Rehabilitas, Stigma Publik, dan Dunia yang Kejam

Narkoba
Rehabilitas, Stigma Publik, dan Dunia yang Kejam

Rehabilitas adalah suatu hal yang banyak orang awam belum ketahui, pasalnya rehabilitas ini masih dilakukan secara tertutup demi menjaga psikologis yang direhab sekaligus menjaga nama baik keluarganya.

Walaupun yang direhab ini adalah orang yang bersalah di mata hukum, namun ia juga mempunyai hak untuk mendapat kenyamanan dan hak mendapat kehidupan yang layak tanpa adanya pembulian dan perundungan dari masyarakat.

Terkadang dengan kondisi tersebut membuat banyak orang menjadi bingung karena adanya kontradiksi dari kedua pernyataan di atas. Orang yang direhab artinya orang yang bersalah atas tindakan kejahatan yang dilakukannya, sedangkan ia juga adalah warga negara yang pantas untuk dimanusiakan dan tidak untuk dicemooh di masyarakat yang terkadang masyarakat geram dengan perilakunya di publik.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Rehabilitasi Narkoba: Definisi, Metode, dan Manfaatnya

Untuk yang belum pernah direhab atau mungkin pernah mendengar habtoor, itu sebenarnya background kehidupan di mulai dari orang yang ekonomi bawah sampai orang yang ekonomi atas.

Di tempat rehab juga ada warga asing bahkan warga negara yang direhab dengan segala macam hal yang complicated sekali tapi sebenarnya bukan niatnya untuk membanding-bandingkan namun terkadang itulah yang terjadi di tempat rehab.

Di sana juga masih sering terjadi rasisme antara kaum ekonomi bawah dan ekonomi atas yang perlakuan petugas ke orang yang ekonomi atas lebih spesial dibandingkan yang ekonominya bawah. Lalu bagaimana mental psikologis mereka bisa pulih?

Tapi sebenarnya orang-orang kaya atau mungkin sejawat-sejawat kita yang pernah terjerat kasus yang mengharuskan untuk direhab itu beritanya di mana-mana.

Sebenarnya buat mereka bagian pemulihan atau bagian penyembuhan yang paling berat itu adalah menghadapi orang di luar sana di dunia sesungguhnya. Nanti ujiannya kalau kata konselor atau kata dokter ujian sesungguhnya nanti di luar akan berhadapan lagi dengan dunia yang kejam ini.

Di tempat rehab juga biasanya ada dokumentasi dari pihak RSKO atau ada orang yang direhab yang diperbolehkan membawa handphone, namun tentunya tidak semua orang ingin track record-nya mengenai nafsu atau mengenai drugstore diketahui orang lain dan atau mungkin dianya oke tapi bisa jadi istrinya, keluarganya, anaknya mungkin tidak terima.

Sekali lagi menunjukkan bahwa memang stigma dari orang yang menggunakan drug ataupun suksesnya sebegitu pentingnya itu sebegitu kuat bahkan kalau misalnya orangnya siap keluarganya belum tentu.

Baca Juga: Pentingnya Tidak Menyalahgunakan Narkoba

Kedua hal yang berbeda dan memang terasa kalau misalnya di bukti dijabarkan secara medis dan secara biologis memang drug bereaksi itu didesain untuk menimbulkan rasa enak.

Sebenarnya yang problematik dan bermasalah dari drug itu sendiri adalah hikmahnya, hikmahnya jika misalnya dibilang drug membunuhmu sama seperti iklan rokok membunuhmu. Tetapi jika berbicara tentang buruknya narkoba kita bisa ngomong seharian mengenai efek buruk narkoba dan itupun ada perdebatannya lagi jadi jika mengenai efek buruk narkoba.

Terlepas dari apapun efek buruk narkoba, salah satu yang paling parah itu adalah stigma. Stigma dari pada narkobanya itu sendiri karena dibilang orang yang mau sembuh itu seperti tidak bisa diterima begitu cepat entah itu keluarga entah itu lingkungan atau bisa jadi diri kita sendiri yang belum bisa menerima keadaan.

Namun alangkah baiknya kita memperbaiki diri dan menjauhi hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, karena jika telah masuk ke lingkaran narkoba maka konsekuensi yang bisa di dapat seumur hidup.

Penulis:

Zaharani Febi Ayu
Mahasiswa Manajemen
Universitas Katolik Musi Charitas

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI