berbagai situasi di lapangan.
Secara keseluruhan, program fisioterapi pasca rekonstruksi ligamen ATFL merupakan proses terstruktur dan komprehensif yang berfokus pada pemulihan fungsi pergelangan kaki secara progresif.
Keberhasilan program rehabilitasi tidak hanya bergantung pada latihan yang diberikan, tetapi juga konsistensi atlet, pemantauan yang tepat dari fisioterapis, serta kolaborasi dengan dokter dan pelatih. Dengan program rehabilitasi yang tepat dan disiplin yang tinggi, atlet sepak bola dapat kembali berkompetisi dengan aman dan mampu mencapai performa terbaiknya tanpa risiko cedera berulang.
Penulis: Septia Ramadhani
Mahasiswa Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang
Dosen Pengampu: Lailatul Fitriah, M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












