Pernahkan kalian mendengar julukan “Elang Laut dari Belitong”? burung dengan penglihatan tajam, ukuran dan kekuatan sayap, serta kemampuan terbang yang luar biasa. Lalu kemudian siapa yang menyandang gelar kehormatan ini? Tidak lain dan tidak bukan dialah Letkol (PAS) H. AS. Hanandjoeddin.
Mengapa namanya tidak sementereng tokoh-tokoh lain asal Belitung? Bahkan mungkin pudar dibandingkan pamor putih dan halusnya pasir pantai negeri laskar Pelangi yang berkilauan bak sabuk Mutiara.
Seorang pemuda dari daerah kepulauan yang patut menjadi panutan. Sosok yang terus kita perjuangkan sebagai pahlawan nasional atas jasa dan pengaruhnya yang luar biasa. Tak hanya bagi Belitong, namun juga Indonesia.
Bagaimana bisa kita luput atau mungkin lupa akan peran penting seorang HAS Hanandjoeddin sebagai tokoh yang patut menjadi acuan pendidikan karakter bagi anak bangsa? Disinilah sejarah memainkan perannya dalam upaya menata peradaban.
Bagaimana sejarah menjadi cerminan yang memberikan gambaran langkah kedepan, Sejarah menjadi sinar yang menuntun pada jalan yang patut serta menjadi guru yang petuahnya menjadi petunjuk bagi kita untuk menata hari esok.
Mari kita kulik kisah perjuangan sang Elang Laut yang sangat inspiratif. Kisah yang akan menyakinkan kita bahwa keberhasilan tidak hanya didapat melalui sebuah keberuntungan. Keberhasilan merupakan buah dari kerja keras, keberanian, sifat mau belajar dan jiwa pantang menyerah.
Siapa HAS Hanandjoeddin?
HAS. Hanandjoeddin lahir pada 5 Agustus 1910 di Tanjung Tikar, Sungai Samak, Badau, Belitung. Lahir dari keluarga sederhana pasangan Djoeddin dan Selamah. Sejak kecil, ia diasuh oleh ayah angkatnya, H. Hasyim, seorang kenalan keluarga yang tinggal di Aik Sagak, Tanjungpandan.
Ini merupakan reformasi besar dari sang ibu yang menginginkan anaknya menjadi orang yang berpendidikan tidak seperti orang tuanya yang konon bahkan “buta huruf”. Hanan ditempa menjadi pemuda yang bertanggung jawab dan berjiwa pemimpin, melalui beberapa pekerjaan yang di berikan kepadanya sembari sekolah di Tanjungpandan.
Sejak muda, Hanandjoeddin dikenal cerdas, khususnya dalam bidang teknik mesin. Setelah lulus Pendidikan dasar ia menempuh pendidikan teknik di Ambacht School (AC) di Manggar.
Belajar hidup mandiri di jarak 77 km dari rumahnya. Setelah lulus ia juga memperdalam ilmu agama dengan melanjutkan studi di Madrasah Al Islamiyah Tanjungpandan, di sela-sela pekerjaan sebagai teknisi.
Kariernya menanjak saat ditugaskan ke Pulau Bintan sebagai tenaga ahli teknik pada 1935. Pengalaman, keahlian dan bidang Pendidikan yang yang dimiliki mengantarkannya masuk dunia militer di usia 29 tahun sebagai anggota Ozawa Buntai, satuan udara militer Jepang.
Puncak karir militer Hanandjoeddin adalah ketika ia turut membidani terbentuknya kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia, menjabat sebagai Kepala Bagian Teknik Tentara Keamanan Rakyat Oedara (TKRO) di Lanud Bugis, pusat perawatan pesawat militer dan kemanusiaan. Kejeniusannya di bidang mesin-mesin pesawat, serta jasa pentingnya bagi Angkatan Udara Republik Indonesia membuatnya dijuluki Elang Laut dari Belitung.
Saat Agresi Militer Belanda I dan II, ia turun langsung ke medan gerilya. Atas jasanya dalam memimpin pasukan, Presiden Soekarno menganugerahinya gelar Akademi Senter (AS).
Kepemimpinannya tercermin dalam kisah spiritual di hutan Jawa Timur, saat ia disebut berhasil “mengalahkan” ribuan pasukan halus dengan istighfar dan pendekatan tradisi Jawa. Jiwa Melayunya tercermin dalam falsafah: “Perigi orang ditimba, ranting orang dipatah, adat orang diturut” mampu berbaur tanpa kehilangan jati diri.
Usai pensiun dari militer, Hanandjoeddin menjabat sebagai Bupati Belitung melalui jalur aklamasi. Ia dikenal dengan gaya “blusukan”, dekat dengan masyarakat, bahkan sering menjadi khotib sholat Jumat.
Kedekatannya dengan rakyat. Ini membuatnya mendapat julukan “Pak Long” yang merupakan gelar kehormatan dalam budaya Melayu bagi anak sulung yang bijak dan dihormati, yang tutur katanya tegas dan pendapatnya dianggap penting bagi keluarga.
Sang Elang Laut dan Pendidikan Karakter bagi Anak Bangsa
Berkaca dari kisah hidup HAS Hanandjoeddin, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik untuk membangun karakter positif. Bagaimana menanamkan rasa pecaya kepada setiap anak bahwa semua orang yang lahir di dunia pasti memiliki potensi positifnya masing-masing. Penanaman nilai-nilai Pendidikan karakter dapat kita mulai dari mengenalkan tokoh HAS Hanandjoeddin.
Nilai disiplin, mandiri dan kerja keras menjadi nilai yang paling mudah kita lihat, bagaimana seorang anak dari keluarga sederhana rela berpisah berpuluh kilometer untuk menuntut ilmu. Keberhasilan penerapan nilai disiplin pada diri seorang Hanandjoeddin dapat kita lihat dari kemampuannya menangkap materi yang disampaikan disekolah dan ia terapkan dalam kehidupan.
Kehandalan Hanandjoeddin dibidang teknik mesin menjadi bukti kongkrit buah kedisiplinan yang ia terapkan. Nilai disiplin juga dapat kita lihat dari keberhasilannya masuk militer yang terkenal akan disiplinnya.
Pribadi yang relijius, biografi Hanandjoeddin mengajarkan kita pada ketekunannya menuntut ilmu agama, bahkan disela-sela pekerjaan. Nilai ini pula dapat kita lihat pada masa kepemimpinannya sebagai bupati, di mana Hanandjoeddin kerap menjadi khotib sholat jumat. Selain itu kisah penakhlukan pasukan halus di Watulimo juga dapat menjadi pembelajaran akan pentingnya memiliki dasar ilmu agama yang bagus seperti Hanandjoeddin.
Jiwa empati dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Hanandjoeddin dapat kita lihat dari kebiasaannya melakukan “blusukan” saat menjabat sebagai bupati. Seorang pemimpin yang baik akan selalu mengkhawatirkan rakyatnya, khawatir terhadap apa yang diamanahkan padanya.
Baca juga: Konsep Pendidikan Era Society 5.0: Memajukan Inovasi Pembelajaran
Pemimpin seperti ini akan merasakan bahwa jabatan itu beban,dan menjadi pemimpin sama artinya dengan menderita, sehingga akan dengan sepenuh hati menjalankan amanah yang di emban. Pemimpin yang memahami istilah Leiden is Leijden.
Hanandjoeddin memiliki karakter positif yang sangat kuat. Karakter ini dapat kita jadikan sebagai panduan untuk menanamkan nilai Pendidikan karakter positif kepada anak, seperti disiplin, mandiri, kerja keras, relijius, empati dan tanggung jawab.
Teknologi pembelajaran sekarang sudah sangat cukup untuk mencerdaskan anak bangsa, namun penanaman nilai Pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah yang penting.
Bangsa yang besar bukan hanya karena otak cemerlang warganya, tetapi karena masih adanya hati yang terdidik untuk jujur, tangguh, dan peduli. Di sanalah pendidikan karakter menemukan urgensinya.
Jika selama ini kebanyakan dari kita mungkin mengetahui nama Hanandjoeddin adalah nama dari sebuah bandar udara saat menapaki langkah pertama di pulau Belitung. Kini kita tau bahwa langkah yang pernah dipijakan kaki seorang Pak Long bukan langkah biasa.
Langkah yang hanya mampu dicapai oleh mereka yang punya tekad yang kuat, konsisten dan disiplin sejak kecil. Bak cenayang yang mampu memprediksi bahwa masa depan cerah hanya akan menyinari mereka yang mau keluar dari zona nyaman dan berusaha tanpa luput dari doa. HAS Hanandjoeddin adalah tokoh besar dari bumi Serumpun Sebalai.
Penulis: Rigo Firmanto
Guru Sejarah di SMK Negeri 1 Mendobarat, Prov Kepulauan Bangka Belitung
Referensi
Atmaja, Eddy Jajang Jaya. 2017. Perjuangan H AS Hanandjoeddin: Dari Tanjungtikar untuk Indonesia. (diseminarkan pada Seminar Nasional Pengajuan H AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional: Dari Belitong untuk Indonesia, di Ballroom Billitone Tanjungpandan, 25 April 2017)
Budisantoso, s. dkk. 2008. Nilai Budi Pekerti Dalam Pantun Melayu. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan
Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo
Swastiwi, Anastasia Wiwik, dkk. 2018. Inventarisasi Tokoh Sejarah dan Budaya Wilayah Kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau. Tanjungpinang: BPNB Kepulauan Riau.
Wirayudha, Randi. 2022. Hanandjoeddin Perintis di Tengah Keterbatasan. Historia.id. https://www.historia.id/article/hanandjoeddin-perintis-di-tengah-keterbatasan-drr3l. Diakses tanggal 15 Juli 2025.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














