Psikoedukasi Seru: Remaja SMP Kanigoro Belajar Kendalikan Emosi bersama KKN-PPM Kelompok 41 UMBY

KKN-PPM Kelompok 41 UMBY
Kegiatan Mahasiswa KKN-PPM Kelompok 41 UMBY (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kanigoro, MMI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (Kelompok 41) mengadakan psikoedukasi dengan tema “Emosi Gede? Tenangin Diri, Bukan Lempar Kursi” untuk remaja SMP di Dusun Kanigoro. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman sederhana namun penting: setiap orang punya emosi, tapi cara mengekspresikannya harus sehat (30/07/2025).

Bertempat di rumah Pak Samidi, Dukuh Kanigoro, acara berlangsung hangat dengan format lesehan di ruang tengah. Sejak pukul 18.30 WIB, belasan remaja sudah hadir dengan beragam ekspresi ada yang malu-malu, ada yang sambil bercanda dengan teman.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

Belajar Emosi dengan Cara Santai

Kegiatan dibuka dengan perkenalan unik: setiap peserta menyebutkan nama dan emosi yang paling sering mereka rasakan dalam seminggu terakhir. Jawaban seperti “senang”, “bosan”, hingga “kesal” muncul, bahkan ada yang jujur berkata “ngantuk di kelas” sehingga menimbulkan tawa bersama.

Baca juga: 7 Cara Mengelola Emosi dan Mood agar Hidup Lebih Seimbang dan Bahagia

Mahasiswa KKN kemudian menjelaskan apa itu emosi—reaksi psikologis dan fisiologis yang bisa positif maupun negatif. Mereka juga memperkenalkan istilah emosi besar, yakni emosi kuat yang sulit dikendalikan, seperti marah berlebihan, stres berat, atau kecewa mendalam.

Marah itu wajar, senang juga wajar. Yang penting adalah bagaimana kita mengekspresikannya dengan tepat,” ujar salah satu fasilitator.

 

Kasus Fajar Jadi Cermin

Peserta kemudian diajak mendiskusikan kasus fiktif bernama Fajar, siswa kelas 8 yang awalnya diam saat diejek, tapi akhirnya melempar botol hingga membuat kelas ricuh. Dari kasus ini, remaja diminta menjawab empat pertanyaan: emosi apa yang dirasakan Fajar, apa pemicunya, apa dampaknya, dan apa yang bisa dilakukan agar tidak meledak.

Diskusi berlangsung seru. Seorang peserta menyebut Fajar marah sekaligus sedih karena merasa tidak dimengerti. Peserta lain menambahkan bahwa meski Fajar awalnya korban, cara ia meluapkan marah justru membuat keadaan semakin kacau.

 

Latihan Atur Emosi

Sebagai penutup, fasilitator mengenalkan teknik sederhana mengelola emosi: menarik napas dalam-dalam, menulis perasaan di jurnal, atau berbicara dengan orang terpercaya. Latihan pernapasan pun langsung dipraktikkan bersama. Walau sempat canggung, wajah peserta akhirnya tampak lebih rileks.

Sebelum pulang, mereka menyebutkan hal baru yang dipelajari malam itu. Beberapa di antaranya berkata, “Marah boleh, tapi harus diatur, Aku ingin coba nulis kalau lagi kesal”, dan Aku sadar kalau emosi itu normal, nggak usah malu.”

 

Jejak Bermakna di Dusun Kanigoro

Kegiatan ini menegaskan bahwa psikoedukasi bukan hanya soal memberi materi, melainkan menciptakan ruang aman agar remaja bisa merasa dipahami. “Kami belajar bersama mereka. Judulnya memang agak lucu, tapi pesannya serius: kalau emosi gede, jangan meledak, tenangin diri dulu,” ujar salah satu mahasiswa.

 

Penulis:

  1. Neni Okta Yunianti
  2. Stefani Nadya
  3. Maria Imaculata Depina

Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses