Media Sosial dan Krisis Sosial dalam Budaya Mendengar

Media Sosial
Ilustrasi Media Sosial (Sumber: MMI)

Media sosial hari ini tidak lagi sekadar ruang komunikasi, melainkan telah membentuk cara masyarakat bersikap dan berpikir. Setiap peristiwa sosial dengan cepat berubah menjadi bahan perdebatan. Namun, di balik derasnya arus pendapat tersebut, muncul persoalan yang lebih mendasar, yakni melemahnya budaya mendengar. Masyarakat semakin fasih berbicara, tetapi semakin enggan memahami.

Fenomena ini menunjukkan perubahan perilaku sosial yang serius. Media sosial mendorong masyarakat untuk bereaksi cepat, bukan berpikir matang. Pendapat disampaikan tanpa upaya memahami konteks sosial yang lebih luas. Akibatnya, perbedaan pandangan tidak lagi diperlakukan sebagai realitas sosial yang wajar, melainkan sebagai pemicu konflik.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ruang publik digital pun berubah menjadi arena saling menegasikan. Secara sosial, kondisi ini memperlihatkan rapuhnya ikatan antarindividu. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk mendengar, empati ikut melemah.

Orang lain dipandang sebatas lawan argumen, bukan sesama warga yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda. Hal ini memperdalam jurang sosial, terutama di tengah masyarakat yang majemuk dan penuh ketimpangan.

Krisis budaya mendengar juga berkaitan erat dengan menurunnya kualitas literasi sosial. Banyak orang mengonsumsi informasi tanpa memahami struktur persoalan yang dihadapi masyarakat. Isu sosial yang kompleks direduksi menjadi narasi singkat yang emosional.

Media sosial mempercepat penyebaran informasi semacam ini, sehingga opini publik terbentuk tanpa landasan pemahaman yang memadai. Di kalangan mahasiswa, situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat tidak terlepas dari pengaruh media sosial.

Baca juga: Pentingnya Logika dan Berpikir Kritis di Era Media Sosial

Diskusi sosial sering kali terjebak pada sikap reaktif dan polarisasi. Alih-alih membangun analisis sosial yang kritis, sebagian mahasiswa justru ikut larut dalam arus opini yang dangkal. Ini menunjukkan bahwa krisis budaya mendengar telah menembus ruang akademik.

Algoritma media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Masyarakat lebih sering disuguhkan pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Perbedaan jarang muncul secara seimbang. Akibatnya, ruang sosial menjadi sempit dan homogen. Ketika perbedaan muncul, respons yang lahir cenderung defensif dan emosional, bukan dialogis.

Dampak sosial dari kondisi ini sangat nyata. Ketegangan antarindividu dan kelompok semakin mudah muncul. Solidaritas sosial melemah karena setiap pihak merasa paling benar dan tidak perlu mendengar yang lain.

Dalam jangka panjang, masyarakat kehilangan kemampuan untuk membangun kesepahaman bersama, padahal hal tersebut menjadi fondasi kehidupan sosial yang sehat. Membangun kembali budaya mendengar bukan sekadar soal etika berkomunikasi, melainkan kebutuhan sosial.

Masyarakat membutuhkan ruang dialog yang memungkinkan perbedaan dipahami, bukan dipertentangkan. Media sosial, meski memiliki banyak keterbatasan, tetap dapat menjadi ruang sosial yang konstruktif jika digunakan dengan kesadaran kolektif.

Sebagai mahasiswa, saya memandang pentingnya mengembalikan fungsi sosial dialog. Mendengar bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab sosial.

Dengan mendengar, masyarakat memberi ruang bagi pengalaman dan realitas yang berbeda untuk diakui. Tanpa itu, media sosial hanya akan memperkuat fragmentasi sosial yang sudah ada. Krisis budaya mendengar adalah cerminan dari persoalan sosial yang lebih luas.

Jika masyarakat terus menormalisasi sikap saling meniadakan, maka ruang publik akan semakin rapuh. Sebaliknya, jika budaya mendengar kembali dibangun, media sosial dapat menjadi sarana memperkuat kohesi sosial, bukan sebaliknya.

 


Penulis: Aulia Fathurrahman
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Sumatera Utara


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses